headnya

Friday, September 23, 2005

UNIVERSALISME CINTA DAN GLOBALISASI PALSU

Teilhard de Chardin, ilmuwan evolusi dari Prancis yang tersohor ternyata telah memberi banyak inspirasi bagi ahli-ahli globalisasi. Karya-karyanya memberi inspirasi, misalnya pada Marshall Mc Luhan, yang bergulat dengan masalah komunikasi global, yang nantinya memberi inspirasi bagi terciptanya istilah ‘global villages’. Juga pada Kenneth Boulding, ekonom dari Universitas Colorado, yang pertama kali mencoba membuat analisis tentang struktur ekonomi global. Dan ahli yang terang-terangan mengakui pengaruh Teilhard adalah Michel Camdessus, mantan direktur IMF.

Karena inspirasi Teilhard, Camdessus yakin, bahwa dengan globalisasi manusia akan mencapai kesatuan yang mengatasi perbedaan. Namun sekaligus ia juga mengakui, bahwa globalisasi mempunyai sisi gelap yang dapat menekan kita. Kepercayaan dasar Teilhard kendati Perang Dunia Pertama terjadi adalah dunia akan berjalan menuju pada kesatuannya. Menurutnya evolusi akan mencapai fase terakhir, dimana individu-individu bersama-sama membentuk suatu unifikasi global.

Quo universalius, eo divinus: dimana pribadi menjadi makin universal, disanalah ia menjadi makin ilahi. Itulah kepercayaan dasar Teilhard tentang evolusi yang menuju kesatuan universal. Dari sana jelas, universalisme harus mengantar manusia menjadi makin spiritual dan ilahi. Universalisme demikian membebaskan manusia dari apa saja yang membatasi dirinya, terutama kebendaan. Dalam universalisme itu, manusia menemukan kebebasannya dan dengan kebebasannya itu ia bertindak, mencipta dan berpikir.

Bagi Teilhard, Perang Dunia Pertama adalah awal dari globalisasi: manusia terjerumus ke dalam perang, tapi justru karena itulah mereka sama-sama mencita-citakan kesatuan, perdamaian dan persaudaraan yang global. Tampak dalam pandangan Teilhard, evolusi menuju unifikasi global itu bukan meniadakan dunia, melainkan menyempurnakan dunia dan menyatukannya dengan pleroma (kesatuan dan kesegalaan). Dunia yang menghancurkan dirinya dengan perang bukan harus makin dibenci melainkan harus dicintai.

Dari pendapat Teilhard di atas, cita-cita globalisasi rasanya sulit dibandingkan dengan cita-cita universalisme evolutif. Kesemestaan sejati yang dicita-citakan universalisme bukanlah tujuan dari globalisasi. Globalisasi ingin menyejahterakan manusia hanya pada bidang ekonomi saja. Globalisasi juga membuka peluang yang dapat mengantar manusia ke dalam persaingan yang sengit, merobek-robeknya dengan kebendaan dan konsumerisme. Sementara tujuan kesemestaan sejati bukanlah pertama-tama kebendaan dan kemajuan ekonomi, melainkan kesempurnaan manusia dalam satu persaudaraan global di mana manusia sanggup menghilangkan diri bagi sesamanya. Jadi kesempurnaan itulah semacam kesatuan cinta. Sifat kesatuan bukanlah material melainkan spiritual.

Meskipun globalisasi tidak bias dihindari, namun kita mesti curiga dan waspada. Bisa terjadi, globalisasi bukanlah menyatukan melainkan memecahkan. Globalisasi berjanji hendak mengangkat derajat yang particular dan local ke dalam yang umum dan global. Maka keluarlah slogan: makin global makin local dan globalisasi tak lain adalah lokalisasi. Aku meragukan hal itu. Globalisasi yang diidentikkan dengan lokalisasi justru harus dilihat sebagai sebentuk ungkapan baru yang mempopularisasikan penduduk dunia ini ke dalam kelompok kaya yang global dan kelompok miskin yang local.

Jadi justru dengan glokalisasi (global yang melokal) globalisasi mengandung potensi untuk mengeksklusifkan kelompok satu dari lainnya, individu satu dari lainnya. Segala ketegangan dan problem dunia tidak lagi terjadi ‘di luar’ tapi ‘di dalam’, di pusat hidup seorang individu sendiri.

Benarkah globalisasi akan membebaskan manusia dari keterikatannya? Inilah problem universalisme yang dihadapi globalisasi. Contohnya adalah masyarakat Barat sendiri. Universalisme adalah retorika yang digunakan masyarakat Barat untuk membenarkan globalisasi yang mereka pelopori. Seharusnya masyarakat Barat menerapkan universalisme itu tanpa kompromi. Ternyata tidak! Ambillah contoh, di bidang hak asasi manusia. Di negaranya, di teritorialnya, masyarakat Barat memperlakukan nilai dan norma secara total dan tanpa kompromi. Tetapi di luar negaranya, di luar teritorialnya mereka bias mengkompromikan nilai dan norma itu dengan pelbagai cara. Apalagi jika mereka mempunyai kepentingan bisnis, mereka dengan penuh ‘toleransi’ membiarkan nilai dan norma itu dilanggar. Inilah standar ganda masyarakat Barat dalam hak asasi manusia. Ini membuktikan, bahwa masyarakat Barat masih memberlakukan prinsip moral dan kaitan dengan ‘kedekatan’ dan ‘kejauhan’ jarak. Padahal katanya, dengan prinsip universalismenya, globalisasi sudah tidak memberlakukannya lagi. Itulah universalisme yang munafik dari globalisasi yang dipelopori oleh masyarakat Barat.

Apakah globalisasi telah gagal? Lihat saja nanti! Aku yang telah menolak globalisasi sejak awal akan melihat, bahwa globalisasi justru akan menjauhkan orang dari sesamanya. Nggak ada lagi uluran tangan. Tidak ada lagi kepedulian. Kaum miskin yang paling membutuhkan uluran solidaritas akan makin terisih. Karena itu jika tidak bias menyelamatkan kaum miskin yang terlokalisasi, globalisasi di abad ke-21 ini sebenarnya hanyalah ulangan dan lanjutan dari apa yang dikhawatirkan: Jangan-jangan globalisasi hanyalah garapan baru dari lagu lama tentang penjajahan dari mereka yang kuat terhadap mereka yang lemah, yang sudah dimulai lima ratus tahun lalu oleh ekspedisi Vasco da Gama dan Christopher Colombus.(obw)***

(disadur seperlunya dengan pengeditan ulang dari Majalah BASIS 2003)

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home