headnya

Friday, September 23, 2005

Ketika Agama Tidak Lagi Ber-Tuhan

Suatu malam ketika si kecil sedang menonton TV, ia mendekati bapaknya yang sedang membaca koran sambil menunjuk sepatu yang sedang diiklankan. Ia merengek sambil menentukan syarat, yaitu sepatu itu harus sama dengan iklannya di TV. Tidak lama kemudian, kakak perempuannya tidak mau kalah, sambil menunjukkan iklan baju di majalah remaja kepada bapaknya, ia juga minta baju baru beserta asesorisnya. Pemandangan demikian tidak akan lengkap bila tidak ada adu argumentasi antara orang tua dengan anak. Namun itu pun tidak cukup, situasi ini semakin ramai saja dengan debat keluarga antara bapak dan ibu mengenai pengeluaran yang membengkak.
Pemandangan di atas kerap terjadi bahkan tidak hanya di Indonesia saja, namun juga di negara belahan dunia lainnya. Mendekati hari raya apakah itu Idul Fitri pada bulan ini atau Natal pada bulan Desember nanti, pemandangan keluarga seperti di atas akan kerap ditemui. Tidak sekedar menemui ruang dimana diskusi keluarga akan berlangsung, namun juga akan ditemui nilai dari faktor konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi ketika keputusan diambil, maka akan menyisakan pula pelajaran untuk menerima kekalahan atau bahkan mungkin pula mengobral kemampuan.
Tidaklah salah, bila produk dari budaya konsumerisme itu ada, toh itu pun juga dipicu oleh media massa beserta iklan yang menempelnya. Tidak juga oleh media massa saja, namun juga kejelian investor untuk menanamkan modalnya dalam bentuk mall, supermarket sampai hypermarket yang kini juga merambah di kota-kota kecil di daerah.
Produk massa yang dikeluarkan untuk membentuk pola konsumerisme tersebut diyakini membentuk pula nilai simbolik yang sedang dikejar oleh masyarakat konsumer. Dengan demikian apakah Tuhan yang kekal tersebut bisa tergantikan oleh ‘tuhan’ yang kini sedang dikejar pula oleh manusia?
Baudrillard (1993), pemikir postmodernisme yang pernah membantah pemikiran Karl Marx tentang analisis masyarakat produksi, meyakini bahwa nilai-guna dan nilai-tukar tidak lagi berguna. Baudrillard lebih setuju pada era kejayaan nilai-tanda dan nilai-simbol yang ditopang oleh meledaknya citra dan makna oleh media massa dan perkembangan teknologi. Sesuatu tidak lagi dinilai berdasarkan manfaat dan harganya tetapi oleh prestise dan makna simbolisnya.
Teori mengenai masyarakat produksi di atas tentu berbeda dengan Karl Marx yang berpendapat lewat konsep-konsep nilai guna (use-value), nilai tukar (exchange-value), fetishism of commodity, social class, teori gift miliknya Marcel Mauss dan teori expenditure-nya Georges Bataille.

Agama dan Fesyen
Hari-hari menjelang hari raya biasanya menjadi lahan empuk bagi pengiklan untuk mengiklankan produknya di media. Di tengah-tengah masih diperdengarkannya ayat-ayat suci Al-Quran saat bersantap buka maupun sahur, iklan tidak henti-hentinya membombardir pikiran pemirsa dengan aneka ragam produk beserta kemewahannya. Nilai-nilai simbolik dalam produk pun terungkapkan melalui copy maupun visual yang mempengaruhi emosi massa. Dalam hal ini antitesis tentang perubahan perilaku agamis ke perilaku konsumeristis membentuk suatu tingkatan phenotypal (tingkatan pembentukan tubuh). Tubuh direduksi sedemikian rupa selain menerima akidah dan kaidah dalam hukum agama juga ‘dipaksa’ untuk menerima replikasi dalam beragama yang sudah berubah wujud menjadi sebuah fesyen.
Oleh karena itulah, tidak mengherankan bila agama pun bisa dijadikan fesyen. Orang baru beramai-ramai mengingat Tuhan ketika bulan Ramadhan tiba. Selebritis juga baru ingat fakir miskin dan anak-anak terlantar ketika hal itu juga mendongkrak brand image-nya yang ditayangkan program infotainment di TV. Masjid pun terpenuhi kapasitasnya dan orang mulai beramai-ramai berdzikir. Hal demikian pasti akan terulang lagi ketika bulan Desember nanti Natal dirayakan oleh umat Nasrani. Umat yang dulunya jarang ke gereja segera akan mengenakan kembali baju agamanya untuk mengejar fesyen yang sedang berjalan di hari Natal.
Pilihan tersebut tidaklah salah dalam perilaku berbudaya apalagi memang begitulah adanya manusia dalam membentuk tingkatan phenotypal tadi yang mereplikasi agama dalam pikiran mereka meskipun bukan secara hakiki mereplikasi secara berurutan dengan pas urutan nukleotida mereka. Fenomena fesyen pada subkultur memberi sebuah tanda, yaitu sebagai upaya diferensiasi atau membangun identitas diri dan sebagai satu bentuk daur ulang citra-citra. Hal inilah yang mendukung terjadinya phenotypal pada hari-hari menjelang hari raya.
Makna simbolik dan prestise yang bersembunyi di balik barcode harga menjadi suatu subjek yang mengeksternalisasikan dirinya melalui penciptaan objek-objek untuk menghasilkan diferensiasi dan kemudian menginternalisasikan nilai-nilai ciptaannya melalui proses sublasi atau pemberian pengakuan. Di sinilah proses sosial masyarakat akan nampak pada budaya bersalam-salaman yang tanpa apriori akan terjadi saling memberi pengakuan di balik produk yang dikenakan di samping secara tulus bermaaf-maafan.
Arus mudik juga akan menjadi bagian dari objek konsumsi sebagai suatu sistem diferensiasi yang terdiri dari sistem pembentukan perbedaan status, simbol dan prestise sosial. Sistem demikian ini menjadi penanda kedatangan masyarakat konsumer, masyarakat yang haus mengkonsumsi segala sesuatu tidak hanya object-real, namun juga objek-tanda. Daerah pun juga akan menikmati perputaran uang yang pada akhirnya memanen semua potensi yang ada setelah sekian lamanya ditinggalkan menuju kultur kota.
Agama dan fesyen menjadi satu hal yang tak terpisahkan ketika hari raya keagamaan datang. Tak bisa dipungkiri lagi, bahwa hilir mudiknya informasi dalam bentuk iklan dengan memanfaatkan momen-momen penting keagamaan menjadi kemudahan dalam mengkonsumsi tanda maupun simbol sebagai lambang status sosial. Masyarakat yang mengkonsumsi tanda inilah masyarakat yang hidup dengan kemudahan dan kesejahteraan yang diberikan oleh perkembangan kapitalisme lanjut, kemajuan ilmu teknologi, ledakan media dan iklan. Tanda menjadi salah satu elemen penting bagi masyarakat konsumer.

Agama Baru
Masyarakat post-industry yang dicirikan oleh komunikasi, produksi dan konsumsi melimpahruah dalam bentuk iklan, televisi, fesyen dan sebagainya itu membuat kesadaran masyarakat atas segala jenis penanda, segala jenis makna menjadi sangat terbuka namun tidak dapat lagi merefleksikan kembali makna tersebut dalam kehidupan spiritualnya.
Toh, fungsi mobil pada hari raya keagamaan seperti menjelang Idul Fitri tidak lagi dilihat sebagai fungsi guna kemudahan transportasi, namun kehadirannya juga sebagai simbol makna keberadaannya diakui. Produk global lainnya juga memiliki fungsi serupa sebagai makna tanda dan masyarakat sebagai masyarakat konsumer sedang berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Hal demikian bila dibiarkan berlarut-larut akan memberikan inspirasi membuat ‘agama baru’, meski ‘agama’ itu tidak lagi ber-Tuhan.
Menjadi konsumtif tidak salah, namun bila ‘budaya’ konsumtif hingga membuat konsumerisme menjangkiti masyarakat yang sedang euphoria, maka bukankah kita sedang berada di tengah-tengah masyarakat yang beragama baru? agama konsumerisme skizofrenik!, sebuah pandangan ‘agama’ yang selalu mengkonsumsi produk sebagai wujud imbal balik dalam riuh rendahnya informasi produk, hilir mudiknya promosi iklan serta ramainya lintasan merek yang ada di benak konsumen. Tidak ada yang harus bertanggung jawab dalam hal ini, kecuali kesadaran kita untuk tetap kembali pada definisi yang hakiki makna hari besar keagamaan.(obw)***

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home