headnya

Tuesday, September 27, 2005

MENGENAL AKSI SENIMAN URBAN

oleh : Agung Puspito



Kota adalah pusat peradaban manusia. Ia ditandai dengan intensitas pergaulan warganya yang tak sebatas lokal, tapi juga nasional, bahkan global. Warga kota, kaum urban itu, juga amat beragam dalam hal profesi. Ada pedagang, birokrat, pendidik, buruh, intelektual, seniman.
Siapakah yang disebut paling akhir? Seniman urban atau perupa urban, jelas akrab bergaul dengan seni rupa urban. Ketua Jurusan Seni Murni Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Tri Aru Wiratno, SSn menjelaskan lebih jauh. “Seni rupa urban berhubungan dengan masalah budaya kota, di mana terjadi akulturasi lokal maupun internasional. ”
Menurut Tri Aru, masalah budaya kota adalah, “bagaimana karya seni rupa berinteraksi dengan masyarakat sosial budaya kota. Jadi, perkembangan suatu masyarakat berkaitan dengan kultur masyarakat lokal dan internasional. ”

Seni rupa urban mengambil bentuk-bentuknya yang khas berupa grafiti, poster, mural, komik, bill board, bahkan pamflet-pamflet politik dan produk massal seperti T-shirt. Toh, pilihan medium amat bergantung pada perupa yang bersangkutan. Ada seniman urban yang tetap membuat lukisan cat minyak di kanvas tapi dengan tema-tema kehidupan kota. Contohnya, pelukis Melodia dari Yogyakarta dengan lukisan-lukisan kendaraannya.

Lalu, meski tak selalu, para perupa urban kerap menyuarakan masalah-masalah sosial atau politik. Yang jelas, seruan mereka merupakan ekspresi individual terhadap problem-problem yang dihadapi. Mereka pada umumnya merasa berhak membuat karya seni di tempat-tempat umum, karena merasa ikut memiliki tempat-tempat tersebut. Toh, kecenderungan ini tak menafikan bahwa beberapa karya terbaik perupa urban justru dipajang di galeri-galeri, bahkan di balai lelang lukisan.

Masalahnya, setiap kota punya karakteristik seni urban yang berbeda-beda. Jika hampir setiap kota di Indonesia seperti berlomba-lomba meraih predikat sebagai kota seni dan budaya, para perupanya punya pandangan tersendiri mengenai seni rupa. Seni urban di Yogyakarta digelar bebas di jalan-jalan. Salah seorang eksponennya bernama Heri Dono. Ia memanfaatkan figur-figur visual dari seni pertunjukan tradisional yang populer, wayang, sebagai sarana komunikasi di antara khalayak ramai.
Menurut Tri Aru, kultur para seniman urban Yogya kekeluargaan dan tampak bergabung dalam komunitas-komunitas, tapi dalam berkesenian cenderung idealis dan individual. Secara institusional, “yang berperan besar tentu saja Institut Seni Indonesia (ISI), ” kata Tri menyebut perguruan tinggi seni terkenal di Yogyakarta.

Adapun komunitas yang populer adalah Apotik Komik, kelompok seniman yang menggambari dinding-dinding kayu di pinggir jalan. Didirikan pertama kali oleh Samuel Indratama pada 1997, Apotik Komik berkembang menjadi perkumpulan penting yang menghasilkan karya-karya humor yang mengomentari kondisi sosial-politik Indonesia.
Salah seorang anggota kelompok ini, Arie Dyanto (31 tahun), juga bergabung dengan para seniman komik underground. Ini jenis komik yang tak diterbitkan secara resmi oleh penerbit tertentu, biasanya dititipkan untuk dijual di kampus, dan tempat-tempat lain. Tapi, perupa urban yang pernah berpameran tunggal di Jerman (2001) ini juga bekerja dengan berbagai media, seperti lukisan, grafiti, cukilan kayu, mural, dan neon box.

“Kembalikan (kepada publik) istilah ‘ruang publik’ yang telah diselewengkan pemerintah, kelompok-kelompok radikal, dan partai-partai politik, ” Arie sempat melontarkan hal ini. Ia bicara soal dinding-dinding di jalan (ruang-ruang publik) yang selama ini hanya dipenuhi plakat-plakat milik ketiga kelompok yang dimaksud. Penulis Diana Yeh dari Inggris menyebut karya-karya Arie menjelajah masalah-masalah kontemporer masyarakat Indonesia. Karya-karya finalis Indonesia Art Awards 2001 ini juga cenderung mengeksplorasi pencarian identitas diri dalam dunia global.
Pengkajian terhadap komik juga dilakukan secara serius di Bandung. Dipelopori institusi paling top di sini, Institut Teknologi Bandung (ITB), pengkajian mencoba menemukan identitas visual komik Indonesia dan strategi pengembangan industrinya di tengah maraknya gaya visual komik Jepang. Harap maklum, masyarakat telah menerima dominasi komik Jepang, terutama jenis manga, dalam keseharian mereka, lebih dari komik-komik kreasi lokal.

Tak heran jika penulis Seno Gumira Ajidarma, dalam sebuah artikel di KCM (2004), mengemukakan, “Bisakah Anda bayangkan misalnya, bahwa telah terbit, buku How to Draw & Create Manga (sic!) misalnya, yang isinya sangat berguna untuk mempelajari teknik menggambar manga, yang dengan mudah akan kita sangka sebagai buku terjemahan dari Jepang, karena nama penulisnya ‘sangat Jepang’, tapi biodatanya menunjukkan bahwa Tatsu Maki lahir 6 Maret 1975 jam sepuluh pagi ketika hujan sedang lebat-lebatnya, bukan di Tokyo melainkan di Bandung tea?”
Akan halnya ITB, lembaga ini memang dikenal amat membuka diri terhadap teknologi asing, termasuk gaya-gaya seni Barat maupun Timur. Salah seorang alumnusnya, Irwan Darmawan alias Iweng, memanfaatkan surealisme dan ekspresionisme yang jelas-jelas gaya Barat untuk melukisi dinding-dinding di sebuah jalan di Bandung. Ia melakukannya dengan medium cat minyak.

Bagaimana dengan Jakarta? Tak seperti di Yogyakarta, ketika para senimannya tampak bebas menggelar karya-karya mereka di jalan-jalan, di ibu kota karya-karya urban macam grafiti atau mural sepertinya tak mendapat dukungan pemerintah setempat.
Salah satunya, mural di kaki jembatan di Jl Rasuna Said. Lukisan dinding bermuatan pesan antikekerasan oleh media massa itu dihapus dan diganti cat putih oleh aparat Pemda Daerah Khusus Ibukota (DKI). Menurut pejabat Pemda yang bersangkutan, lukisan itu mengandung pornografi dan Pemda tidak menerima adanya lukisan “yang tidak senonoh” (Kompas, 14/8/01).
Mural di jalan-jalan utama itu bagian dari perhelatan seni urban tahunan yang dipelopori IKJ, Jak@rt. Tampaknya, karakter seni rupa Jak@rt mencerminkan watak seniman urban Jakarta pada umumnya.

Kita melihat karya-karya mural atau grafiti mereka di dinding-dinding, biasanya tanpa nama senimannya. Lalu, dalam semalam, karya mereka dihapus aparat. Seni urban perlu berjuang agar dapat diterima salah satu komponen masyarakat urban.
Tri Aru sendiri mengakui institusi IKJ mewakili seni urban Jakarta, tapi tanpa eksponen atau nama-nama tokoh perupanya. “Yang berlaku adalah sistem, bukan personel, ” ujar Aru, menambahkan bahwa tokoh-tokoh IKJ tak terpublikasikan, tapi mereka ada.
Yang ia maksud dengan sistem adalah mekanisme perkembangan kota. Sistem kesenian urban di Jakarta bisa berjalan, dengan syarat, apabila mekanisme yang terkait dengan berbagai pihak mulai berperan. “Mekanisme ini berkaitan dengan sistem lain, misalnya, swasta, pemerintah, maupun masyarakat, ” ungkap Aru. “Di sini ada galeri, investasi asing, akumulasi kapitalistik, bisnis, kolektor, Pemda, departemen kebudayaan, ada khalayak. ”
Sambil membenarkan bahwa Pemda tak punya peranan yang mendukung seni urban, Aru menyebutkan bahwa yang banyak menentukan justru masyarakat. Peran masyarakat, sebut Aru, “lebih kepada cinta akan keindahan. ”

Masalahnya, memang, seluruh warga masyarakat perlu belajar serba sedikit pengetahuan tentang seni jika mereka mau bicara soal salah satu unsur budaya manusia ini. Tujuannya, agar tak ada penafsiran sepihak soal seni.
Tampaknya, pemerintah lokal masih mau belajar soal itu. Berawal dari “perang” poster-poster iklan maupun partai politik di fondasi jembatan-jembatan layang yang bikin gerah Pemda. Akhirnya, pemerintah DKI sendiri angkat bicara. Gubernur Sutiyoso menegaskan, dinding fondasi sebaiknya dihiasi dengan mural. Pemprov DKI mengizinkan pembuatan mural asalkan lukisan itu tak menimbulkan kesan jorok.
“Saya memberikan kesempatan kepada seniman-seniman untuk memperindah kota ini dengan aneka lukisan. Tetapi, gambarnya harus bersifat mendidik, " ujar Sutiyoso seperti dikutipkan KCM (8/4/04). Yang ia maksud adalah, “gambarnya bernuansa flora dan fauna”.

Nasib grafiti kurang lebih sama. Kreasi seni di jalan-jalan ini kerap direpresi sehingga ia tak ubahnya kegiatan gelap atau underground. Para senimannya musti main kucing-kucingan dengan aparat Pemda jika ingin membuat grafiti --mereka sebut ngebom-- di suatu lokasi pada malam hari.
Sesungguhnya, Amerika Serikat --diketahui sebagai negeri asal kebudayaan grafiti, semula juga menganggap grafiti aksi kriminal penjahat jalanan maupun aktivis politik. Tapi, pada awal 1970-an koran New York Times mulai memperkenalkan kehadiran seniman grafiti bernama TAKI 183. Ini adalah julukan bagi seorang anak bernama Demetrius asal Washington Heights yang beralamat di nomer 183. Menurut penulis Andrea Ruttan, Demetrius dianggap sebagai seniman pertama di bidang seni penulisan dinding yang mencerminkan faktor-faktor kedaerahan dan gaya individual tersebut.

Bagaimana menemukan karya-karya seni urban di Jakarta? Adalah Hary Purnomo alias Ponk Q (35 tahun), perupa urban yang juga pernah mengenyam pendidikan di IKJ, memberi tahu bagaimana menemukan karya yang dimaksud --disebut “piece”. “Tempat-tempat di mana terdapat piece di Jakarta tidak kelihatan, kecuali jika kita menelusuri jalan-jalan di pelosok ibu kota, ” kata Finalis Indonesia Art Awards 2001 ini.

Ponk Q sendiri mengerjakan billboard, salah satu bentuk aplikasi dari seni urban. Karya-karyanya antara lain, reklame Coca-cola di Cibitung, Bekasi, yang dibuat dengan media air brush. Seperti hampir semua karya Ponk-Q, iklan minuman ini adalah hasil kerja tim yang melibatkan tiga-empat orang --kebanyakan teman-temannya sesama warga IKJ.
Tinggal di Jakarta Selatan, ilustrator yang putera seorang perwira TNI Angkatan Darat ini juga pernah mengerjakan mural bagi Rumah Sakit Kesdam khusus anak-anak di Aceh. Semula, para relawan asing pasca-musibah tsunami mencoba membuat gambar-gambar yang cocok buat anak-anak. Tapi, dokter-dokter bule itu bukan pelukis, hasilnya kurang memuaskan. Akhirnya, Ponk Q pun dihubungi untuk melukisi interior rumah sakit tersebut, yang ia selesaikan pada awal 2005 ini.

Selain membuat billboard, perupa berdarah Jawa Tengah-Madura ini pun sering menangani perumahan, misalnya, memenuhi pesanan rumah tinggal pribadi. “Yang paling sering buat anak-anak, ” katanya, sambil menambahkan ia juga pernah mengerjakan poster pertunjukan teater.
Ponk Q mengaku gemar menggambar sejak kecil. Ia menggambar di mana saja, di dinding, kamar, dan di benda apa saja. Seolah menunjukkan jati dirinya sebagai seniman uban, jejaka berpenampilan dandy ini juga memenuhi sepeda motornya dengan beragam hiasan mengunakan medium akrilik.
Pada akhirnya, seniman urban tak musti berkarya menggunakan medium minim. Pelukis Dede Eri Supria (49) justru menggunakan cat minyak dengan teknik amat realis untuk mencipta karyanya berjudul Too Late (2002). Pelukis kelahiran Jakarta ini mengangkat tema global dengan menggambarkan tokoh komik asal AS, Superman, tertunduk lesu tak berdaya menyaksikan meledaknya menara kembar WTC di New York.

Dede seperti hendak menunjukkan arogansi negara adidaya yang selalu mau jadi “polisi dunia” dengan memelototi sambl mengangkangi negara-negara lain. Nyatanya, justru di jantung peradaban negara itu keamanan seperti tak berfungsi dengan lolosnya sebuah pesawat nekad; meski akibat kejadian itu pemerintah AS semakin ngawur dengan merusak infrastruktur negara-negara di Asia --termasuk sebuah waduk yang amat vital bagi rakyat di Afganistan.

Reputasi Dede sebagai perupa urban tak diragukan lagi. Selama ini ia nyaris melulu melukis kehidupan rakyat kecil di ibukota, bahkan melukis potret dirinya dengan latar perumahan kumuh di bantaran kali. Ia seperti mengingatkan warga urban bahwa masalah kota tak bisa ditangani hanya oleh segelintir orang saja, betapa pun berkuasanya yang segelintir itu.


diambil dari website-nya yasri.com

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home