<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878</id><updated>2012-02-16T01:51:48.540-08:00</updated><category term='Visual Culture'/><category term='Book'/><category term='Art and Design'/><category term='Me and Family'/><category term='Social Justice'/><category term='Art Design'/><title type='text'>bergerilya</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>78</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-3136224935315351945</id><published>2009-01-03T00:14:00.000-08:00</published><updated>2009-01-03T00:19:21.470-08:00</updated><title type='text'>LASTRI DAN BENDERA MERAH PUTIH</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;”Dalam kesadaran, ada perasaan spontanitas. Ada aktivitas yang suka bermain yang sadar akan dirinya, begitu saja.”&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;(Jean-Paul Sartre dalam The Psychology of Imagination, 1972).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalimat di atas memantik adanya paham baru yang bernama eksistensialisme. Eksistensialisme mulai marak di seputaran tahun 1960-an sebagai perlawanan terhadap Marxisme. Eksistensialisme ini pulalah yang menentang ideologi represif seperti ultra-nasionalisme, sosialisme atau fasisme, karena eksistensialismelah yang menjunjung tinggi kebebasan. Setiap individu diberi ruang untuk kebebasannya, artinya kebebasan yang membuatnya eksis – diakui keberadaannya sebagai pribadi. Jika kebebasan itu disangkut-pautkan dengan kejahatan, maka hal tersebut dimaknai bukan sebagai kebebasan melainkan kriminal. Bukan pula sebagai kebebasan yang kebablasan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah tidak perlu kiranya ada idiom yang sempat dihembuskan oleh penguasa orde baru dan diyakini hingga sekarang, yaitu kebebasan yang bertanggungjawab. Karena jika menilik pernyataan Sartre di atas, jelaslah kebebasan itu bertanggungjawab akan dirinya sendiri. Idiom kebebasan bertanggungjawab hanyalah untuk memberikan stigma negatif terhadap kebebasan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Seni dan Persepsi Imajinasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai kasus di Indonesia, kesenian erat dikaitkan dengan ekspresi kebebasan. Beberapa kali ekspresi seni dihadapkan pada permasalahan pelik yang berurusan dengan aparat negara maupun kelompok sipil. Mulai dari pertunjukan teater Marsinah yang dicekal oleh pemerintahan orde baru hingga yang terbaru penghentian kegiatan syuting film Lastri di Solo. Tren yang kini menghadang ekspresi seni itu justru datang dari masyarakat sipil. Inilah hal yang dikhawatirkan dari gerakan-gerakan pasca reformasi yang ditandai dengan berpindah tangannya kekerasan dari negara ke masyarakat sipil. Negara bahkan tidak berdaya lagi mengkontrol kekerasan masyarakat sipil.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Masih hangat dalam ingatan kita, pameran seni rupa Biennale di Jakarta yang diramaikan oleh demonstrasi aktivis FPI karena ada karya seni (karya Agus Suwage dan Davy Linggar) yang dikaitkan dengan pornografi. Begitu pula syuting film Lastri (diproduseri Marcella Zalyanti dan disutradarai oleh Eros Djarot) yang justru dihadang oleh kelompok sipil yang merasa trauma dengan kejadian di tahun 1965. Roy Suryo pun merasa perlu menggugat video klip lagu Perempuan Paling Cantik di Negeriku Indonesia milik Dewa 19 yang katanya menghina bendera merah putih.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Persepsi sering dikaitkan dengan percampuran sensasi-sensasi dan imaji dari citraan-citraan yang lahir dari sesuatu yang dilihat. Namun seperti halnya yang diucapkan Sartre, kita lebih bisa merasakan daripada melihat. Nah, dugaan saya ketakutan-ketakutan yang lahir untuk menghadang karya seni ini lebih memainkan perasaan daripada pengalaman melihat yang bersumber pada kecerdasan melihat (visual literacy).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Citraan dan Objek Seni&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Para pekerja seni pastilah memiliki kesadaran konsep ketika karyanya akan dinikmati oleh khalayak luas. Kesadaran itu sendiri bahkan menjadi sesuatu yang tidak penting ketika karyanya mulai dilempar ke pasar dan dinikmati secara bebas. Termasuk juga tidak akan ada lagi klaim kebenaran mengenai pemaknaan atas citraan-citraan, karena khalayak memiliki kebebasan juga dalam memaknai. Seniman bahkan tidak memiliki klaim kebenaran itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karena itulah menjadi hal yang wajar ketika masyarakat yang telah menikmati karya seni secara bebas mulai melakukan pemaknaan dan disinilah letak akar permasalahan itu, yaitu persepsi yang berbeda-beda. Sekencang-kencangnya seniman mengatakan konsepnya, tetap saja klaim itu menjadi kabur, karena karyanya menjadi milik umum. Pertanyaan kemudian adalah kapan sebuah karya bisa dikatakan lepas dari pengarangnya? Dalam era industri sekarang, jelaslah ketika karya tersebut telah didistribusikan luas ke pasar. Artinya, tentu saja ketika karya telah selesai, lengkap dengan pengemasannya yang baik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Satu benda tentu tidak bisa dikatakan besar atau kecil jika tidak ada benda pembandingnya. Hal inilah yang kerap kali menjadi ilustrasi sebuah persepsi. Objek pembanding lengkap dengan kecerdasan visual yang didapatkan tentu dari literatur dan pengalaman visual menjadikan kita tidak mudah untuk mengatakan beda persepsi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam kasus film Lastri, bagaimana kita bisa menghakimi jika film itu bahkan masih dalam tataran konsep? Filmnya pun belum jadi, penghakiman sudah dimulai. Dalam bahasa film, konstruksi karyanya harusnya lengkap. Tidak bisa menghakimi hanya setelah membaca skenario. Setting, sinematografi hingga filosofisnya adalah kemasan yang menyatu dalam film. Dalam kasus ini, jelaslah tidak ada perbedaan persepsi namun adanya pengekangan kebebasan untuk mewujudkan sesuatu yang hanya didasarkan pada perasaan belaka (trauma – paranoid).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagaimana dengan video klip Perempuan Paling Cantik di Negeriku Indonesia? Dalam kasus ini, Roy Suryo rupanya tidak memiliki visual literacy. Amat disayangkan memang, seorang Roy Suryo yang dekat dengan dunia seni visual tidak mampu menghakimi sebuah karya seni dengan lengkap. Ketika peraturan pemerintah dijadikan pembanding, maka itu bukan ukuran pembanding yang pas. Yang tepat adalah, jika yang dijadikan pembanding adalah sesama karya seni. Ketika dilempar ke pasar, bendera berwarna merah dan putih dan ada logo Laskar Cinta dalam video klip itu tetaplah dimaknai sebagai bendera merah putih, meskipun Dhani Dewa kencang menyatakan bahwa itu adalah backdrop. Siapapun tahu, ”backdrop” dalam video klip itu dekat dengan bendera merah putih.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun yang menjadi persoalan sekarang adalah, bagaimana dengan iklan media cetak salah satu partai yang belakangan ini kerap muncul lengkap dengan figur dewan penasihat yang adalah seorang presiden dan bahkan dalam iklan yang lain pula ada beberapa orang di atas kibaran bendera merah putih? Iklan pun adalah karya seni yang ketika ia menjadi still life (iklan media cetak), maka kita pun juga memaknai hal yang sama dengan objek citraan itu sendiri. Jelaslah, bendera merah putih itu tetaplah bendera negara Indonesia. Dan, bendera itu pun juga ditempeli diatasnya (montage) dengan gambar orang dan bendera itu bukanlah hanya sekedar dimaknai sebagai background gambar. Artinya, dalam kasus video klip Dewa 19 dengan iklan Partai Demokrat dan bahkan sering juga dilakukan oleh partai-partai yang lain adalah sama-sama menghembuskan nafas ”penghinaan” pada bendera negara, seperti pernyataan Roy Suryo. Tentu saja pernyataan tersebut lahir jika kita mengamati karya visual dengan tidak cerdas.**&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-3136224935315351945?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/3136224935315351945/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=3136224935315351945&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/3136224935315351945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/3136224935315351945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2009/01/lastri-dan-bendera-merah-putih.html' title='LASTRI DAN BENDERA MERAH PUTIH'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-2998586153698527068</id><published>2008-12-18T21:30:00.000-08:00</published><updated>2008-12-18T21:41:33.586-08:00</updated><title type='text'>MENGANDAIKAN KOTA MERDEKA DARI PAPAN REKLAME</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;Tulisan ini diperuntukkan bagi masyarakat Surabaya yang mencintai keindahan kota. Masyarakat yang mulai jengah melihat kotanya diselimuti ratusan billboard dan iklan bando jalan. Masyarakat yang ingin melihat langit biru dan pepohonan bebas menjulur tanpa diselipi papan reklame. Jika ada yang tidak mencintai keindahan kota dan membaca tulisan ini, marilah kita bersama-sama membayangkan seandainya kota ini terbebas dari penjajahan papan reklame. Implikasi yang tentunya positif dibandingkan membayangkan kota ini menjadi hutan yang penuh billboard, baliho, dan bando. Dalam tulisan ini, penulis berharap agar Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) Jawa Timur terbangun dari tidur dan lebih bermain kode estetis ketimbang kode etis dalam tiap aturan mainnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;Sebetulnya, perdebatan tentang tata pemasangan billboard di Surabaya mulai diperdebatkan beberapa bulan lalu. Bahkan, kondisi tahun-tahun sebelumnya pun memancing polemik. Tragisnya, makin hari makin banyak papan reklame mengepung kota. Kondisi itu diperparah dengan maraknya billboard dan baliho para calon anggota legislatif yang seperti tidak sabar ingin segera duduk di parlemen. Di pengujung November, tensi sekitar kepungan iklan tersebut kian meningkat. Puncaknya, terjadi peristiwa ambruknya papan reklame di Jalan Kertajaya (Jawa Pos, 26/11). Berturut-turut setelah itu, Jawa Pos menurunkan berita tentang semerawutnya kota karena pemasangan papan reklame. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi, kian maraknya papan reklame bisa dipandang sebagai indeksikal pertumbuhan ekonomi daerah atau tingkat daya beli masyarakat. Modal ekonomi telah dimiliki oleh perorangan maupun institusi. Dari sisi politik ekonomi, menjamurnya papan reklame di suatu kota menunjukkan adanya peningkatan cara dan gaya hidup masyarakat kota. Namun, bila dilihat dari kacamata ekonomi politik, papan reklame yang bertebaran di sudut-sudut kota menunjukkan gejala penumpukan keuntungan ekonomi di satu kepentingan saja. Yakni, industri terkait yang mempromosikan produknya serta biro jasa advertising. Kondisi itu kian parah karena tidak diperhitungkannya masyarakat sebagai sebuah keseimbangan lingkungan. Artinya, masyarakat hanya ditempatkan sebagai objek penderita yang secara sadar "dipaksa" melihat pemasaran produk, tanpa ada pilihan untuk menolak. Asumsinya, jika 80 persen pengetahuan diperoleh melalui mata, media luar ruang seperti papan reklame harus efektif terlihat selama tujuh detik. Dengan demikian, tidak ada pilihan bagi pengguna jalan raya untuk "menutup mata" sejenak agar organ penglihatan ini bisa beristirahat dari hilir mudik informasi jenis itu. Padahal, informasi serupa sudah 24 jam penuh muncul di beragam media lain (radio, televisi, koran).            &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Overcommunicated melalui papan reklame tersebut turut menyumbang tingginya tingkat stres masyarakat Surabaya. Tampilan visual yang sebelumnya telah diperoleh di rumah melalui televisi, misalnya, harus juga mereka dinikmati melalui billboard. Itu masih ditambah keruwetan transportasi di Surabaya. Bagi pengguna jalan, satu-satunya pilihan untuk tidak kian stres di jalan adalah tidak melihat papan reklame. Namun, itu mustahil. Billboard menjadikan masyarakat "puas ditindas". Artinya, masyarakat sadar bahwa billboard di Kota Surabaya kacau balau dan saling tumpang tindih. Namun, tidak ada pilihan selain menerimanya. Itulah hegemoni para pemilik modal plus dosa visual para kreator di biro iklan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di sisi lain, papan reklame memang mendatangkan keuntungan bagi pemerintah daerah melalui pajak. Hanya, jika papan reklame lebih banyak merugikan daripada menguntungkan masyarakat, kenapa perizinannya tidak diperketat? Masyarakat punya hak individu dalam menentukan pilihan visual pada pemandangan kota. Tentu, tidak ada salahnya meminimalkan penggunaan media papan reklame sebagai media periklanan. Dengan hanya mengizinkan papan reklame ditempatkan di pertigaan, perempatan, atau di jembatan penyeberangan, misalnya, akan melegakan pemandangan kota. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya, menjadi tugas kalangan akademisi untuk memikirkan media alternatif selain papan reklame. Pusat-pusat kajian dan penelitian seharusnya mampu menemukan media alternatif selain media konvensional macam billboard atau baliho. Selama ini, papan reklame masuk dalam buku-buku teori pemasaran, khususnya media periklanan. Namun, seiring perkembangan zaman, seharusnya revisi dilakukan terkait ruang publik di kota. Orang-orang kreatif yang berkecimpung di media periklanan mestinya mempertimbangkan bentuk-bentuk media luar ruang baru. Media baru yang bukan saja tidak memperkeruh wajah kota malah makin bersahabat dengan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kreativitas kalangan advertising di Surabaya ditunggu dalam hal pemilihan media yang lebih humanis dan berperspektif lingkungan. Respons PPPI Jawa Timur atas kasus itu juga sangat ditunggu. Masing-masing diharapkan tidak hanya memikirkan keuntungan, tapi juga memikirkan cara menciptakan lingkungan kota yang lebih manusiawi dan layak huni.***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dimuat di Jawa Pos, 5 Desember 2008&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-2998586153698527068?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/2998586153698527068/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=2998586153698527068&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/2998586153698527068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/2998586153698527068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2008/12/mengandaikan-kota-merdeka-dari-papan.html' title='MENGANDAIKAN KOTA MERDEKA DARI PAPAN REKLAME'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-4387923142684831613</id><published>2008-11-16T19:57:00.000-08:00</published><updated>2008-11-16T20:03:26.714-08:00</updated><title type='text'>VISUALITAS DI JALAN RAYA DAN KORUPSI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SSDs0IXiBhI/AAAAAAAAAFI/B2iFXl1Pw0Q/s1600-h/19376-W500.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SSDs0IXiBhI/AAAAAAAAAFI/B2iFXl1Pw0Q/s320/19376-W500.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269471944367015442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Polda Jatim merilis hasil evaluasi program &lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;i&gt;Responsible Riding&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt; (RR) dalam kerjasamanya dengan Jawa Pos sebagai tingkat keberhasilan yang signifikan (Jawa Pos, 16 Oktober 2008). Perbandingan kecelakaan pun menurun pada September – Oktober selama program ini dijalankan. Jika pada bulan Agustus (masa pra RR) terjadi kejadian 832 kasus, maka pada program RR kejadian hanya 739 kasus (minus 93), korban meninggal dunia dari 284 jiwa, hanya menjadi 280 jiwa (minus 4), kemudian korban luka berat 229 orang menjadi 204 orang (minus 25) dan korban luka ringan dari 889 orang menjadi 784 orang (minus 105). Begitu pula tren penurunan tingkat kejadian kecelakaan di jalan raya pada masa Operasi Ketupat jika dibandingkan dengan tahun 2007 menunjukkan tingkat penurunan yang bisa dikatakan signifikan (di bawah 50%).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;Bagaimana dengan di Surabaya sendiri? Menurut catatan situs Berita Indonesia.com, tercatat setiap tahun tingkat kecelakaan lalulintas di Surabaya semakin meningkat. Ini terjadi sejak 5 Januari hingga 5 Juni 2008 yang mengalami kenaikan signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Pada Januari hingga 5 Juni 2007 lalu dalam catatan Satlantas Polwiltabes Surabaya, jumlah kejadian mencapai 534 kasus dan pada periode yang sama tahun ini meningkat sekitar 12% menjadi 599 kasus. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;Kenaikan angka juga terjadi pada korban meninggal dunia, luka berat, serta luka ringan. Jika pada periode yang sama tahun 2007 lalu ada 283 orang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas, maka tahun ini jumlah meninggal dunia naik 33% menjadi 283 korban. Untuk luka berat tahun lalu ada 103 korban dan tahun ini naik tipis menjadi 106 orang. Begitupula dengan korban luka rungan yang tahun lalu mencapai 419 orang, tahun ini naik menjadi 485 orang. Artinya, angka-angka tersebut terjadi pada masa periode sebelum RR berlangsung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;Tanpa berpolemik mengenai signifikan atau tidaknya tren penurunan tingkat pelanggaran di jalan raya, maka menjadi hal yang menarik jika perilaku dalam berkendara dan memanfaatkan jalan raya menjadi perhatian kecil yang harus dibenahi di tengah-tengah wacana besar mengenai pemberantasan korupsi. Apa relevansi keduanya?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Visualitas di Jalan Raya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;Telah diketahui oleh umum bahkan oleh tamu dari luar negeri perihal perilaku masyarakat Indonesia dalam berkendara maupun dalam menggunakan jalan raya adalah karakter masyarakat kita yang ”berani mati”. &lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Pada kalangan anak muda, karakter yang menyerempet bahaya ini acap dipakai pada jenis olah raga yang dikenal sebagai &lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;i&gt;extreme sport.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt; Tentu saja, idiom ini bukan hal yang positif jika melihat perilaku masyarakat kita atau justru kita sendiri yang mengalaminya. Apa saja visualitas ekstrim tersebut? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Pertama, ketika ada mobil yang akan mengambil jalan mundur, maka bisa dipastikan pengguna jalan yang lain seperti sepeda atau sepeda motor akan mengambil jalan nekad, yaitu tetap jalan di belakang mobil yang berusaha mundur tersebut atau mengambil jalan di depan mobil itu. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Tidak sabar menunggu mobil itu berada dalam posisi yang pas. Kedua, jika ada pejalan kaki yang akan menyeberang tepat di area &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;zebra cross&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; maka sepeda motor atau mobil akan tetap melaju kencang tidak memberikan jalan bagi pejalan kaki. Ketiga, rambu lalu lintas yang mengisyaratkan kecepatan dalam kota tidak boleh lebih dari 50 km/jam, maka di jalanan akan mudah terlihat sepeda motor yang melaju kencang bagai di sirkuit balapan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Keempat, begitu lampu masih merah atau bahkan kuning, para pengguna jalan sudah berebutan membunyikan klakson tanda bahwa mereka menguasai jalanan itu sehingga hafal di luar kepala kapan lampu perempatan menjadi hijau. Kelima, di beberapa tempat di Surabaya, pejalan kaki dengan asyiknya melenggang menyeberang jalan di tengah jalan yang ramai tanpa menggunakan &lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;i&gt;zebra cross&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt; atau jembatan penyeberangan. Keenam, tanpa menyalakan lampu sein ketika akan mengubah posisi jalur, mobil atau sepeda motor seenaknya saja pindah jalur. Ketujuh, kedelapan bahkan hingga kedua puluh Anda pasti dengan cepat akan menambahkan daftar saya tersebut, karena memang visualitas di jalan raya itu sangat nyata dan bahkan tanpa skenario.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Apa yang menyebabkan visualitas itu masih tetap ada hingga sekarang? Jelaslah, tingkat kesadaran dalam memperlakukan kendaraan maupun perilaku di jalan raya yang masih minus. Program RR dan mungkin program lainnya menjadi tidak bermanfaat jika tidak didukung oleh tingkat kesadaran masyarakat sendiri. Seorang pemikir post-semiotik, Michel Foucault pernah berujar bahwa kekuasaan bisa terjadi dimana saja dan oleh siapa saja. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Tidak hanya pemerintah dan aparatusnya yang sering kita anggap mereka sebagai penguasa. Artinya, sebagai manusia dengan sifatnya yang &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;bio-politics&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; kita dapat dengan mudah memperlakukan rambu-rambu lalu lintas, termasuk tidak menggunakan etika di jalan raya. Alih-alih kita berkuasa atas kendaraan kita sendiri, aturan di jalan raya pun tidak diperlakukan dengan etika yang benar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Korupsi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Apa relevansi antara etika berkendara dengan pemberantasan korupsi? Dalam berbagai pertemuan ilmiah atau bahkan jurnal-jurnal ilmu pemerintahan yang berbicara tentang pemberantasan korupsi, maka logika berpikir dan konsep mereka adalah bagaimana beretika profesi. Tidak hanya mampu menahan diri dalam menyalahgunakan wewenang, namun juga bagaimana di berbagai tempat etika dijunjung tinggi. Telah banyak referensi bahkan perbicangan di media massa mengenai hal ini, namun saya lebih tertarik berangkat dari fenomena keseharian di jalan raya yang bisa menjawab, apakah korupsi bisa diberantas di negeri ini?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Hal kecil mengenai sikap di jalan raya adalah visualitas. Visualitas itu akan menjadi simbol mengenai peradaban dan produk budaya. Artinya, berbagai konsep mengenai pemberantasan korupsi tidak akan berjalan jika hal kecil yang negatif dalam keseharian kita telah menjadi produk budaya yang fenomenatik. Selama kita masih melaju kencang ketika lampu telah berubah menjadi merah, atau kita tidak memberi jalan bagi pejalan kaki yang akan menyeberang di &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;zebra cross&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; atau juga kita melaju kencang dan memperlakukan jalan raya bagai sirkuit Formula One, maka kita jangan berharap korupsi dapat diberantas di negeri ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Semoga saja sebelum kita berkoar-koar mengenai wacana besar tentang pemberantasan korupsi, kita sadar tentang bagaimana membenahi hal-hal kecil terlebih dahulu di sekitar kita. Semua berpulang pada kesadaran diri sendiri.***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-4387923142684831613?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/4387923142684831613/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=4387923142684831613&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/4387923142684831613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/4387923142684831613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2008/11/visualitas-di-jalan-raya-dan-korupsi.html' title='VISUALITAS DI JALAN RAYA DAN KORUPSI'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SSDs0IXiBhI/AAAAAAAAAFI/B2iFXl1Pw0Q/s72-c/19376-W500.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-9146330333888720963</id><published>2008-11-16T19:47:00.000-08:00</published><updated>2008-11-16T19:54:30.305-08:00</updated><title type='text'>MEREKA MENUNGGANGI AKTIFITAS ANAK MUDA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SSDqtj9K8nI/AAAAAAAAAFA/WpYo4sSFG8s/s1600-h/bukan+parpol.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 238px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SSDqtj9K8nI/AAAAAAAAAFA/WpYo4sSFG8s/s320/bukan+parpol.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269469632490304114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Anak muda itu hanya ingin berkreasi...&lt;br /&gt;Jadi jangan ditunggangi apalagi dengan motif politik,&lt;br /&gt;bahkan dengan ambisi kepentingan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi biarkan mereka berkreasi sebebas mungkin,&lt;br /&gt;bahkan sebebas caci maki mereka pada situasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau boleh memilih, mereka akan memilih sistem anarki&lt;br /&gt;untuk memulai semua dari nol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(potret dari penunggangan aksi mural komunitas P Art, Tiadaruang dan komunitas mural lain di Surabaya oleh partai politik tertentu di depan kampus UWM Dinoyo, Surabaya)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-9146330333888720963?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/9146330333888720963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=9146330333888720963&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/9146330333888720963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/9146330333888720963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2008/11/mereka-menunggangi-aktifitas-anak-muda.html' title='MEREKA MENUNGGANGI AKTIFITAS ANAK MUDA'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SSDqtj9K8nI/AAAAAAAAAFA/WpYo4sSFG8s/s72-c/bukan+parpol.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-757166562119009882</id><published>2008-11-16T19:46:00.000-08:00</published><updated>2008-11-16T19:47:51.009-08:00</updated><title type='text'>TENTANG "SPONTANITAS" (dari catatan yang tercerai berai...)</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kata tersebut begitu akrab di telinga kita pada beberapa hari terakhir ini berkaitan dengan meninggalnya mantan Presiden Soeharto. Kata spontanitas digunakan untuk menandai antusias masyarakat dalam proses pemakaman mantan presiden tersebut. Ribuan orang – seperti yang ditulis di &lt;i&gt;headline&lt;/i&gt; surat kabar maupun televisi – turut menyertai perjalanan rombongan duka dari Cendana hingga ke Halim Perdanakusuma. Tidak cukup di Jakarta saja, ribuan orang – lagi-lagi disebutkan – juga telah menunggu di jalanan kota Solo menuju Astana Giribangun, tempat terakhir jenazah dikebumikan. Visualitas tentang pelayat dan kata ‘spontanitas’ yang menyertainya, menarik diperhatikan di sisi yang lain kejadian besar awal tahun 2008 ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pierre Boudieu (1990) menyebut spontanitas adalah salah satu ciri ketika perilaku melakukan kebiasaan sosial atau &lt;i&gt;habitus &lt;/i&gt;berlangsung berulang-ulang bahkan tidak disadari. &lt;span lang="fi-FI"&gt;Di saat kebanyakan orang melakukan hal yang sama, maka hal demikian dikatakan sebagai suatu ciri sosial. Di sisi lain, &lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;i&gt;habitus&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt; tidak serta merta muncul dari suatu kondisi yang tiada. Jika kebiasaan dilakukan dengan kesadaran dan tidak ada iming-iming hadiah atau bahkan paksaan, maka hal itu lebih menunjukkan seberapa dalam tingkat kebiasaan dalam suatu masyarakat. Kebiasaan sosial yang demikian bukanlah kebiasaan sosial yang direkayasa untuk menumbuhkan spontanitas. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah yang dilakukan oleh masyarakat dalam menyambut rombongan pelayat dan jenazah Soeharto dapat dikatakan sebagai aksi spontanitas seperti yang sering diperdengarkan oleh berita di media massa itu?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Mengkuantitatifkan Duka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Tanpa bermaksud memperbandingkan satu peristiwa dengan peristiwa yang lain apalagi hal tersebut menyangkut masa lalu, namun rupanya saya tidak kuasa menolak untuk sekedar menolehkan muka sejenak ke belakang. Visualitas tentang masyarakat yang berduka dan iring-iringan mobil keluarga, pejabat dan jenazah adalah satu kesatuan. Begitu pula ketika Indonesia dikejutkan oleh berita meninggalnya Bung Karno, Bung Hatta, Sultan Hamengku Buwono (HB) IX dan kemudian Soeharto, pelayat yang datang seakan-akan diposisikan sebagai aparatus untuk ’menguji’ spontanitas mereka kepada sang tokoh. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;i&gt;Headline&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt; di koran saat Soeharto akan dikebumikan adalah ”ribuan orang mengantar Soeharto”, ”ribuan orang berdiri di tepi jalan”, ”puluhan ribu masyarakat Jakarta tampak mengiringi Soeharto di tepi jalanan ibu kota” dan beberapa kalimat lain yang mengagungkan angka sebagai tolok ukur cinta. Kalimat itu pulalah yang sering dikatakan oleh presenter televisi dalam meliput peristiwa tersebut seakan-akan meneguhkan kecintaan masyarakat kepada seorang tokoh melalui angka. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Variabel lain dalam peristiwa meninggalnya Soeharto tampaknya diabaikan dalam hal ini. Media massa lupa angka selalu akan berkorelasi dengan variabel lain yang mengakibatkannya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Jika demikian, masihkah bisa dikatakan sebagai ’spontanitas’ jika ada variabel lain yang membuatnya demikian? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;Sebagai contoh, kebiasaan mengantri di bank. Kebiasaan umum yang selanjutnya mengarah kepada tindakan spontanitas dalam mengantri di bank ternyata masih diimbangi juga dengan peralatan yang mendukung untuk mengantri, misalnya tali pembatas. Tali pembatas telah menjadi variabel yang lain untuk membuat orang spontan mengantri tanpa disuruh-suruh. Namun apakah ketika tali pembatas, nomor urut antrian dan peralatan lain suatu ketika tidak ada, maka akan ada spontanitas? Saya meragukan hal itu, karena kebiasaan umum masyarakat Indonesia belum mencapai pada tingkat tersebut. Secara substansial, &lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;&lt;i&gt;habitus&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt; untuk mengantri belum ada.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;&lt;b&gt;V&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;&lt;b&gt;ariabel sebab-akibat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, maka saya menyangsikan angka besaran masyarakat sebagai sebuah sikap spontanitas. Ada sebab yang mengakibatkan demikian dan itu telah keluar dari substansi makna ‘spontanitas’. Berita di televisi, kemudian juga koran, majalah, bahkan tabloid hiburan dan masih ditambah lagi berita infotainment yang biasanya mengulas kehidupan glamour selebriti berganti muka menjadi berita keharuan ketika Soeharto masuk Rumah Sakit. Itu pun belum berakhir. Secara berturut-turut, berita di televisi masih juga mengulas tentang acara tahlil yang juga masih mengagungkan angka sebagai perkara yang substansial disebutkan. Betapa dahsyat pengaruh media massa menyihir masyarakat sehingga nampak seolah-olah itu adalah sikap yang spontan!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;Di jaman ketika semuanya menjadi demikian terbuka, pers menjadi bebas dan rakyat berada dalam kondisi tanpa tekanan, maka visualitas masyarakat yang ‘seolah-olah spontan’ tersebut menjadi hal yang wajar. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;Kondisi yang berbeda ketika meninggalnya Bung Karno, rakyat berada dalam bayang-bayang ketakutan dalam melayat karena takut di-cap PKI, namun tetap saja ‘ribuan’ orang mengiringi dengan ratap tangis di sepanjang jalan. Dan peristiwa duka ini tetap ditetapkan sebagai peristiwa paling akbar di Indonesia. Bila bicara kuantitatif, maka telah banyak lembaga data yang mencatat jumlah pelayat yang sangat besar bahkan melebihi pelayat Soeharto.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;Begitu pula ketika Bung Hatta meninggal, tanpa ada dukungan yang besar dari aparatus duka, seperti media massa, rakyat masih melepasnya dengan keharuan meski bisa jadi saat itu telah ada pengkultusan individu sosok Soeharto di rejim ketika Bung Hatta tiada. Toh, bagaimanapun Iwan Fals secara khusus membuat lagu untuk kepergian Bung Hatta, meski di jaman itu Iwan Fals menjadi momok bagi pemerintahan Soeharto. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Meninggalnya HB IX juga mendapat perhatian tersendiri berkaitan dengan angka. Tanpa ada pemberitaan menyangkut sebelum HB IX meninggal, namun rakyat meluber mengiringi jenazah HB IX dikebumikan. Visualitas yang sama dengan ketika Bung Karno dan Bung Hatta meninggal dunia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Contoh-contoh di atas (kepergian Soekarno, Bung Hatta dan HB IX) adalah substansi dari makna ‘spontanitas’ sesungguhnya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;Sikap yang menjadi kebiasaan umum ketika orang yang dikenalnya meninggal dunia. Sikap tanpa paksaan, sikap tanpa ada pengaruh dan tentu saja sikap yang didasari pada keinginan hati yang mendalam. Sikap tersebut sama juga dengan meninggalnya salah seorang di lingkungan masyarakat umum yang meninggal dunia. Begitu berita menyebar dari mulut ke mulut, spontanitas ikut mengiringi kebiasaan umum untuk melayat atau menaburkan bunga dan uang logam ke iring-iringan jenazah. Inilah gambaran kebiasaan umum tersebut dan telah menjadi &lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;&lt;i&gt;habitus &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;dalam masyarakat kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;Sekali lagi, tanpa bermaksud mengunggul-unggulkan satu dengan yang lain, namun kata ‘spontanitas’ hanya dengan menunjuk kisaran angka sebagai bukti tanpa melihat faktor lain yang mendukung penggunaan kata ‘spontanitas’ tersebut, adalah pembiasan dalam melihat fenomena visual. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Apalagi jika dikait-kaitkan dengan muatan politik. Sungguh tidak pada tempatnya.***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-757166562119009882?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/757166562119009882/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=757166562119009882&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/757166562119009882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/757166562119009882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2008/11/tentang-spontanitas-dari-catatan-yang.html' title='TENTANG &quot;SPONTANITAS&quot; (dari catatan yang tercerai berai...)'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-752533803100494403</id><published>2008-11-16T19:26:00.000-08:00</published><updated>2008-11-16T19:32:28.825-08:00</updated><title type='text'>MEWUJUDKAN SURABAYA KOTA KREATIF</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SSDljNxy1SI/AAAAAAAAAE4/UaGzKnCyujs/s1600-h/OBED+TIADARUANG.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SSDljNxy1SI/AAAAAAAAAE4/UaGzKnCyujs/s320/OBED+TIADARUANG.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269463957180175650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada Juni 2008, Departemen Perdagangan RI merilis cetak biru pengembangan ekonomi kreatif Indonesia 2009-2025 serta pengembangan subsektor-subsektor ekonomi kreatif yang kemudian dikenal sebagai industri kreatif itu. Berdasarkan cetak birunya, ada 14 subsektor industri kreatif, yaitu periklanan; penerbitan dan percetakan; TV dan radio; film, video dan fotografi; musik; seni pertunjukan; arsitektur; desain; fesyen; kerajinan; pasar barang seni; permainan interaktif; layanan komputer dan piranti lunak; penelitian dan pengembangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ekonomi kreatif sendiri berfokus pada penciptaan barang dan jasa dengan mengandalkan keahlian, bakat dan kreatifitas individu sebagai sebuah kekayaan intelektual. Sektor ini dipercaya pemerintah sebagai harapan bagi ekonomi Indonesia untuk bangkit, bersaing da meraih keunggulan dalam ekonomi global.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Kontribusi sektor ini juga sangat berdampak bagi Produk Domestik Bruto (PDB), yaitu rata-rata sebesar 104,638 triliun rupiah pada tahun 2002-2006 atau menyumbang 6,3 persen dari PDB nasional. Sektor industri kreatif pun mampu menyerap tenaga kerja rata-rata sebesar 5,4 juta pekerja di Indonesia dengan tingkat partisipasi sebesar 5,8 persen serta produktivitas tenaga kerja bahkan mencapai 19,5 juta rupiah per pekerja setiap tahun melebihi produktivitas nasional yang “hanya” mencapai kurang dari 18 juta rupiah per pekerja per tahun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;Bandingkan dengan industri kreatif di negara lain, seperti Singapura. Singapura sendiri sedang berambisi menggenjot pendapatan Negara dari sektor ini untuk menaikkan kontribusi dari kurang lebih 3 persen (2000) menjadi 6 persen (2001). &lt;/span&gt;Simak juga ambisi Singapura untuk menjadikan Negara itu sebagai &lt;i&gt;creative hub&lt;/i&gt; utama di Asia, sehingga mereka meluncurkan tiga inisiatif, yaitu kota Renaissance, &lt;i&gt;Design Singapore&lt;/i&gt; dan Media 21.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Dengan menyingkirkan sekilas pandangan yang melihat upaya pemerintah yang sangat terlambat sementara sektor-sektor tersebut di Indonesia telah melaju kencang di pasar pasca ambruknya ekonomi Indonesia tahun 1997, indikasi positif pemerintah ini patut diapresiasi sekaligus dikritisi. Bagaimana dengan Surabaya? Apa yang harus diperbuat agar mampu berdiri sejajar dengan kekuatan ekonomi global lainnya minimal sejajar dengan kota-kota dan wilayah kreatif lainnya, seperti Bandung, Jakarta, Bali dan Jogjakarta?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Sinergi Tiga Pihak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang berpendapat, bahwa Surabaya ini bukanlah kota yang tepat dan mampu mengapresiasi kreatifitas orang dengan baik. Dengan kata lain, Surabaya bukan kota kreatif. Benarkah?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Apa yang tidak dipunyai oleh kota ini? Ada Budi Darma maupun Lan Fang serta sederet nama lain di bidang sastra. Siapa yang tidak kenal Padi maupun Boomerang serta puluhan grup band indie di sektor industri pertunjukan? Di periklanan mulai tumbuh rumah-rumah iklan, bahkan sumber daya manusianya (mahasiswa) bahkan mampu meruntuhkan dominasi mahasiswa periklanan dari kota lain yang selama ini dekat dengan periklanan, yaitu Jakarta dan Bandung. Di bidang desain, banyak &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;fashion designer&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; maupun desainer grafis yang malang melintang di dunia internasional. Bahkan distro pun banyak bertebaran di lingkungan kampus. Jangan tanyakan juga komik yang lahir dari Surabaya. Banyak komunitas komik dan komikus yang sangat getol berindustri di sektor ini. Seiring dengan &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;boomingnya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; seni rupa Indonesia, kota ini juga punya deretan perupa-perupa yang mampu berbicara di tingkat nasional maupun internasional. &lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Masih banyak potensi lain dari kota ini jika pihak pemerintah kota mau menginventarisasinya sebagai kekayaan kota. Namun tragisnya, &lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;i&gt;mapping&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt; mengenai hal ini, pemerintah kota pun tidak mempunyainya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Ada tiga hal yang harus bersinergi dalam memajukan ekonomi kreatif di Surabaya, yaitu intelektual, kalangan bisnis dan pemerintah. Kekuatan utama industri kreatif selama ini adalah mampu &lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;i&gt;survive&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt; meski tanpa perhatian ketiga hal tersebut. Namun tidak ada salahnya, mulai tumbuh perhatian kepada mereka yang akan merangkak naik dalam industri kreatif di Surabaya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt; Mengapa pihak intelektual bertanggungjawab pada pengembangan ekonomi kreatif? Yang jelas, faktor pendidikan inilah yang penting untuk ikut aktif melahirkan manusia-manusia kreatif. Banyaknya kampus di kota ini seharusnya mampu menjadi basis melahirkan generasi kreatif seperti halnya Bandung atau Jogjakarta. Namun apakah secara jujur mereka beritikad baik untuk melahirkan generasi-generasi kreatif ataukah hanya mengejar jumlah mahasiswa? Bagaimana peran serta mereka untuk secara aktif berkiprah di luar kampus? Adakah peran aktif dalam memberikan pelatihan-pelatihan di bidang kreatifitas ke kantong-kantong masyarakat? Bagaimana pula dengan penanaman pentingnya berpikir kreatif di tingkat pendidikan dasar dari SD hingga SMA? Apakah kurikulumnya masih berpihak dan terlalu menonjolkan kekuatan otak kiri dibanding otak kanan? Tentunya hal ini membutuhkan pula tenaga-tenaga pendidik yang tidak hanya pintar mengajar tetapi juga kreatif.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt; Di pihak bisnis, adakah kesempatan buat komunitas-komunitas masyarakat untuk mengembangkan kreatifitasnya? Program-program tanggung jawab sosial (CSR) yang dikembangkan oleh industri-industri besar akhir-akhir ini seharusnya mampu merangkul komunitas-komunitas yang secara proaktif mengembangkan bidangnya. Tengok saja, berapa banyak komunitas komik di Surabaya yang kadang-kadang gagal berangkat berpameran di kota lain di Indonesia hanya gara-gara kekurangan dana&lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;. Ada juga cerita dari seorang perupa Surabaya, yang gagal berangkat ke Biennale di Korea Selatan hanya karena juga masalah klasik tersebut. Komunitas-komunitas masyarakat yang secara aktif ingin menekuni kerajinan rakyat, misalnya, juga sangat membutuhkan rangkulan tangan dari pihak industri untuk menaikkan citra mereka. Jika di Surabaya banyak bertebaran mall seharusnya ini juga jadi sesuatu yang positif jika mereka menyediakan tempatnya untuk dijadikan ajang bisnis usaha kecil menengah (UKM) tanpa prosedur yang berbelit-belit bahkan mahal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt; Bagaimana untuk pemerintah kotanya? sarana-sarana pendidikan kreatif juga harus diciptakan. Di Thailand, konsep taman edukasi telah diaplikasikan dalam &lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;i&gt;Thai Knowledge Park &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;yang dibangun dalam sebuah pusat perbelanjaan. Anak-anak dan kaum remaja dapat datang berkunjung ke sana untuk belajar sambil bermain, dan bahkan berbelanja. Tujuan dikembangkannya taman edukasi seperti ini adalah untuk mendorong siswa berpikir lebih kreatif.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#000000;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#000000;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Pemerintah kota Surabaya sendiri telah membangun taman-taman kota yang memungkinkan berkumpulnya orang-orang kreatif. Namun, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;sekedar membangun infrastruktur tidaklah cukup. Langkah awal untuk menginventarisasi kekayaan intelektual di Surabaya dengan masuk ke industri kreatif yang telah mapan maupun komunitas-komunitas anak muda yang kreatif sangat dinantikan. Komunitas anak muda ini biasanya terpinggirkan padahal mereka berpotensi besar jika diperhatikan. Meskipun mereka banyak ’berindustri’ di kamar kos pun, pihak pemerintah tidak seyogyanya menampik keberadaan mereka. Dengan banyak upaya seperti itu, maka pemerintah kota diharapkan memasukkan program pengembangan industri kreatif ini ke anggaran kota sehingga dapat memacu insan-insan kreatif Surabaya untuk maju.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Jika tiga serangkai tersebut mampu berbuat banyak; pihak intelektual menyiapkan sumber daya manusia yang kreatif dan mumpuni, kemudian pihak bisnis membuka ruang selebar-lebarnya dalam bentuk kemudahan finansial maupun material buat pengembangan industri kreatif serta pihak pemerintah yang tidak lagi terlalu sibuk perihal ijin yang berpotensi iklim kreatif menjadi lesu, maka dalam waktu ke depan, Surabaya pun mampu menjadi kota yang kreatif! Siapapun harus saling percaya untuk mewujudkan cita-cita ini.***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(telah dimuat di Jawa Pos, 24 September 2008)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-752533803100494403?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/752533803100494403/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=752533803100494403&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/752533803100494403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/752533803100494403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2008/11/mewujudkan-surabaya-kota-kreatif.html' title='MEWUJUDKAN SURABAYA KOTA KREATIF'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SSDljNxy1SI/AAAAAAAAAE4/UaGzKnCyujs/s72-c/OBED+TIADARUANG.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-2664732235078562030</id><published>2008-11-16T19:22:00.000-08:00</published><updated>2008-11-16T19:26:25.167-08:00</updated><title type='text'>MURAL PERLAWANAN PILKADA JATIM 2008</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SSDkNFKovUI/AAAAAAAAAEw/SN0z6NAx224/s1600-h/mural+perlawanan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 306px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SSDkNFKovUI/AAAAAAAAAEw/SN0z6NAx224/s320/mural+perlawanan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269462477399702850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ini adalah catatan yang tercecer dari persitiwa selama Pilkada Jawa Timur 2008. Peristiwa yang mendatangkan beragam opini, termasuk komunitas Tiadaruang yang merespon isu tersebut.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ketika yang didengung-dengungkan oleh pemerintah dan tokoh agama, bahwa golput itu haram, maka yang diambil oleh komunitas Tiadaruang tersebut adalah perlawanan. Mengambil sikap berbeda. Sekalian basah dengan anggapan tersebut, maka kegiatan bergerilya dengan agenda utama yaitu mengambil jalan golput pada pilkada Jatim ditempuh. Mulai dari Sidoarjo hingga Surabaya, mulai ditebarkan kegiatan yang mirip kampanye golput. Dilakukan pada tgl 20 Juli 2008, mereka pun beraksi…dan lagi-lagi memakai cara seperti yang dilakukan Affandi dkk ketika membuat mural di jaman revolusi melawan Belanda dulu.***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-2664732235078562030?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/2664732235078562030/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=2664732235078562030&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/2664732235078562030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/2664732235078562030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2008/11/mural-perlawanan-pilkada-jatim-2008.html' title='MURAL PERLAWANAN PILKADA JATIM 2008'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SSDkNFKovUI/AAAAAAAAAEw/SN0z6NAx224/s72-c/mural+perlawanan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-7837406959464236722</id><published>2008-09-04T20:58:00.000-07:00</published><updated>2008-09-04T21:04:22.965-07:00</updated><title type='text'>CATATAN IKLAN POLITIK PILKADA JATIM</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SMCvLW5eJ1I/AAAAAAAAAD0/H3jSHaEyRVw/s1600-h/ipul-karwo.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242382575919310674" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SMCvLW5eJ1I/AAAAAAAAAD0/H3jSHaEyRVw/s320/ipul-karwo.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ada mitos dalam Yunani Kuno tentang seorang dewa yang bernama Narcius. Dewa Narcius dikenal karena dalam mitosnya tersebut ia terpesona oleh kerupawanannya sendiri. Sampai-sampai ketika ia berkaca di kolam, ada versi yang menyebutkan Dewa Narcius akhirnya mati tercebur di kolam karena terbuai oleh sikapnya yang seolah tidak percaya mempunyai rupa yang elok. Sekian lama ia bercermin hingga ia terbuai kemudian jatuh di kolam dan akhirnya mati. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dari mitos ini pula yang kemudian memunculkan istilah yang merujuk pada sikap memuja pada diri sendiri atau dikenal dengan narsis.&lt;br /&gt;Rakyat Jawa Timur telah melakukan pemilihan kepala daerahnya secara langsung. Pada saat-saat ini pula, di berbagai kota di Jawa Timur marak iklan politik para calon gubernur yang bertebaran dari jalan hingga media massa lokal. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah sudah sejauh mana iklan tersebut sangat efektif sebagai media pengenalan visi dan misinya kepada rakyat di Jawa Timur atau malahan iklan tersebut hanyalah alat untuk melakukan pemujaan pada diri sendiri alias tidak bisa berkata apa-apa kepada masyarakat? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Politik Iklan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seyogyanya iklan memang dibuat untuk diantaranya sebagai alat penyampai pesan tentang manfaat maupun keuntungan orang menggunakan sebuah produk apalagi dalam konteks produk yang baru. Tahapan selanjutnya iklan dibuat pada level citra, artinya orang menggunakan produk tersebut sudah tidak lagi pada tataran guna (manfaat) tetapi pada tataran nilai (citra), tentu saja level citra ini didapat jika produk tersebut sudah diakui oleh khalayak umum atau telah teruji manfaat dan nilainya. Tahap inilah yang menentukan konsumen juga ikut merasakan kebanggaannya sebagai bagian dari produk tersebut. Sehingga tidak heran orang akan bangga mengonsumsi produk yang bersifat ’jaminan mutu’ meski dengan harga tinggi, bahkan meskipun tidak ikut membeli produknya asalkan membeli merchandise dengan logo brand saja sudah bangganya bukan main. Inilah politik iklan! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan iklan politik para calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur? Tidak disangsikan lagi, masyarakat pada akhirnya jadi tahu wajah para kontestan Pilkada mendatang. Politik iklan dengan cara menyingkat-singkat nama kontestan menjadi hal yang sangat jamak ditemui seperti halnya Pilkada di daerah lain di Indonesia. &lt;strong&gt;Salam, SR, Kaji, Achsan&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Karsa&lt;/strong&gt; adalah contoh cara mereka mengenalkan diri pada masyarakat. Cukup disini saja? Tidak! Dengan perencanaan pula, iklan yang mereka sebar juga menaruh foto diri yang dikombinasikan dengan atribut, warna, komposisi dan juga slogan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sampai di situ iklan politik yang mereka lakukan sudah sesuai dengan perkiraan. Masyarakat luas jadi tahu siapa yang akan mereka pilih nantinya. Kapasitasnya pun sedikit banyak telah diketahui oleh publik, mereka lebih banyak bermain di level apa, apakah level agamawan, birokrat, pengusaha, politisi ataukah politisi-selebritis? Sudah pada tingkatan apa, apakah lokal, regional ataukah nasional? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada level masyarakat jadi tahu nama ”produk”nya, iklan politik itu sudah memainkan tahapan awal dari politik iklan. Sudah cukup sampai disini? Ya. Iklan politik para kontestan tersebut sudah bermain di level perkenalan dan selesai. Dalam artian, iklan politiknya hanya berhasil pada kemasan saja. Tidak ada yang baru pada iklan-iklan politik di Jawa Timur. Semuanya sama dan cenderung paritas. Secara transparan, masyarakat tidak mengetahui urgensi dan manfaat apa sehingga masyarakat memilihnya. Pada level ini saja iklan politik tersebut telah gagal apalagi pada level citra, iklan politik itu tidak berkata apa-apa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Narsisnya Kontestan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam kajian sosial budaya, ada pendekatan yang bernama semiotika untuk membaca fenomena sosial termasuk iklan-iklan yang saling beradu dalam rangka Pilkada tersebut. Secara sederhana, kajian semiotik dipahami untuk membaca data lingual dan data visual berdasarkan tanda-tanda yang saling berhubungan. Dugaan (guess) dalam membaca data yang terkandung dalam iklan tersebut diperlukan sepanjang minimnya pesan kunci (anchorage) yang membantu pemahaman masyarakat luas. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kopiah, baju koko dan jilbab adalah atribut yang khas dilakukan oleh hampir semua kontestan. Iklan tersebut seolah ingin menegaskan bahwa mayoritas pemilih di Jawa Timur adalah muslim (indexical). Sehingga berbagai tindakan yang dilakukan oleh mereka adalah rajinnya blusukan di pondok pesantren, masjid maupun aktif mengadakan pengajian. Jas dan dasi adalah atribut lain yang menegaskan keberadaannya pada level menengah ke atas. Pada tataran ini sebenarnya sudah cukup memberi gambaran adanya oposisi biner, kelas atas dan kelas bawah, birokrat maupun tidak, kaya ataupun miskin. Sehingga sebenarnya tidak masuk akal jika ada pendukung yang emosional hingga melakukan kekerasan ketika calonnya kalah, karena sebenarnya yang mereka bela mati-matian itu berada pada posisi ekonomi dan sosial yang berlainan juga. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi penampilan fisik, seperti kumis, mata dan hanya menonjolkan senyuman memberikan makna yang tidak hanya berkaitan dengan keindahan foto tetapi jika diperhatikan juga dapat menimbulkan dugaan bias gender. Seolah-olah yang bisa memberikan kemajuan bagi masyarakat Jawa Timur hanyalah laki-laki. Hal ini pun juga masih diperkuat dengan iklan-iklan yang menonjolkan juga gelar di depan maupun di belakang namanya. Apa urgensi dari pencantuman gelar akademik di ranah publik seperti ini? Dugaan-dugaan semiotik itulah yang akhirnya muncul dikarenakan minimnya atau bahkan tidak adanya pesan penting dalam iklan tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pesan apapun yang mau dikatakan tetapi tampilan diri yang diutamakan. Tanpa bermaksud hati merendahkan iklan politik yang sudah dibuat, tetapi Pilkada adalah keputusan yang menuntut kebenaran dalam memilih, sehingga diharapkan iklan tidak hanya berbicara pada wilayah kemasan saja yang indah-indah tetapi juga memproyeksikan tujuannya ikut berkontestasi. Menjadi hal yang bagus lagi, jika iklan yang dibuat membuat masyarakat cerdas berpikir mengenai pilihannya. Jangan berikan masyarakat janji-janji, tetapi berikan masyarakat pencerahan dalam hal motivasi bagaimana memilih pemimpin yang benar bukan pemimpin yang narsis. Matinya Narcius karena terbuai dengan keindahan wajahnya sendiri. Jangan sampai calon pemimpin terpesona karena keberhasilannya di masa lalu, tetapi biarkan masyarakat terpesona pada apa yag akan dilakukan di masa mendatang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Meski akhirnya dua kontestan akan bertarung kembali dalam putaran kedua, yaitu Kaji dan Karsa, saya masih melihat bahwa yang menjadi pemenang nantinya tetaplah &lt;strong&gt;Golputers&lt;/strong&gt;, setelah pada putaran pertama berhasil memukul telak pasangan-pasangan yang ada.***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-7837406959464236722?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/7837406959464236722/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=7837406959464236722&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/7837406959464236722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/7837406959464236722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2008/09/catatan-iklan-politik-pilkada-jatim.html' title='CATATAN IKLAN POLITIK PILKADA JATIM'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SMCvLW5eJ1I/AAAAAAAAAD0/H3jSHaEyRVw/s72-c/ipul-karwo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-3151600777353125274</id><published>2008-09-04T20:42:00.000-07:00</published><updated>2008-09-15T01:52:09.296-07:00</updated><title type='text'>DJAKABAIA: Historiografis Kuliner Klasik Surabaya</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SMCrqLWXQkI/AAAAAAAAADs/ZP4PSMqOUeM/s1600-h/cover+buku.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242378707348701762" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SMCrqLWXQkI/AAAAAAAAADs/ZP4PSMqOUeM/s320/cover+buku.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Judul : &lt;strong&gt;DJAKABAIA; Djalan-djalan dan makan-makan&lt;br /&gt;di Soerabaia &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Vina Tania&lt;br /&gt;Pengantar : Bondan Winarno&lt;br /&gt;Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun terbit : 2008&lt;br /&gt;Tebal : iv + 63 halaman&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah buku panduan bagi pengidap penyakit untuk selalu merasakan petualangan rasa atas kuliner Indonesia, khususnya kuliner Surabaya. Ingin tahu kenapa Soto Gubeng PJKA Surabaya memasang sebuah papan bertuliskan ”Soto Masih Ada”? Konon ide memasang papan ini muncul karena seringnya pengunjung bertanya, ”Sotone jek onok ta?” (apakah sotonya masih ada/tersedia?). Karena sang penjual bosan ditanya dengan pertanyaan yang sama berulang kali, maka untuk lebih memudahkan dipasanglah papan tersebut. Lama kelamaan pengunjung akan tahu jika soto yang akan dibelinya ternyata sudah habis, maka ia tinggal melihat papannya sudah dilepas atau tidak. Kalau sudah dilepas, maka sotonya telah habis (hal. 38). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah penggalan isi buku tentang tempat-tempat makan tradisional Surabaya yang masih eksis sejak puluhan tahun lalu. Ditengah gempuran tempat makan &lt;em&gt;franchise&lt;/em&gt; kemudian tempat makan yang mengandalkan interior mewah maupun kemasan yang telah modern, buku berjudul Djakabaia ini hadir untuk ”menyelematkan” tempat makan yang bisa dikatakan ”kuno”. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Buku ini menjadi istimewa karena tiga hal. Pertama, gaya tulisan enak diikuti. Untuk ukuran jenis buku ringan yang berisi tentang informasi tempat makan di Surabaya yang relatif tua dan tak tergeserkan oleh perubahan tempat kuliner yang lebih modern, pemilihan kata bisa dikatakan bebas nilai. Ia tidak terlalu demonstratif namun juga tidak terlalu ribet. Yang jelas, pemilihan gaya tulisan khas anak muda, mengalir begitu saja. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tidak banyak buku kuliner yang menyingkap asal-usul atau yang bersifat historiografi. Sub judul buku ini yang memakai ejaan lama menunjukkan bahwa Djakabaia menyoroti tempat makan di Surabaya dengan angle yang lain. Buku tentang kuliner di Surabaya perlahan mulai ramai dibuat, namun tidak banyak yang menyingkap asal-usul sebuah tempat makan atau justru asal-usul nama makanan itu sendiri. Djakabaia mampu muncul dengan memberi alternatif panduan tempat makanan ”kuno” di Surabaya. Tentu saja dengan mengambil alternatif angle yang demikian, maka buku ini membangkitkan romantisme bagi yang pernah tinggal di Surabaya maupun membangkitkan rasa penasaran sejarah bagi yang belum ke Surabaya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kelebihan buku kuliner Surabaya ini terletak pada grafisnya. Karena itu, saya tidak berlebihan jika mengatakan bahwa buku ini adalah perpaduan antara informasi sejarah dan grafis (historiografis). Dilengkapi dengan peta, foto dan grafis yang memikat, Djakabaia segar di mata dan layak juga dinamai sebagai buku panduan, karena informasinya yang lengkap tersebut. Lay out yang tidak ”normal” seperti halnya buku-buku serupa ditunjang dengan permainan warna yang atraktif untuk menandai setiap bahasan semakin mengukuhkan bahwa inilah karya anak muda yang besar dan tinggal di Surabaya yang mencoba memotret khasanah kuliner Surabaya dengan ”caranya sendiri”. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, di tengah-tengah kekurangan buku ini hal yang paling mencolok adalah kurangnya bobot pada pilihan dan sejarah (seperti juga yang dikritik oleh Bondan Winarno dalam halaman pengantar). Komunikasi visual pada buku ini cukup menutupi kelemahan tersebut, karena sekali lagi rupanya Vina Tania dalam buku ini tidak sekedar menulis namun juga mendesain sendiri lay outnya sekaligus pemilihan tipografinya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ekonomi Rakyat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan mengenai pilihan tempat yang direkomendasikan oleh Vania pasti akan menyeruak di permukaan. Jangan menggugat penulis jika Anda tidak mendapati tempat makan di Surabaya yang menurut Anda lebih layak ada di buku ini. Perkara kuliner adalah perkara relatifitas. Perkara ketidakpastian. Bondan Winarno dalam pengantarnya mengatakan, ”beberapa tempat jika tidak bisa dikatakan sebagai top-markotop, pilihan itu masih tergolong second best”. Karena itu buku ini memang akan terus menimbulkan perdebatan jika tidak segera menyadarkan diri untuk kembali kepada misi awal mengapa buku ini diciptakan, yaitu mengangkat pusaka kuliner Surabaya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The best 20&lt;/em&gt; seperti yang diaku oleh Vania menimbulkan konsekuensi-konsekuensi tertentu apalagi jika diperhadapkan pada ekonomi politik. Buku yang ditulisnya ini tak ayal lagi akan menimbulkan perbincangan tentang siapa dibalik Vina maupun apa bedanya buku ini dengan buku yang sifatnya komersial (plus promosi)? Jangan-jangan Vina berada dalam kepentingan kapital maupun sosial tertentu, sehingga buku ini begitu dominan mengangkat tempat-tempat kaki lima. Mungkin terasa naif menduga seperti itu, karena anak muda seperti Vina sama halnya anak muda lainnya selalu berpandangan di mana saja oke-oke saja. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Makanan dalam perkembangan budaya diproduksi berdasarkan konsep dan makna serta kategori-kategori yang dikonstruksi dalam sebuah sistem sosial. Karena hal itulah dalam fenomena makanan terdapat semacam mistifikasi sebagaimana dikatakan Marx, yaitu bagaimana relasi di antara makanan diandaikan sebagai relasi di antara orang-orang dalam sebuah sistem sosial. Di dalam masyarakat, makanan dijadikan penanda untuk memberi kategori kelas sosial berdasarkan jenis makanannya, penataan makanan bahkan tata cara makan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Klasifikasi, diskriminasi dan hierarki sosial yang terjadi dalam fenomena makanan memang tidak bersifat tetap, namun akan berubah sesuai dinamisasi masyarakat serta kebudayaan. Dominannya tempat-tempat yang khas kaki lima masuk dalam rekomendasi buku ini rupanya juga berseberangan dengan buku-buku sejenis lainnya yang banyak didominasi resto maupun kafe dengan tempat yang tentu saja memainkan kelas-kelas sosial tertentu. Bukan bermaksud memperlebar kelas sosial tersebut jika Vina lebih memilih kaki lima, tetapi lebih berhasrat pada ”penyelamatan” pada ekonomi mereka sekaligus memberikan citra yang positif dalam lintas kelas sosial bahwa pusaka kuliner Surabaya ternyata masih diselamatkan justru oleh pelaku-pelaku usaha kaki lima. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa tempat, kuliner yang dijajakan oleh pedagang kaki lima ternyata merontokkan teori Marx tentang mistifikasi makanan. Karena ternyata ketika hari semakin malam, maka tempat-tempat itulah yang semakin ramai dikunjungi orang bahkan dalam lintas kelas sosial. Mulai dari yang hanya bersepeda hingga yang bermobil mewah semua menyatu dalam perburuan makanan. Tidak percaya? Tengoklah Rawon Setan Bu Sup di depan Hotel JW Marriot Surabaya!....***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(dimuat di Jawa Pos, 14 September 2008)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-3151600777353125274?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/3151600777353125274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=3151600777353125274&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/3151600777353125274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/3151600777353125274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2008/09/djakabaia-buku-kuliner-klasik-surabaya.html' title='DJAKABAIA: Historiografis Kuliner Klasik Surabaya'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SMCrqLWXQkI/AAAAAAAAADs/ZP4PSMqOUeM/s72-c/cover+buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-2742350356046861462</id><published>2008-09-04T20:27:00.000-07:00</published><updated>2008-09-04T20:40:07.316-07:00</updated><title type='text'>KENAPA MASYARAKAT CINTA TELEVISI?</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SMCpbn7jIHI/AAAAAAAAADk/g8DYEEPrkH4/s1600-h/televisi.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242376258299568242" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SMCpbn7jIHI/AAAAAAAAADk/g8DYEEPrkH4/s320/televisi.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ada pertanyaan yang meluas di masyarakat tentang televisi di Indonesia. Mengapa setiap kali Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melayangkan teguran kepada beberapa stasiun televisi yang melanggar etika pertelevisian terkesan tidak ada perubahan yang berarti dari tayangan televisi di rumah kita? Masih saja ditemui adegan kekerasan baik fisik maupun mental dan bahkan menyerang martabat orang lain. Yang terbaru tentu saja pertanyaan, mengapa hari tanpa televisi tanggal 20 Juli yang lalu terkesan “gagal” bahkan ada kelompok masyarakat yang menentang kampanye tersebut?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hegemoni Televisi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) di tahun 2002 anak-anak menonton televisi selama 30-35 jam, maka pada tahun 2006 angka itu meningkat menjadi 35-40 jam seminggu dengan pilihan acara yang dinilai tidak aman dan tidak sehat (Reny Triwardhani, 2007). Bisa jadi jika penelitian dilakukan lagi di tahun 2008 ini, dalam sehari anak menonton televisi lebih banyak dari waktu mereka untuk tidur apalagi waktu mereka untuk beraktifitas selain menonton televisi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Alasan pertama mengapa usaha KPI gagal begitu pula kampanye hari tanpa televisi gagal adalah anak telah menjadi audiens potensial. Acara televisi yang sekarang didominasi acara audisi-audisian tak pelak menjadi acara kesukaan anak-anak sehingga perlu dibuatkan format acara audisi untuk anak. Artinya pula, dengan kemasan yang sama seperti orang dewasa bahkan dengan lelucon yang sama serta penggunaan bahasa yang sama, maka anak telah menjadi audiens potensial. KPI gagal dan kampanye gagal, karena anak menjadi alasan pembenar atau tameng bagi industri televisi, karena faktanya acara yang ditentang KPI maupun LSM Anak justru itu yang disukai oleh masyarakat yang direpresentasikan oleh audiens anak-anak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Alasan kedua adalah masyarakat Indonesia dewasa ini telah menjelma menjadi masyarakat yang super sibuk. Orang tua sudah disibukkan oleh pekerjaan rutinitas mereka, sehingga tidak ada waktu untuk sekedar menemani anaknya menonton televisi sekaligus memilih program acara yang sesuai dengan anaknya. Untuk menemani anaknya saja tidak mampu apalagi untuk berpikir kreatif tentang alternatif kegiatan selain menonton televisi. Televisi pun berubah menjadi benda hidup yang menemani anak mereka. Kemudian dimana dan bagaimana peran orang tua bagi anaknya? secara jujur harus dijawab, mereka sudah tidak ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Alasan ketiga adalah keluarga telah terhegemoni televisi. Seburuk apapun acara televisi bagi anaknya, tetap baik bagi orang tua. Bagi mereka, kegiatan menonton televisi adalah kegiatan yang paling murah seperti yang sering didengung-dengungkan oleh pihak industri pertelevisian. Mengapa hal ini bisa terjadi? lagi-lagi faktor orang tua yang tidak mau direpotkan berpikir alternatif rekreasi visual selain menonton televisi. Hegemoni televisi dengan keywordnya yang jelas, yaitu rekreasi paling murah bagi keluarga lagi-lagi menjadi alasan sangat besar untuk menunjukkan sebenarnya keluarga Indonesia yang sangat tidak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Negosiasi Menonton Televisi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Proses negosiasi sebagai counter atas mazhab Frankfurt yang sering berteori, bahwa media sangat kuat dalam mengkooptasi dan mengkonstruksi budaya sebenarnya menjadi ”senjata” atas kegiatan menonton televisi. Negosiasi muncul diantaranya melalui &lt;em&gt;remote control&lt;/em&gt;. Ia dapat mengganti &lt;em&gt;channel&lt;/em&gt; jika acara televisi dirasa tidak bagus untuk perkembangan anak. Namun &lt;em&gt;remote control&lt;/em&gt; juga lambat laun berubah menjadi simbol atas ketidakberdayaan penontonnya untuk memencet tombol &lt;em&gt;off&lt;/em&gt;. Ketidakberdayaan itulah yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di negara maju, negara tidak membentuk komisi-komisi yang bertugas mengontrol urusan domestik seperti televisi. Di sana, justru kelompok-kelompok sipil seperti guru TK, tokoh masyarakat bahkan masyarakat-masyarakat yang hanya sekedar peduli terhadap tayangan televisi itulah yang membentuk semacam KPI. Mereka terbukti menjadi palu godam yang sangat kuat dalam menekan pihak industri televisi untuk memperhatikan hak-hak anak bahkan masyarakat umum tentang kualitas acara televisi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan masyarakat kita? tidak bermaksud skeptis, namun selama masyarakat kita terhegemoni dengan acara audisi-audisian seperti yang dipertontonkan oleh televisi, maka jangan berharap ada kekuatan kualitas dari tayangan televisi. Karena bukankah citra kualitas masyarakat kita dapat dilihat dari kualitas acara televisi yang mereka tonton? Jika masyarakat sipil kita kuat dalam mengkritisi televisi mungkin tidak diperlukan lagi KPI atau bahkan tidak diperlukan lagi kampanye hari tanpa televisi, karena masyarakat sudah sadar bahwa tanpa televisi pun mereka tetap bisa hidup.***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-2742350356046861462?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/2742350356046861462/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=2742350356046861462&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/2742350356046861462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/2742350356046861462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2008/09/kenapa-masyarakat-cinta-televisi.html' title='KENAPA MASYARAKAT CINTA TELEVISI?'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SMCpbn7jIHI/AAAAAAAAADk/g8DYEEPrkH4/s72-c/televisi.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-1315736002567071314</id><published>2008-08-21T18:58:00.000-07:00</published><updated>2008-08-21T19:14:18.952-07:00</updated><title type='text'>IDE ITU BERNAMA  M. ARIEF BUDIMAN, S.Sn</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SK4fJSJUXaI/AAAAAAAAADc/ktjezwukhNw/s1600-h/Cover_Buku_Ide_Segar.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237157661028670882" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SK4fJSJUXaI/AAAAAAAAADc/ktjezwukhNw/s320/Cover_Buku_Ide_Segar.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Saya bukanlah siapa-siapa di depannya, kecuali saya adik kelas di ISI Jogja yang saat itu selalu kagum pada siapa saja yang menginspirasi orang lain. Arief, begitu populernya dia sekarang ini jauh sebelum ia melaunching buku Jualan Ide Segar. Sekali lagi, saya harus mengakui bahwa saya harus kagum pada siapa saja yang mampu menginspirasi orang lain untuk berbuat dan bertindak nyata untuk mewujudkan mimpinya, termasuk mengagumi buku ini. Buku yang lahir juga dari ide segar Arief. Berat untuk tidak mengatakan bahwa kita mungkin manusia yang malas untuk mewujudkan mimpi, minimal untuk membaca buku ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan, sungguh saya juga harus mengakui kebanggaan saya tidak saja mengenalnya di kala mahasiswa atau dalam kaitan ritual bisnis mengerjakan &lt;em&gt;company profile&lt;/em&gt; untuk DKV UK Petra, namun juga bagaimana tangan dinginnya mampu meracik klien sebesar Gudang Garam beriklan menyambut HUT RI ke-63. Iklan yang keluar dari kebiasaan Gudang Garam yang biasanya gegap gempita melibatkan sebanyak mungkin orang dalam penggarapan yang kolosal, namun di tangan Petakumpet, Gudang Garam menjadi indutri yang sangat 'berbudaya'. Tentu saja untuk melahirkan iklan seperti ini dibutuhkan ide segar untuk meyakinkan bahwa keluar dari kelaziman bukanlah sebuah dosa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Begitu minimnya kritik yang saya dapatkan dari buku ini menjadikannya ia layak dikonsumsi tidak saja bagi penggila buku, namun juga bagi penggila dunia yang semakin segar oleh ide-ide segar.***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-1315736002567071314?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/1315736002567071314/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=1315736002567071314&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/1315736002567071314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/1315736002567071314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2008/08/ide-itu-bernama-m-arief-budiman-ssn.html' title='IDE ITU BERNAMA  M. ARIEF BUDIMAN, S.Sn'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SK4fJSJUXaI/AAAAAAAAADc/ktjezwukhNw/s72-c/Cover_Buku_Ide_Segar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-7626326881246061400</id><published>2008-08-15T01:47:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T01:51:57.548-07:00</updated><title type='text'>SSF 2008; AKU BELANJA, MAKA AKU ADA</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SKVDgHO-1HI/AAAAAAAAADU/1sMP3AsHDoQ/s1600-h/SSF.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234664360864830578" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SKVDgHO-1HI/AAAAAAAAADU/1sMP3AsHDoQ/s320/SSF.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Berbelanja adalah kegiatan berbudaya. Jangan lagi membayangkan budaya sebagai material yang secara periodik dikategorikan sebagai ‘ketinggalan jaman’. Budaya itu apa yang kita lakukan dulu, kini bahkan esok. Ia bergerak dinamis masuk ke segala lini kehidupan manusia, termasuk membicarakan tentang belanja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika dulu berbelanja dimaknai sebagai pertukaran nilai secara barter, kemudian pergeseran itu berkembang hingga kini ke pusat-pusat perbelanjaan. Pasar tradisional yang sempat menjadi penanda budaya kini mulai tergantikan dengan hadirnya supermarket-supermarket. Jika dulu pasar barter dan pasar tradisional mengandalkan pada kehadiran muka dengan muka, kini pasar modern yang direpresentasikan melalui supermarket menghadirkan muka dengan barang. Jika dulu ada negosiasi secara komunikasi verbal, maka kini negosiasi terepresentasikan melalui papan kertas yang digantung di atap maupun ditempel di tempat-tempat point of purchase (POP) dengan tulisan ”discount” atau ”off”.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Surabaya Shopping Festival (SSF) dalam rangka HUT Surabaya ke-715 adalah kegiatan budaya masyarakat urban. Antrian panjang di depan kasir seperti diperlihatkan oleh Jawa Pos pada awal bulan Mei menjadi visualitas. Tak ayal lagi, ramainya orang berbelanja dan antrian orang membayar di kasir menjadi sebuah budaya visual.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Merayakan Konsumsi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seringkali aktifitas orang berbelanja dijadikan tolok ukur tentang daya beli masyarakat, apakah meningkat atau menurun. Jika meningkat berarti perekonomian masyarakat bagus, namun sebaliknya jika menurun maka perekonomian buruk. Ini juga yang dijadikan dasar oleh Wakil Presiden, Jusuf Kalla ketika menjawab kritik tokoh-tokoh masyarakat mengenai semakin meningkatnya kemiskinan di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Atau dengan kata lain, kalau orang masih suka berkeliaran di mall, maka itu berarti ekonomi Indonesia membaik. Selintas pernyataan tersebut menyederhanakan permasalahan. Namun kembali kepada berbelanja tadi, aktifitas tersebut menjadi sangat penting tidak saja bagi pengusaha, namun juga bagi penguasa daerah untuk menunjukkan tingkatan daya beli masyarakatnya yang tetap tinggi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perayaan konsumsi ini tidak bisa dilepaskan dari ideologi konsumerisme yang didorong secara simultan oleh iklan. Pengiklan mendorong sesuatu ”untuk menjadi”. Iklan juga yang mendorong ”kebutuhan” kepada ”keinginan”.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Thorsten Veblen (1953) dan Pierre Bourdieu (1984) menggeser argumen tersebut dengan menyatakan, bahwa kegiatan berbelanja adalah budaya hidup yang merupakan area penting bagi pertarungan dalam berbagai kelompok dan kelas sosial. Mereka mendefinisikan diri dan status mereka dengan belanja. Apa yang dibeli menjadi nilai sosial. Tidak percaya? cobalah sesekali memperhatikan antrian di kasir supermarket. Jika diperhatikan, sambil menunggu antrian iseng-iseng para pembelanja pasti akan memperhatikan trolley milik orang lain, apa lagi jika bukan untuk mendata barang apa yang ada di kita tapi tidak ada di orang lain, atau apa yang ada di orang lain tetapi kita belum membelinya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Program festival belanja di Surabaya telah berhasil meningkatkan daya beli masyarakatnya, namun kini yang harus menjadi perhatian selanjutnya bagi Pemerintah Kota Surabaya adalah ada pihak lain yang dinihilkan keberadaannya saat festival ini dilakukan, yaitu kaum buruh.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Ekonomi Politik Belanja&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Karl Marx dan Frederick Engels mengungkapkan transisi dari feodalisme ke kapitalisme adalah suatu transisi dari produksi yang digerakkan oleh kebutuhan menuju produksi yang digerakkan oleh keuntungan. Dalam masyarakat kapitalis, para buruh membuat barang-barang demi mendapatkan upah. Mereka tidak memiliki barang-barang itu, karena barang itu dijual di pasar dengan perolehan keuntungan. Oleh karena itu untuk mendapatkan barang-barang, para buruh harus membelinya dengan uang, sheingga para buruh menjadi konsumen untuk selanjutnya muncul yang namanya masyarakat konsumen (John Storey, 1996).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Barang-barang yang dikonsumsi oleh masyarakat dalam festival belanja tidak memperhitungkan buliran keringat para buruh, yang belum tentu ikut membeli barang yang dibuatnya. Bisa jadi keberadaannya di pusat-pusat perbelanjaan adalah sekedar melepas rasa panas untuk sekedar merasakan dinginnya AC atau melakukan aktifitas menonton sekedar melewatkan waktu luang.&lt;br /&gt;Apakah dengan hal tersebut berarti daya beli masyarakat tetap meninggi? Tidak. Ada tolok ukur lain yang patut diperhatikan, yaitu jumlah barang yang dikonsumsi. Ketika golongan menengah ke atas membeli barang dengan memenuhi troli, mereka hanya akan membeli dua atau tiga barang asalkan bisa ikut merasakan langsung euforia festival belanja yang hanya berlangsung sebulan dalam setahun. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kaum buruh dengan pendapatan yang kecil atau juga para pramuniaga, SPG maupun golongan buruh level bawah yang bersentuhan langsung dengan barang nyaris dinihilkan keberadaannya dalam festival ini. Keberadaannya hanya menjadi objek untuk menilai keberhasilan program festival ini namun tidak dilibatkan secara langsung secara ekonomi jika festival ini dipahami sebagai perayaan. Ia hanya bisa melihat aktifitas orang membeli barang, namun ia berpikir panjang untuk ikut membeli.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maka, jadilah berkerumunnya orang di mall selain memang ada yang berbelanja, mereka hanya sekedar menonton orang berbelanja. Aktifitas inilah yang dipahami sebagai budaya penggemar. Penggemar melihat aktifitas belanja sebagai yang terobsesi (laki-laki) atau yang larut dalam histeria (perempuan) tetapi tidak ikut menjadi pelaku aktifitas berbelanja. Jargon ”aku berpikir, maka aku ada” miliknya Rene Descartes berubah menjadi ”aku belanja, maka aku ada”, karena memang aktifitas belanjalah yang membuat terbentuknya identitas diri.&lt;br /&gt;Yang terpenting untuk dilakukan di masa mendatang adalah, bagaimana dengan festival tersebut tidak hanya ”keinginan” yang ditawarkan, namun juga ”kebutuhan”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-7626326881246061400?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/7626326881246061400/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=7626326881246061400&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/7626326881246061400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/7626326881246061400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2008/08/ssf-2008-aku-belanja-maka-aku-ada.html' title='SSF 2008; AKU BELANJA, MAKA AKU ADA'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SKVDgHO-1HI/AAAAAAAAADU/1sMP3AsHDoQ/s72-c/SSF.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-6614545069678006627</id><published>2008-08-15T01:39:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T01:46:44.541-07:00</updated><title type='text'>GREY CHICKEN; CERMIN GAGALNYA PENDIDIKAN?</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SKVB7LDsyyI/AAAAAAAAADM/q4EIHqhXi_8/s1600-h/contek.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234662626724465442" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SKVB7LDsyyI/AAAAAAAAADM/q4EIHqhXi_8/s320/contek.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Media massa lokal di Surabaya beberapa bulan yang lalu sedang diramaikan oleh pemberitaan investigasi mengenai fenomena ’”ayam abu-abu” atau menurut istilah salah satu koran lokal Surabaya dinamakan sebagai grey chicken, istilah yang dapat memunculkan sikap tidak manusiawi. Grey Chicken adalah kegiatan prostitusi yang dilakukan oleh anak-anak SMA selepas sekolah. Pemberitaan menjadi heboh dan diikuti oleh berbagai opini yang jika semakin dikritisi semakin menyudutkan pada satu pihak dan menihilkan pihak lain. Sang pelaku dan pendidikan menjadi sasaran tembak, bahkan ada yang menyebutnya sebagai kegagalan pendidikan di Indonesia. Surabaya hanyalah salah satu kota yang (kebetulan) diekspos, namun saya yakin di banyak kota di Indonesia fenomena grey chicken adalah visualitas yang kerap ditemui keberadaannya meski kerap ’malu-malu’ muncul di permukaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menjadi sesuatu yang naif jika fenomena grey chicken di Surabaya kemudian hanya mempersalahkan sistem pendidikan sebagai satu-satunya biang ambruknya moral. Namun saya sepakat bahwa fenomena ini sebenarnya juga menjadi pekerjaan rumah bagi sistem pendidikan kita yang kini hanya mengejar class world education tetapi melupakan hakekat pendidikan itu sendiri dalam hal salah satunya yaitu pembangunan watak menjadi kaum terdidik. Sekolah (dan juga universitas) kini berlomba-lomba menyejajarkan dirinya sebagai institusi pendidikan yang bertaraf dunia agar mencapai nilai akreditasi yang bagus dan dapat bertanding dengan negara maju. Hal demikian tidaklah salah, namun apakah kemudian tugas terpenting insititusi pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan bangsa dalam hal intelektualitas namun juga cerdas secara kepribadian untuk menumbuhkan harga diri terhempaskan seiring tuntutan menjadi &lt;em&gt;world class schoo/?&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yang menjadi pertanyaan adalah apakah dengan situasi sistem pendidikan kita seperti ini kemudian hal itu hanyalah satu-satunya faktor ambruknya moral pelajar kita? atau jangan-jangan hal seperti ini hanya sekedar melemparkan tanggung jawab keluarga ke sekolah? Masyarakat sipil kelihatan sekali menjadi tidak berdaya. Bagaimana dengan pemakai jasa grey chicken (laki-laki)? Media massa dan bahkan kita tidak pernah memperbincangkannya, apakah karena mereka laki-laki sehingga kita menjadikannya sangat permisif? Saya teringat ucapan Arswendo Atmowiloto yang mengatakan:”Kalau cowok banyak pacarnya, dibilang hebat, kalau cewek banyak pacarnya, dibilang murah. Kalau cowok nakal, dibilang lumrah, kalau cewek nakal, dibilang dunia mau kiamat” (Arswendo Atmowiloto, Majalah HAI , 10/1/1989).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Kuasa atas Tubuh&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Perempuan lebih mudah dijelaskan pada wacana oposisi biner yang menempatkan perempuan pada posisi yang negatif dan tak berdaya. Sama dengan pandangan kita ketika menilai para pelaku grey chicken adalah perempuan yang lemah dan tak berdaya di tengah gempuran keinginan populer seperti memiliki rumah, HP multifungsi maupun benda-benda lain yang didapatkan dengan mudah disaat usia masih belasan tahun. ”Kelemahan” perempuan ditunjang dengan status yang masih pelajar menjadikannya sebagai sasaran tembak laki-laki yang berdompet tebal untuk memanfaatkan. Inilah stereotip tentang perempuan. Masyarakat manapun, termasuk di Indonesia stereotip negatif pada perempuan selalu berlangsung. Makhluk Tuhan yang lemah, sering dipakai sebagai bahasa untuk menyudutkan perempuan dan perempuan sendiri semakin mengamininya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keperawanan dihargai mahal karena daya fantasi laki-laki dalam menciptakan model-model perempuan untuk memenuhi hasratnya. Mereka menganggap keperawanan itu identik dengan kebodohan, tidak berdaya, bau kencur, ketidak-tahuan dan sempit pikiran. Sehingga dengan demikian menjadi sebuah kenikmatan untuk mempermainkannya meskipun sadar bahwa usia anaknya juga sama dengan usia grey chicken. Karena itu tidak mengherankan jika pelaku dunia prostitusi yang kerap laris adalah mereka yang masih pelajar. Label status sosial sebagai pelajar identik dengan keperawanan. Laki-laki kemudian berhasrat untuk melakukan kuasa atas tubuh perempuan itu sebagai representasi keberkuasaan atas ketidakberdayaan (Foucault, 1978). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Grey chicken jika diamati tidak hanya berbicara pada tataran ada pelajar perempuan menawarkan jasa seksual pada laki-laki, namun grey chicken berbicara pada tataran dominasi laki-laki dalam menciptakan tren industri seksual. Pergeseran pelaku seksual komersial yang kini melanda pelajar adalah gambaran bahwa hasrat dan fantasi laki-laki kini mengarah pada gambaran anak-anak di bawah umur setelah beberapa waktu sebelumnya marak dengan ”ayam kampus”. Sadar bahwa laki-laki menyukai pada keperawanan, hal ini kemudian dikomodifikasi oleh agen-agen grey chicken untuk menciptakan obat atau jamu yang menimbulkan efek perawan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari sinilah kemudian kita berpikir, apakah sampai di sini pendidikan formal di sekolah bahkan agama pun turut dipersalahkan pada kasus grey chicken ini? Keluarga terlampau mudah untuk melempar tanggung jawab, sementara mereka sebagai kekuatan sipil justru gagal. Kontrol sosial menjadi longgar karena jangan-jangan mereka juga memanfaatkan keberadaan grey chicken dan justru mendapatkan informasi lebih banyak dalam laporan mengenai fenomena ini dalam media massa di Surabaya. Laporan investigasi semacam ini pun menjadi buah pertanyaan. Apakah kita geram dengan keadaan sosial ini ataukah laporan investigasi itu semakin memudahkan mendapatkan informasi bagaimana mendapatkan sekaligus harganya? Pertanyaan yang harus diperhatikan oleh media massa jika berkomitmen untuk menghapuskan pelacuran anak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagaimana pula dengan para orang tua? Apakah kita juga cukup puas dengan cara memenuhi semua keinginan dan kebutuhan material anak sebagai imbalan atas kesibukan kita sebagai orang tua? Sekarang segalanya menjadi gampang dengan mencurahkan kesalahan kepada negara, sekolah dan bahkan mungkin juga agama ketika masalah domestik yang semestinya menjadi urusan keluarga tidak lagi diperhatikan. Globalisasi dalam segala hal tidak bisa terelakkan dalam dunia yang semakin terbuka dan tipis ini. Grey chicken yang ingin memenuhi kebutuhannya dengan materialisme itu sebenarnya terjebak pada pemenuhan globalisasi palsu. Yang kini diperlukan adalah sikap dan kontrol sebagai sosial maupun sebagai keluarga. Rasa peduli dan saling keterkaitan satu dengan yang lainnya akan membentuk sikap politik yang melahirkan kontrol sosial yang kuat.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Diperlukan semua pihak untuk terlibat aktif dalam kontrol sosial, termasuk industri-industri pariwisata yang menjadi lahan basah bagi industri seks ini. Kontrol sosial yang semakin ketat, menjadikan ruang gerak semakin dipersempit bagi pemenuhan fantasi liar dan hasrat bodoh laki-laki dalam menciptakan industri pelacuran anak. Kehadiran grey chicken bisa tidak kita sadari atau juga kita sadari namun pura-pura kita tidak menyadarinya. Atau juga kita menyadarinya, untuk kemudian suatu saat kita memanfaatkannya?...&lt;strong&gt;Gawat!!!***&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-6614545069678006627?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/6614545069678006627/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=6614545069678006627&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/6614545069678006627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/6614545069678006627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2008/08/grey-chicken-cermin-gagalnya-pendidikan.html' title='GREY CHICKEN; CERMIN GAGALNYA PENDIDIKAN?'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SKVB7LDsyyI/AAAAAAAAADM/q4EIHqhXi_8/s72-c/contek.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-479634735041730820</id><published>2008-06-03T06:31:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T12:59:23.001-08:00</updated><title type='text'>GILIRAN MUNIR YANG MENANGIS</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SEVMk_AGTXI/AAAAAAAAADE/IM1yi9N6Hpc/s1600-h/Bubarkan_FPI.png"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207652742394695026" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SEVMk_AGTXI/AAAAAAAAADE/IM1yi9N6Hpc/s320/Bubarkan_FPI.png" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saat Munir, pahlawan HAM dan pejuang demokrasi itu meninggal 2004 silam, banyak orang terkesiap tak percaya dan menangis. Namun kini seiring dengan kekerasan massa yang dilakukan oleh Laskar Pembela Islam, yang mengaku sebagai paramiliter dari Front Pembela Islam terhadap Aliansi kebangsaan yang menyuarakan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, maka giliran Munir yang sekarang menangis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bagaimana tidak, penggantinya di Kontras, sekarang berubah haluan menjadi sosok yang sangat dekat dengan kekerasan, Munarman. Ia telah mengubah dirinya menjadi monster yang mengancam kehidupan demokrasi, kebebasan beragama dan keadilan yang dulu disuarakannya dan bahkan menjadi janjinya di samping pusara pendahulunya, Munir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Tuntutan untuk membubarkan FPI? ah...tuntutan itu sudah lama diserukan sejak 2006. Kita tunggu saja, paling-paling pemerintah memanfaatkan kebiasaan rakyatnya yang mudah lupa. Foto di atas adalah hasil pencarian foto dari sebuah website di tahun 2006. Dua tahun yang lalu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Benarlah anggapan itu. Munir menjadi sosok seperti&lt;br /&gt;rajawali yang terbang tinggi dengan kegagahan, keberanian dan mampu&lt;br /&gt;menghadapi badai, namun juga yang mengalami kesepian.&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-479634735041730820?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/479634735041730820/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=479634735041730820&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/479634735041730820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/479634735041730820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2008/06/giliran-munir-yang-menangis.html' title='GILIRAN MUNIR YANG MENANGIS'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SEVMk_AGTXI/AAAAAAAAADE/IM1yi9N6Hpc/s72-c/Bubarkan_FPI.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-7002192644541735979</id><published>2008-04-21T22:25:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T12:59:23.251-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book'/><title type='text'>MERAYAKAN (LAGI) SEMIOTIKA DESAIN KOMUNIKASI VISUAL</title><content type='html'>&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5191937898608723778" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SA14Ar52B0I/AAAAAAAAAC8/a806V2hZn4k/s320/sampul-semiotika-komvis.gif" border="0" /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Judul Buku : &lt;strong&gt;Semiotika Komunikasi Visual&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Penulis : Sumbo Tinarbuko&lt;br /&gt;Pengantar : Yasraf Amir Piliang&lt;br /&gt;Penerbit : Jalasutra&lt;br /&gt;Tahun : 2008&lt;br /&gt;Tebal : xvi + 118 halaman &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;Sebagai penciptaan, desain komunikasi visual (DKV) lebih banyak bermain dalam tataran ‘mencipta’; membuat. Menjadi desainer grafis, desainer iklan maupun desainer multimedia-interaktif tentulah menjadi dambaan bagi mahasiswa yang belajar tentangnya. DKV bersifat rasional. Sebagai seni terapan, DKV dipahami sebagai salah satu upaya pemecahan masalah (komunikasi, atau komunikasi visual) untuk menghasilkan suatu desain yang paling baru di antara desain yang baru (hal. 31). Dari sinilah kemudian lahir corporate identity, billboard, iklan TV, iklan majalah, iklan surat kabar, sign system, desain perwajahan, komik, ilustrasi, animasi, motion graphic, web design, dan masih banyak lagi. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pengkajian, DKV seakan menjadi ’bunga baru’ yang ditunggu-tunggu kemekarannya oleh para petani tentu saja dengan perawatan, pengembangan dan penelitian yang membuatnya menjadi ’bunga’ yang mekar nan indah. Mengulik wilayah teori DKV inilah yang menjadi menarik. Di luar sana, banyak sekali pendekatan untuk mengkritisi DKV, mulai dari pendekatan seni, psikologi, sosiologi, filsafat, marketing dan budaya. Atau juga mulai dari paradigma evolusi kebudayaan hingga paradigma post-modernisme. Mulai dari analisis etnografi, politik hingga semiotika. Ketersediaan metode inilah yang mengakibatkan DKV juga dijadikan objek pengkajian secara mengasyikkan. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sumbo Tinarbuko, dosen DKV ISI Yogyakarta sekaligus praktisi konsultan desain menjungkir-balikkan anggapan bahwa menulis bagi orang visual sebagai kutukan. Buku yang ditulisnya ini tidak hanya untuk mengajak mikir (ranah verbal) namun juga bisa untuk menstimulasi visual. Karena itulah buku ini menambah ketersediaan buku-buku lokal berbasis desain maupun seni rupa. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengapa Semiotika?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada beberapa tahun yang lalu, ide tentang semiotika ini menjadi semacam ilmu yang latah. Industri perbukuan menjadikan semiotika sebagai ilmu yang fashionable (meminjam istilah Kris Budiman, penulis Semiotika Visual), karena beramai-ramai penulis memfokuskan arah ilmunya pada pendekatan yang satu ini. Hal tersebut juga diikuti oleh mahasiswa yang berkutat dalam bidang pengkajian untuk membedah produk-produk DKV dengan pisau semiotika. Tidak mengherankan kemudian jika banyak daftar skripsi entah di perpustakaan maupun di &lt;em&gt;library online&lt;/em&gt; menggunakan semiotika seakan-akan menjadi satu-satunya ’alat bedah’. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Buku ini lahir di saat gegap gempita atau perayaan tentang semiotika telah menurun. Memang terlambat kesannya, namun tidak bisa disangkal lagi, semiotika sebagai ilmu yang mempelajari tanda akan tetap relevan dipakai sebagai salah satu ’pisau bedah’ dalam memahami visual. Perdebatan-perdebatan ilmiah yang mendasari pemaknaan visualisasi sebuah karya desain berdasarkan semiotika inilah yang biasanya mendasari juga bagi desainer untuk menerapkan secara ’tepat’ kode-kode visualnya. Tentu saja sebagai seni terapan seperti yang disebutkan di awal, karya desain yang dilahirkan sebagai problem solver ingin dimaknai ’tunggal’ agar tidak menghasilkan kesalahan komunikasi yang berimbas pada image sebuah produk atau jasa. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Alur berpikir secara semiotik bagi desainer tidak hanya dipandang sebagai teori belaka tetapi sebagai rasionalitas ketika desainer mengeluarkan idenya dalam karya visual. Nah, karya yang rasionalitas dan memakai alur semiotika inilah yang biasanya di lain pihak juga dihindari oleh desainer, karena dianggap tidak terlalu kreatif, padahal jika dikaji lebih jauh lagi, karya-karya iklan yang sekarang banyak bertebaran di televisi maupun di media massa cetak menjadi beraroma semiotis. Justru semiotika pada saat-saat tertentu dipakai untuk membedah visual yang tidak rasional untuk menghasilkan pemaknaan yang rasional dan sejalan dengan klien. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Semiotika Komunikasi Visual tidak hanya tepat dilahirkan ketika minimnya buku yang mengkaji tentang visualitas dari dalam negeri namun buku ini juga tepat dilahirkan manakala pengkajian tentang DKV lahir dimana-mana. Pendekatan semiotika menjadi salah satu alat penting dalam menarasikan atau juga memaknai karya desain, serta juga sebenarnya bisa dipakai untuk menstimulus ide mengenai kemungkinan-kemungkinan tanda digunakan. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, saya ingin mengkritisi buku ini karena aroma yang dilahirkan hanyalah melulu tentang tanda. Bukankah yang terpenting dari semiotika bukan ’tanda’ itu sendiri namun bagaimana relasi-relasi antar tanda tersebut berlangsung? Dari contoh-contoh yang disebut dalam buku, analisis semiotika hanya berlangsung terpotong-potong antar tanda. Begitu pula minimnya sumber asli, seperti Roland Barthes dan Charles S. Peirce dalam buku ini turut mempengaruhi alur berpikir sehingga menjadikan teori yang dipakai dalam buku ini hanyalah penelusuran sumber-sumber sekunder bahkan tersier. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Penelusuran sumber asli bukan hanya kutipan-kutipan dari sumber tersier tersebut diperlukan untuk mencegah kekeliruan mendasar yang ’terbiasa’ dipakai seperti menyebutkan Saussure sebagai tokoh semiotika (hal. 11), padahal Saussure adalah tokoh linguistik dan tidak pernah melontarkan gagasan tentang semiotika kecuali melontarkan istilah semiologi meski tidak pada tataran konten (lihat Course in General Linguistic, 1959). Begitu pula pemahaman mendasar yang terbalik-balik, seperti menyebutkan Saussure dan Barthes dengan signifier dan signified (hal. 21), padahal Barthes dikenal dengan denotasi, konotasi dan retorika-nya. Sifat kearbitreran tanda, hingga kemungkinan tanda tidak bersifat polisemik lagi, namun monosemik tidak dijelaskan secara komprehensif. Analisis semiotika dalam contoh-contoh yang disebutkan dalam buku pada akhirnya menjadi sangat kompleks dan cenderung ’memberondong’ sasaran yang sebenarnya tidak perlu ’peluru’ yang banyak. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Mari, sekarang kita bermain tanda!&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-7002192644541735979?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/7002192644541735979/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=7002192644541735979&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/7002192644541735979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/7002192644541735979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2008/04/merayakan-lagi-semiotika-desain.html' title='MERAYAKAN (LAGI) SEMIOTIKA DESAIN KOMUNIKASI VISUAL'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SA14Ar52B0I/AAAAAAAAAC8/a806V2hZn4k/s72-c/sampul-semiotika-komvis.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-3845814391394117450</id><published>2008-04-16T18:33:00.001-07:00</published><updated>2008-12-10T12:59:23.491-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'>WATERBOOM DAN SEKOLAH</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SAayAw-bEkI/AAAAAAAAACs/xsoL_0iY2V8/s1600-h/sekolah+waterboom.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190031346807542338" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SAayAw-bEkI/AAAAAAAAACs/xsoL_0iY2V8/s320/sekolah+waterboom.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SAaxuw-bEjI/AAAAAAAAACk/50HfwJ8IPZY/s1600-h/sekolah+waterboom.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Gambar di atas merupakan potret kondisi pendidikan yang menyedihkan. Foto tersebut bukanlah iklan yang menunjukkan sebuah sekolah memiliki fasilitas permainan air. Hal ini tentu saja bukan merupakan berita yang baik dari berbagai sisi jika sekiranya itu memang iklan. Sekolah tidak mempunyai prioritas yang baik, karena mempunyai fasilitas yang mewah jauh melebihi ukuran fisik sekolah dengan kondisi yang tidak sangat bagus dibandingkan permainan air itu sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Foto di atas adalah kenyataan yang begitu pelik dan terjadi di SD Negeri 81 Kota Jambi. Sekolah tersebut akan digusur dan di atas tanah itu akan berdiri wahana permainan air Waterboom yang sudah mulai dibangun di belakang sekolah. Foto ini dirilis pada tanggal 25 Maret 2008 di Harian Kompas atau dengan kata lain Waterboom berdiri dan menggusur sekolah justru ketika pemerintah dituntut untuk memenuhi anggaran sebesar 20% dari APBN untuk dunia pendidikan. Sebuah kondisi yang ironis.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak kisah lain yang merupakan potret buram pendidikan di negeri ini. Belum terlupakan tentang sekolah SMP yang harus tergusur oleh pembangunan mall di Jakarta, sudah ada lagi kisah tentang dua orang anak yang harus dikeluarkan dari sekolah SD di Riau karena belum membayar SPP. Dan rasa-rasanya ratusan kisah seperti ini masih ada entah yang terblow-up media atau tidak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan, Pasar dan Negara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kisah-kisah di atas sepertinya memperjelas terminologi, bahwa memang tidak sekolah bagi orang miskin. Dari hari ke hari pula kaum miskin makin kehilangan hak-haknya yang telah dirampas oleh pembangunan yang tunduk pada pasar. Waterboom yang menjamur di berbagai kota di pulau Jawa seakan-akan juga menjadi model bahwa pembangunan akan dipandang berhasil jika ada fasilitas fisik seperti ini. Waterboom yang biasanya didirikan di kompleks pusat perbelanjaan, mall, hunian kelas eksekutif dan hotel seperti halnya di Jawa, memang menjadi lahan yang subur untuk meminggirkan sarana dan prasarana yang dipandang tidak efektif dan efisien, termasuk juga pemikiran untuk meminggirkan sekolah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah daerah setempat agaknya berhitung dengan ”pendapatan kas daerah” dan mulai melirik investor untuk memajukan wilayah mereka. Parahnya, kemajuan daerah itu dihitung berdasarkan pembangunan fisik yang semakin meminggirkan sekolah seperti halnya waterboom di Jambi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di sisi yang lain kian hari jumlah orang miskin kian bertambah, sedangkan kekuasaan (negara) makin menjauh dari mereka. Semenjak neoliberalisme menjadi model yang dianut bangsa ini, sejak itu juga orang miskin semakin sulit untuk menikmati pendidikan, pelayanan kesehatan, tempat tinggal yang memadai, dan pekerjaan yang layak. Model yang menempatkan neoliberalisme sebagai ideologi pembangunan dunia seolah telah sukses meluluhlantakkan pertahanan hidup orang miskin untuk berpendidikan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa dimungkiri lagi bahwa pendidikan model pasar telah menjadi mesin produksi yang harus bekerja terus-menerus dengan logika ”efektivitas dan efisiensi” untuk menciptakan ”generasi intelektual instan” yang serba seragam, termasuk seragam dalam cara pemikirannya. Model pendidikan seperti ini kemudian mengenyampingkan sebuah proses pendidikan yang di dalamnya terdapat titik-titik pencerahan dan pembebasan manusia dari keterkungkungan. Hasil dari proses pendidikan dengan logika efektivitas dan efisiensi itu adalah hadirnya para koruptor dan munculnya manusia yang berwatak kasar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hal yang juga penting adalah bagaimana media massa mentransformasikan situasi penting dalam pendidikan tersebut untuk mendapat dukungan dari pemerintah maupun masyarakat luas. Kejadian waterboom di Jambi akan menjadi perhatian yang mendesak tidak saja oleh para orang tua siswa yang bersekolah di situ, namun juga masyarakat luas yang bisa saja menentang pembangunan wahana permainan itu yang memang secara positif bisa memakmurkan pendapatan daerah, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana menyelamatkan pendidikan.&lt;/span&gt; &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kekuatan dari hal-hal tersebut di atas, Indonesia akan diarahkan kepada situasi yang kacau secara sosial maupun politik, karena tidak adanya otoritas kekuasaan yang mampu membendung keinginan pihak pemodal dan malah yang terjadi adalah mempermudah pihak investor memiliki fasilitas bagi masyarakat bahkan melalui peraturan pemerintah. Masyarakat pun akan semakin tertindas dan dalam bahasa hiperbolik, mungkin Indonesia akan mulai masuk jurang pemerintahan yang tunduk pada pasar, jika tidak bisa dikatakan bahwa Indonesia akan masuk ke kehancuran secara sosial, politik dan budaya.&lt;/span&gt; ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-3845814391394117450?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/3845814391394117450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=3845814391394117450&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/3845814391394117450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/3845814391394117450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2008/04/waterboom-dan-sekolah.html' title='WATERBOOM DAN SEKOLAH'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/SAayAw-bEkI/AAAAAAAAACs/xsoL_0iY2V8/s72-c/sekolah+waterboom.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-6087762062953223219</id><published>2008-03-30T00:19:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T12:59:24.519-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Art and Design'/><title type='text'>PLAYSTAYTUNE - BIENNALE JOGJA IX/2007</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R-9BQEXl9JI/AAAAAAAAABQ/ETbtfvn6ULM/s1600-h/katalog+biennale.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183433440433140882" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R-9BQEXl9JI/AAAAAAAAABQ/ETbtfvn6ULM/s400/katalog+biennale.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183433109720659074" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R-9A80Xl9II/AAAAAAAAABI/iPb8lVZx4pw/s200/biennale1.jpg" border="0" /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Adakah yang disebut orisinalitas dalam berkarya seni sekarang ini? Tidak ada orisinalitas di dalam sebuah ’ekspresi seni’. Semua hanya mengulang-ulang. Semua bisa dirujuk, kata Mikhail Bakhtin (1895-1975), kepada sesuatu yang telah ada sebelumnya: bahasa, fakta yang diamati, emosi yang terasa, subjek yang berbicara, konsepsi yang pernah ada, dst. Karena tidak ada satu ungkapan seni pun yang tidak berkaitan dengan ungkapan seni sebelumnya, maka dua karya, dua ungkapan verbal, kontemporer dan masa &lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R-9D60Xl9PI/AAAAAAAAACA/czky-mvufBE/s1600-h/proses+biennale.jpg"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183436373895804146" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R-9D60Xl9PI/AAAAAAAAACA/czky-mvufBE/s200/proses+biennale.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;lalu, semestinya bisa terlibat dalam suatu hubungan mutual semantik tertentu, yakni hubungan dialogis. Dalam hal ini, seorang seniman atau pengarang dapat meminjam &lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R-9C0EXl9NI/AAAAAAAAABw/yIgzJ_KuoV8/s1600-h/proses.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;pengungkapan seniman atau pengarang lain sedemikian rupa untuk tujuannya sendiri, yang meskipun demikian, tetap menjaga arah referensi yang ada dan mengakuinya sebagai berasal dari seniman bersangkutan. Dengan demikian pula, di dalam satu ungkapan dapat bergema dua suara, dua tujuan. Tidak ada satu wacana seni &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R-9EPUXl9QI/AAAAAAAAACI/QcRDXMr7sAA/s1600-h/prosess.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183436726083122434" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R-9EPUXl9QI/AAAAAAAAACI/QcRDXMr7sAA/s200/prosess.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;pun yang tidak mempunyai suara gandanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Konsep tentang ’identitas’ dan ’keaslian’ suatu karya seni apalagi yang selalu dihubung-hubungkan dengan akar keaslianIndonesia itulah yang menjadi dasar pemikiran saya dan kawan-kawan di Tiadaruang Art Community (TAC) dalam membuat karya seni visual. Kami diundang oleh tim kurator Biennale Jogja IX/2007 untuk merespon tema ”Neo-Nation” yang ditawarkan dalam &lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R-9H40Xl9SI/AAAAAAAAACY/eY7p19hu-J8/s1600-h/tiadaruang+crew.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183440737582576930" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R-9H40Xl9SI/AAAAAAAAACY/eY7p19hu-J8/s200/tiadaruang+crew.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;perhelatan pameran seni visual berskala nasional dan juga diikuti oleh 164 seniman dari dalam dan luar negeri, seperti Jepang dan Republik Ceko. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Biennale Jogja IX ini telah dimulai dari tanggal 28 Desember 2007 s/d 28 Januari 2008 yang lalu di tiga tempat, yaitu Jogja National Museum (bekas kampus ISI Gampingan), Taman Budaya Yogyakarta dan Sangkring Art Space. Tim kurator dalam Biennale ini adalah Kuss Indarto (kurator dan penulis kritik seni), Eko A. Prawoto (perupa dan dosen Arsitektur UKDW), Suwarno Wisetrotomo (kurator dan dosen ISI Yogyakarta) serta A. Sudjud Dartanto (kurator dan dosen ISI Yogyakarta).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karya yang diberi judul ”PlayStaytune” inipun kemudian diangkut dari Surabaya dan dipasang di Jogja National Museum dengan media neon box. Penambahan lain seperti mengecat tembok galeri dengan warna hitam dilakukan di tempat pameran. Karya yang dikerjakan total selama 2 bulan ini, berusaha ’menghidupkan’ parodi citra yang terdapat dalam legenda Cindelaras yang digambarkan sebagai serba acak, tak teratur dan hilang identitasnya seperti halnya kecepatan perkembangan sosial hingga tercerabutnya akar ’keaslian’ dalam dunia serba virtual ini.&lt;br /&gt;Peristiwa klaim batik yang diambil Malaysia, kemudian tempe oleh Jepang, Reog Ponorogo oleh Malaysia dan beberapa kasus yang lain, mengisyaratkan pada kita untuk berpikir jernih, apakah masih ada konsep ’keaslian’ itu kini di tengah-tengah jaman yang serba virtual ini? selain yang tersisa sekarang adalah budaya hibrid dan diaspora.*** &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-6087762062953223219?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/6087762062953223219/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=6087762062953223219&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/6087762062953223219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/6087762062953223219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2008/03/playstaytune-biennale-jogja-ix2007.html' title='PLAYSTAYTUNE - BIENNALE JOGJA IX/2007'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R-9BQEXl9JI/AAAAAAAAABQ/ETbtfvn6ULM/s72-c/katalog+biennale.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-7772262872911050010</id><published>2008-03-11T23:06:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T12:59:25.668-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Art and Design'/><title type='text'>LOGO PERSONAL</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kampanye calon Presiden Amerika Serikat (AS) dari masing-masing partai sedang masuk dalam tahap paling seru, terlebih bagi partai demokrat yang sangat sengit dalam perolehan jumlah delegasi. Calon dari partai republik cenderung telah dapat diduga menyusul kemenangan telak McCain atas Huckabee. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bila dalam beberapa perbincangan tentang masa kampanye di AS melihatnya dari sudut pandang politik, kemudian beralih ke fashion terutama bagi Hillary Clinton yang memang satu-satunya calon presiden yang berkampanye. Saya ingin mengajak Anda untuk beralih ke hal yang lebih remeh temeh namun bagi saya ada spirit tanda. Logo, itu yang saya maksud. Bagi beberapa kalangan, membicarakan logo yang dipakai oleh calon presiden mungkin tidak begitu menarik karena itu hanya salah satu unsur ‘dekorasi’ saja yang mungkin tidak begitu penting.&lt;br /&gt;Namun saya berpendapat tidak demikian. Melalui logo yang dipakai, sebenarnya kita bisa melihat bagaimana daya tarik mereka melalui program, melalui pandangan mereka terhadap masa depan negaranya dan banyak hal lain yang bisa kita lihat dari sebuah bentuk kecil seperti logo. Logo tidak hanya menjadi penting bagi perusahaan maupun lembaga, personal pun perlu melakukan hal ini. Apalagi jika bukan demi pencitraan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apakah logo tersebut kemudian juga memiliki nilai yang sama seperti logo di banyak perusahaan maupun lembaga? di Indonesia, wacana tentang penggunaan logo bagi para personal yang sedang melakukan kampanye entah untuk kebutuhan Pilkada maupun Pilpres dipandang tidak menjadi begitu penting. Hal ini mungkin disebabkan oleh minimnya atensi mereka bahwa personal pun berhak untuk di-marketing-kan. Karena itu tidak heran beberapa media kampanye hanya menaruh foto para calon dan tidak diimbangi dengan personal identity seperti logo. Seperti yang telah disebutkan di atas, logo tidak sekedar lambang. Namun ia telah menjadi spirit bagi dirinya sendiri maupun bagi pendukungnya atau paling tidak bagi calon pendukungnya. Sehingga nilai dalam logo personal menjadi sama bila disandingkan dengan logo-logo yang ada di perusahaan. Logo menjelma menjadi visualitas yang sederhana namun mampu berbicara banyak hal tentang dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fenomena Foto Diri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Memasang foto diri kandidat memang juga penting, karena lewat foto diri lah masyarakat jadi lebih tahu tentang calonnya. Namun bukan tanpa kekurangan, jika kemudian mereka hanya mementingkan tingkat attention melalui foto. Contoh paling baru, bagaimana calon gubernur DKI Jakarta hanya dikenali karena kumisnya, bukan karena wacananya, bukan pula karena sikapnya menatap masa depan. Begitu pula faktor penampilan yang banyak dilakukan melalui foto diri yang selalu berpenampilan formal akhirnya menjadi segalanya. Ganteng, cantik, kuat, gagah, berkumis, putih maupun postur tinggi-besar sekan-akan menjadi pusaran nilai kita selama ini. Citra itulah yang dibangun seperti halnya bagaimana kita memaknai gambaran ideal manusia dalam iklan. Nilai penampilan diri yang oposit-biner dari gambaran ideal di atas seakan tidak diberi tempat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keseragaman dalam memuat foto diri dengan menampilkan ragam citra seperti memakai kopiah, jas hitam beserta dasi, senyum yang dipaksakan, kebaya beserta tata rias yang mencolok seakan menjadi pemandangan yang seragam dalam Pilkada di berbagai daerah di Indonesia. Citra yang kemudian ditangkap adalah sosok birokratis yang kaku dan sekedar formalitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Logo personal di Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pasangan Amien Rais-Siswono Yudhohusodo mungkin adalah pasangan calon presiden RI pada Pemilu 2004 yang melihat peran penting sebuah logo. Dari antara calon presiden, saya pikir hanya pasangan itulah yang memikirkan dengan betul logo yang akan mereka pakai. Rangkaian huruf ‘I’ pada Amien dan huruf ‘I’ pada Siswono membentuk angka 1 menunjukkan tingkat kepercayaan dirinya menjadi pasangan presiden dan wakil presiden RI. Tidak perlu bicara panjang lebar, kita hanya tahu dengan logo tersebut bagaimana identitas mereka. Amien Rais yang dikenal sosok yang percaya diri, berani dan tangguh, karena itu tidaklah heran jika logonya memvisualisasikan karakter yang demikian. Belum lagi paduan warna hitam, perak dan merah pada angka 1 membuatnya dimaknai menjadi sosok yang tegas dan memperlakukan segala sesuatunya dengan ‘hitam-putih’. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Logo memang bukanlah iklan yang secara gamblang menyebutkan dirinya maupun produk jualannya. Logo secara fisik hanyalah lambang dari identitas. Ia merupakan bagian kecil dari keseluruhan strategi kampanye. Logo tidak bisa disalahkan jika kemudian Amien-Siswono gagal melaju ke istana. Yang patut disalahkan adalah bagaimana implementasi dari spirit logo itu dan bagaimana Amien-Siswono membawa lambangnya itu. Jika hanya menjadikan logo sebagai lambang dan bukan sebagai spirit maka tidak ada pengaruhnya memakai logo atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Logo Kandidat Presiden AS&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa kali pemilihan presiden AS, logo selalu diikutkan dalam strategi kampanye. Momentum Pemilu AS untuk memilih presiden sekarang ini menjadi sangat meriah tidak saja secara politik (isu jender dan ras maupun konservatif) namun juga dengan logo yang sarat makna dan nilai. Lihat beberapa aplikasi logo personal para kandidat berikut ini. (Penyebutan nama tidak berdasarkan jumlah suara atau prediksi suara tertinggi, namun ditulis secara acak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Hillary Clinton&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R9d0b98nZLI/AAAAAAAAAAM/KQ9g6tG7Qg8/s1600-h/hillary+2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5176734320519767218" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R9d0b98nZLI/AAAAAAAAAAM/KQ9g6tG7Qg8/s200/hillary+2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Siapa yang tidak kenal dia? Mantan ibu Negara saat sang suami, Bill Clinton menjadi Presiden AS. Dia juga dikenal sebagai sosok ibu sekaligus istri yang baik, kuat dan teguh dalam pendirian. Ketika isu Monica Lewinsky mengoyak rumah tangganya, ia masih teguh berdampingan dengan Bill Clinton, seraya menunjukkan “baik atau buruk Bill Clinton, ia tetap suamiku”.&lt;br /&gt;Hillary tetap menganggap penting penggunaan logo sebagai salah satu identity-personal –nya meskipun masyarakat telah secara luas mengenali dia. Keberadaannya yang secara struktur sosial adalah the second sex merupakan tantangan tersendiri untuk membuktikan mengenai isu kesetaraan jender di Negara demokratis tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mengutip blog dari beberapa desainer grafis di AS, logo yang dibuat oleh kubu Hillary ini dinilai tidak ada istimewanya. Bahkan banyak dari desainer itu yang melihatnya sebagai sebuah ‘kesalahan awal’. Bagaimana tidak, logo itu tidak berbicara banyak perihal dirinya. Klise untuk memunculkan elemen-elemen bendera AS secara apa adanya. Kalimat ‘for President’ banyak dinilai sebagai ‘kebodohan’. Kalimat ini seakan telah beranak-pinak dari kampanye-kampanye terdahulu hingga sekarang dipakai lagi. Dinilai sebagai kebodohan karena jelas-jelas yang dilakukan oleh Hillary sekarang adalah demi menjadi presiden dan semua orang tahu hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Mike Huckabee&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R9d01N8nZMI/AAAAAAAAAAU/Mvd746-m_UM/s1600-h/huckabee.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5176734754311464130" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R9d01N8nZMI/AAAAAAAAAAU/Mvd746-m_UM/s200/huckabee.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bunyi slogan kampanye Huckabee adalah “I like Mike’ meniru bunyi iklan Michael Jordan, legenda NBA. Dengan mengangkat janji kampanye ‘Faith-Family-Freedom’ seakan kita mendengar citra AS yang klasik yang terwakilkan oleh film-film koboi, kemudian citra perempuan yang anggun dengan roknya yang mekar seperti di film-filmnya Clint Eastwood. Bagi peradaban yang semakin maju seperti di AS yang menjadi barometer peradaban budaya populer, identitas demikian tadi serasa sangat kuno. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Logo yang dibuat kubu Huckabee dinilai sama seperti ketika ia mengangkat isu ‘Faith-Family-Freedom’ tadi. Logo yang dibuat tidak ngetren dan cenderung ketinggalan jaman. Masih mengusung visualitas kebesaran AS seperti warna merah, biru dan putih serta unsur bintang, logo tersebut tidak istimewa. Garis lengkung putih membelah warna biru dan merah lebih menyerupai elemen serupa di perusahaan multinasional Coca-Cola. Sepintas logo ini dinilai banyak desainer grafis tidak mengangkat isu-isu perubahan pasca 11 September dan invasi ke Irak berujung pada guncangan ekonomi disana. Tidak ada yang istimewa apalagi baru bila ‘membaca’ logo tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;John McCain&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R9d14N8nZOI/AAAAAAAAAAk/ZQFYz19l3Qs/s1600-h/mccain.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5176735905362699490" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R9d14N8nZOI/AAAAAAAAAAk/ZQFYz19l3Qs/s200/mccain.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Logo ini dinilai kalangan desainer grafis sebagai logo yang bermakna sangat tegas, simpel dan fokus. McCain juga dinilai banyak pihak sebagai penerus George W. Bush bila menilik sikapnya untuk tetap menempatkan pasukan AS di Irak. Logo ini sangat mewakili dirinya. Gambaran bintang di tengah serta strip yang memancar di atas tulisan McCain adalah gambaran dirinya yang sarat pengalaman militer. Seperti diketahui, tanda strip dan bintang merupakan elemen yang kerap dipakai untuk menandai properti-properti maupun identitas kemiliteran AS. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagi kalangan desainer grafis di AS, logo milik McCain ini tidak menjawab segala pertanyaan perihal motivasi dia menjadi presiden AS atau harapan-harapannya. Logo ini lebih memuat identitasnya yang tidak dipadu-padankan dengan harapan-harapannya tersebut. Bagi desainer, logo seperti ini cocok dipakai oleh seorang yang narsis dan hanya berujung pangkal pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Barack Obama&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R9d2ct8nZPI/AAAAAAAAAAs/ZkujIBDEU6A/s1600-h/obama.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5176736532427924722" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 140px; CURSOR: hand; HEIGHT: 132px" height="121" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R9d2ct8nZPI/AAAAAAAAAAs/ZkujIBDEU6A/s200/obama.gif" width="142" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Logo ini dinilai banyak pengamat dan praktisi desain grafis AS sebagai logo yang paling kreatif dalam kampanye Presiden 2008 (bahkan sepanjang masa!). Logo ini sepertinya sangat serius digagas. Dengan mengambil inisial huruf “O” yang kemudian dipadu-padankan dengan gagasan dan janjinya perihal adanya perubahan dan harapan, logo ini dinilai sangat inspiratif dan sarat makna filosofis. Di tengah kritik tajam rivalnya perihal kurang pengalamannya dia dalam hal birokrasi pemerintahan, Obama memberikan warna baru yang tidak formal dan tidak kaku (rigid). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Logo yang dibuat tersebut agaknya juga satu-satunya logo yang terpadu antara identitas dan janji kampanye dibandingkankan logo-logo dari kandidat di atas. Melihat logo itu seperti membaca atau bahkan mendengarnya berpidato saat berkampanye. Meskipun masih memuat elemen-elemen visual AS seperti warna merah, biru dan putih serta strip seperti halnya pada bendera AS, namun semuanya terpadu sangat harmonis, berkembang dengan sangat kreatif dan berupaya menyederhanakan pikiran Obama di saat kampanye. Lubang putih dimaknai sebagai harapan (matahari terbit), awan biru sebagai cita-cita dan strip warna merah dimaknai sebagai ‘tanah impian’. Makna-makna yang sarat dengan nilai filosofis dan terbungkus rapi dalam sebuah logo.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R9d3198nZRI/AAAAAAAAAA4/4UZBw-xrJwA/s1600-h/gabung.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5176738065731249426" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R9d3198nZRI/AAAAAAAAAA4/4UZBw-xrJwA/s200/gabung.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Logo milik Obama ini pulalah yang kaya dengan pengaplikasiannya yang disesuaikan dengan janji politiknya. Meskipun logo ini kemudian dikembangkan sesuai dengan sasaran yang hendak dibidik, namun logo Obama tetap konsisten dan tetap artistik.&lt;br /&gt;Lihatlah, bagaimana logo itu dapat dikembangkan untuk mendapatkan simpati dari pelajar/mahasiswa, ras Amerika-Afrika, ras Amerika Latin, kaum perempuan, rohaniawan serta membangun kebanggaan bersama. Logo yang dibuat itu telah membuktikan mengenai kelenturan logo yang disesuaikan dengan konteksnya. Hal demikian lah yang tidak dijumpai oleh logo-logo dari kandidat lain. Menilik sifat logo Obama seperti itu, pantaslah jika banyak praktisi desain grafis AS mengatakannya sebagai logo yang paling kreatif sepanjang masa dalam kampanye Presiden AS!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Spirit dalam Logo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Logo memang tidak berpengaruh langsung terhadap kemenangan, namun ia bermain di wilayah citra dan identitas yang positif dari para kandidat. Spirit melalui logo itulah yang seharusnya menjadi daya tarik. Logo personal bukan hanya masalah memberi identitas sebagai lambang, namun seperti halnya sebuah doa, logo yang didesain dengan perancangan yang matang dan terkonsep sangat dalam adalah juga serangkaian doa. Di dalamnya ada pengharapan tentu saja bukan hanya untuk sebuah kemenangan, namun doa untuk bersungguh-sungguh menyejahterakan rakyat dan bukan saja lips service yang mengelabui rakyat. Apalah arti estetika sebuah logo dengan segala kreatifitasnya, jika doa itu tidak dilakukan sebenarnya seperti dalam rancangan logo yang dibuat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagi para kandidat Bupati, Walikota, Gubernur maupun Presiden yang dalam waktu dekat ini maupun waktu mendatang akan ’bertarung’ dalam Pilkada maupun Pilpres, sudahkah melantunkan doa yang akan diwujudkan dalam sebuah logo? Kalau belum, mari berpikir sejenak! Jika logo adalah rangkaian spirit doa, maka sudah siapkah Anda mewujudkan doa Anda tersebut? Jika kemudian hanya siap untuk mengelabui rakyat lebih baik jangan berpikir untuk membuat logo. Mahalnya sebuah kreatifitas dalam logo jika tidak diimbangi dengan perwujudan nyata, apalah gunanya selain hanya dilupakan dan diinjak-injak orang. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-7772262872911050010?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/7772262872911050010/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=7772262872911050010&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/7772262872911050010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/7772262872911050010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2008/03/logo-personal.html' title='LOGO PERSONAL'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6jtsRLOyOmA/R9d0b98nZLI/AAAAAAAAAAM/KQ9g6tG7Qg8/s72-c/hillary+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-7336818906520717985</id><published>2007-10-23T23:17:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:22:54.375-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book'/><title type='text'>MATINYA KREATIFITAS KREATOR VISUAL</title><content type='html'>Buku seni dan desain sedang membanjir sekarang di toko-toko buku. Daya beli pun meningkat meski tidak peduli berapa duit buku tersebut terbeli. Memang biasanya buku jenis ini dijual dengan harga relatif mahal, khususnya buku yang menghadirkan contoh gambar yang banyak, full colour dan tebal halamannya. Namun hal ini tidak mengurangi daya beli dari kreator visual di Indonesia, bahkan mahasiswa seni jaman sekarang dengan mudahnya dapat ditemui sedang menenteng buku seni dan desain import. Pemandangan yang tentu berbeda di dekade ‘80-‘90-an. Perpustakaan di kampus seni pada saat itu banyak diisi oleh buku dengan halamannya yang sobek, karena ada gambar di buku tersebut yang diambil oleh peminjamnya. Perpustakaan menjadi satu-satunya tempat sebuah buku tersedia karena minimnya daya beli mahasiswa untuk membeli buku. Sebuah pemandangan yang secara ekonomis berbeda dengan kehidupan mahasiswa jaman sekarang yang gampang mendapatkan buku seni dan desain di toko buku modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku pun menjelma dan berubah muka menjadi simbol gaya hidup seperti yang difenomenakan oleh film Ada Apa Dengan Cinta beberapa tahun yang lalu. Sekejap remaja-remaja di Indonesia menggilai buku sastra. Kejadian yang sama terulang kembali dalam bidang pendidikan. Seni rupa yang lagi booming seiring dengan perkembangan wacana terutama program desain yang banyak dibuka di perguruan tinggi menjadikan buku import yang lagi membanjir bagaikan hujan di musim kemarau. Dicari dan ditunggu bila ada buku desain yang terbaru.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cari Referensi atau Cari Gambar?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya tertarik dengan Hermawan Tanzil (desainer grafis dan pemilik LeBoYe Jakarta) yang mengungkapkan ketertarikannya tidak saja pada buku desain grafis, namun juga buku-buku yang menurutnya dapat menunjang esensi sebuah desain. Bukan masalah pada memiliki buku desain apa tidak, namun pada esensi serta tujuan mengapa membaca buku. Untuk seorang Hermawan Tanzil membaca buku psikologi, filsafat dan sastra folklore tentu bukan hal yang asing. Berbanding terbalik dengan desainer grafis lain yang memajang buku-buku desain grafis import berrak-rak entah itu kumpulan karya terbaik atau karya pemenang award, desainer grafis yang demikian tentunya juga mempunyai tujuan membaca buku sendiri. Sekali lagi bukan pada kita punya buku apa yang sesuai dengan bidang kita. Esensinya adalah pada kemungkinan terintegrasinya sebuah bidang ilmu yang ditekuni  dengan bidang ilmu yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain grafis berkaitan dengan &lt;em&gt;humanity&lt;/em&gt;. Karena itulah agaknya aneh ketika buku dibeli karena ingin melihat ‘referensi’ (baca: gambarnya saja) lain. Melihat gambar pada buku desain grafis tidak ada hubungannya dengan kreatifitas desainer. Malah yang terlihat adalah kemungkinan terjadinya ’transfer gaya’ seorang desainer ke desainer yang lain dan berimbas pada ketidak-aslian sebuah ide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mahasiswa, ada kecenderungan pencarian latar belakang sebuah karya desain dibuat (baca: konsep) tidak terlalu dipermasalahkan. Padahal kalau ditilik lebih jauh perkembangan desain grafis itu juga selaras dengan perkembangan kehidupan manusianya. Insight di sekeliling kreator visual berpengaruh pada karya yang dibuat. Seharusnya bagi mahasiswa, kondisi demikian dimaknai pada keragaman bentuk maupun cara pandang berkarya visual. Membuat karya visual sekedar ingin dilihat seperti karya desainnya si A, si B di negara C atau di negara D seperti yang ada di buku E dan buku F, bahkan ada yang termotivasi sebagai pengikutnya desainer G atau desainer H tanpa terlebih dahulu tahu pada latar belakang hingga insight karya dibuat tidak membuat sebuah perkembangan budaya visual di Indonesia maju secara signifikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku desain sebagai referensi sah-sah saja dan malah dibutuhkan untuk melihat perkembangan. Namun jika buku tersebut yang seharusnya menjadi ’jendela’ berubah fungsi menjadi media yang justru membuka kemungkinan matinya kreatifitas maka yang berdosa bukanlah bukunya melainkan pembacanya yang tidak mengerti hakikat sebuah buku itu diterbitkan. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-7336818906520717985?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/7336818906520717985/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=7336818906520717985&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/7336818906520717985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/7336818906520717985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2007/10/matinya-kreatifitas-kreator-visual.html' title='MATINYA KREATIFITAS KREATOR VISUAL'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-2385543516516975618</id><published>2007-10-23T22:29:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:23:14.892-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>SELAMAT DATANG SAMPAH VISUAL!</title><content type='html'>Media massa di Jawa Timur, khususnya Surabaya diramaikan dengan perilaku ‘berpromosi’ yang dilakukan oleh para calon gubernur Jawa Timur dalam menarik simpati masyarakat melalui medium poster, stiker bahkan juga spanduk (Metropolis Jawa Pos, 12/7/2007). Tiang-tiang listrik, kaca bemo, becak dan tembok di Surabaya sudah ramai dengan tempelan stiker, poster dan spanduk yang bergelantungan di jalan. Pejabat pemerintah kota maupun propinsi menganggap hal ini bukan sebagai bentuk merusak pemandangan kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bomber&lt;/em&gt; graffiti maupun personel tim sukses calon gubernur yang menempel poster dan stiker di tembok kota memiliki motivasi yang berbeda tetapi secara teknis sama. Mereka melakukan di bidang yang bukan miliknya dan secara tersirat memiliki aspek repetisi atau perulangan dengan medium yang sama. Stiker, poster dan graffiti memiliki spirit seni yang sama dalam membidik ‘konsumen’ di jalanan entah untuk mengekspresikan dirinya maupun membuat wajah kota menjadi lebih artistik. Konsep ini sering disebut sebagai &lt;em&gt;street art&lt;/em&gt;. Namun, lihatlah perlakuan terhadap keduanya berbeda! Yang satu dihukum, tetapi yang lainnya dibiarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kreatifitas Dipertanyakan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saat medium promosi dilakukan dalam rangka mempopulerkan seorang kandidat pemimpin, nyaris tidak ada yang berubah dengan medium-medium promosi tersebut dari tahun ke tahun, bahkan antar wilayah pun tidak ada sesuatu yang baru dan segar. Serba sama dan seragam pemakaian mediumnya. Kaus, stiker, poster dan spanduk seakan-akan menjadi medium yang wajib dipakai untuk mempromosikan seorang calon ketua RT, ketua RW hingga calon gubernur dan calon presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stiker yang versinya hanya satu dan penempelannya diulang-ulang pada bidang yang sama secara visual merupakan bentuk yang tidak berkonsep matang, tidak artistik dan tidak memperhitungkan ekologi visual begitu pula pada medium poster yang ditempelkan di tembok. Belum lagi baliho yang asal pasang dan tidak memedulikan faktor lingkungan mengakibatkan efek tumpang tindih yang tidak menarik bagi indera mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kampanye pemilihan gubernur Jawa Timur memang perlu dipikirkan kreatifitas dalam menggunakan medium maupun visual. Visi dan misi dari calon gubernur mendatang memang diperlukan buat masyarakat. Namun cara penyampaiannya pun perlu strategi, terutama dalam hal menarik perhatian masyarakat. Tidak hanya sekedar memasang baliho,menempel poster atau stiker, alih-alih ingin mendapat perhatian masyarakat yang didapatkan malah komunikasi yang berlebihan dan ujung-ujungnya masyarakat alergi dengan janji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mesti dilakukan sekarang oleh mereka (khususnya tim sukses) adalah berpikir kreatif. Bila hanya sanggup menumpuk sampah visual maka mereka mengulang-ulang kesalahan yang sama dan berkelakuan seperti halnya mereka yang tidak peduli pada artistik dan ekologi. Jika ada kandidat menempel stiker, kenapa memilih medium yang sama untuk diingat massa?jika ada kandidat menempel poster sampai memanjang kayak kereta api dan itupun hanya perulangan, mengapa harus memilih medium yang sama untuk membangkitkan minat massa? Kalaupun tetap yang dipilih medium yang sama, maka pikirkanlah konsepnya secara matang sehingga secara visual ada kebaruan dan semangat yang menyegarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang berpendapat, penampilan menentukan aura sebagai pemimpin. Pemikiran yang sempit sehingga tidak heran seratus persen medium kampanye kandidat-kandidat ini selalu menempatkan foto diri mereka sebagai magnet. Begitu baliho atau juga spanduk terpasang, maka foto mereka akan ’bersaing’ ketat dengan Agnes Monica atau Adjie Massaid dalam medium jalanan dan berujung pada medium periklanan yang sama sekali tidak artistik. Sangat tidak artistik bila dibandingkan dengan mural, graffiti maupun karya stencil yang dikerjakan oleh street artist di jalanan.&lt;br /&gt;Bagi tim sukses tentunya perlu berpikir dengan ide yang lebih segar untuk mengenalkan kandidat Anda daripada sekedar menumpuk sampah visual yang sudah terlanjur menumpuk di Surabaya. Bagi pemerintah kota maupun propinsi senyampang masih belum dimulainya agenda kampanye, maka perlu tindakan yang efektif dan adil untuk menertibkan sampah visual dari para calon gubernur itu. Street artist yang berkomunitas di kota-kota di Jawa Timur tentu tidak menerima tindakan mendua dari pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi calon gubernur, bila Anda berbicara masalah lingkungan maka mulailah sesuatu dari yang paling kecil. Membuat medium kampanye yang tidak artistik, tidak segar secara ide dan monoton sehingga membuat efek perwajahan kota semakin semrawut sama artinya dengan membuat sampah visual semakin menumpuk di Surabaya.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-2385543516516975618?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/2385543516516975618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=2385543516516975618&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/2385543516516975618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/2385543516516975618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2007/10/selamat-datang-sampah-visual.html' title='SELAMAT DATANG SAMPAH VISUAL!'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-116676308750284240</id><published>2006-12-21T20:27:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:33:55.373-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Art and Design'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Art Design'/><title type='text'>GARA-GARA MAS SAMUEL INDRATMA!</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Mural Kota Surabaya 2006&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2005 mas Samuel Indratma menyebarkan virus merebut ruang publik kota dengan mural di Surabaya. Kemudian perlahan-lahan beberapa komunitas seni di Surabaya melakukan hal serupa yang dilakukan kawan-kawan di Jogja. Hingga kemudian pula mural masuk Surabaya. Itu sederhananya. Mural yang dibuat di Surabaya lebih menekankan pada pemanfaatan mural sebagai elemen kebersihan dan keindahan kota. Hal ini karena bangunan tembok rumah hunian yang terletak di ruas jalan strategis tidak memungkinkan di lukis seperti halnya bangunan tembok rumah di Jogja maupun Bandung dan Jakarta. Sehingga lokasi mural pun sangat minim dilakukan di ruas-ruas jalan strategis. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Fakultas Seni dan Desain (FSD) UK Petra sebagai pencetus ide telah mengoordinir dan memulai gerakan ini di wilayah Siwalankerto dan sekitarnya sebagai pilot project. Gerakan ini dinamakan “AYO REK! Muralisasi Kota Surabaya 2006”. Program ini didukung secara birokratif oleh Pemerintah Kota Surabaya dan Kelurahan Siwalankerto yang tertarik ingin mewujudkan kota tidak hanya bersih dan hijau, tetapi juga indah. Indah ini merujuk pada kata “nyeni”. Bersih saja tidak cukup, tetapi juga mesti artistik, agar kota nampak humanis tidak lagi kaku oleh angkuhnya mall maupun kemacetan kendaraan bermotor serta kebisingan visual setiap melihat media yang membawa pesan komersial. Ke depan, mural akan menjadi ‘penanda budaya’ dari tiap-tiap wilayah di Surabaya. Kekhasan tema/pesan dari tiap-tiap mural akan terlihat di setiap wilayah, hal ini akan menjadi sesuatu yang positif bagi warga masyarakat Surabaya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Gerakan ini diharapkan akan berkelanjutan dan murni swadaya serta swakarsa masyarakat Surabaya. FSD hanyalah pihak katalisator untuk menggairahkan kegiatan mural di Surabaya. Tembok yang tak terawat dan tampak kumuh oleh tempelan media advertorial sudah saatnya dirawat dengan cara yang berbeda nan artistik. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas mural di wilayah Siwalankerto dan sekitarnya ini telah dimulai pada tanggal 13 Nopember 2006 hingga awal Desember 2006. Peserta yang ikut dalam gerakan mural tahap ini adalah mahasiswa UK Petra jurusan desain komunikasi visual (DKV), desain interior, PPKAI, arsitektur, seluruh staf dosen DKV, Tiadaruang Art Community (TAC), Monica Never Comes (MNC) dan beberapa individu pencinta ruang publik. Gerakan mural ini juga diharapkan memberi semacam pemberdayaan kepada masyarakat Surabaya dalam berapresiasi serta ikut serta dalam gerakan ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa titik yang dimural, antara lain:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;- Tembok DLLAJR Propinsi Jawa Timur (Jl. A. Yani)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;- Tembok milik PT Ometraco (jalan masuk Jl. Siwalankerto)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;- Tembok gudang Suzuki (Jl. Siwalankerto)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;- Tembok di Jl. Siwalankerto Raya&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;- Tembok di Jl. Siwalankerto Tengah&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;- Tembok dinding milik UK Petra&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;- Tembok Jemur Andayani (depan POM Bensin Jemursari)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;- Tembok di Jl. Kutisari&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;- Tembok kelurahan Siwalankerto&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Tahun 2007 sudah menunggu tembok di ruang publik yang menanti untuk direspon. Bukan salah mas Samuel jika mural dilakukan di Surabaya, karena ruang publik mesti kita rebut dari anasir advertisement yang penempatannya tidak artistik. Semoga mural di Surabaya tidak justru menjadi 'dosa visual' atau 'sampah visual' (seperti yang sering dikatakan oleh kawan-kawan di Jogja). Buat mas Samuel dan Jogja Mural Forum-nya...kami sedang belajar dari Anda, mas!***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-116676308750284240?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/116676308750284240/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=116676308750284240&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/116676308750284240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/116676308750284240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2006/12/gara-gara-mas-samuel-indratma.html' title='GARA-GARA MAS SAMUEL INDRATMA!'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-116494008056399635</id><published>2006-11-30T18:26:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:35:44.516-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Art and Design'/><title type='text'>KUMPUL BUKAN ASAL KUMPUL</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) Surabaya, Perlukah?&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 12 September 2006 sore hari, terjadi percakapan antar mahasiswa di kampus, saya namai mereka A dan B. Rupanya mereka teman lama yang dipertemukan kembali di sebuah medium kecil bernama toilet. Mereka saling menanyakan kabar masing-masing hingga tiba pada percakapan mengenai kapan lulus. Mahasiswa A yang beda jurusan dengan si B tersebut rupanya kuliah di jurusan desain komunikasi visual yang baru saja masuk jadi mahasiswa, jadi menurut dia lulusnya masih lama. Kemudian si B dengan enteng berujar kepada si A,”Wah, aku pusing, tapi harus tahun ini sudah lulus. Kalau kamu pasti cepet (lulus) lha wong kuliah cuman nggambar-nggambar aja nggak pakai mikir kan,?”…tahu dikatakan demikian, si A rupanya agak sewot. Percakapan mereka selesai ketika tahu saya keluar dari salah satu kamar di toilet tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 14 September 2006, sebuah asosiasi yang diberi nama Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) dilaunching di Surabaya sebagai kota tujuan kedua setelah Jakarta. Khusus untuk Surabaya, tampaknya perjuangan ini dilakukan dengan jerih payah yang tidak sedikit bahkan ‘pendekar-pendekar’ desain grafis di Jakarta yang selama ini menyuarakan pentingnya dibentuk asosiasi bagi desainer grafis rela ‘turun gunung’ dengan modal mereka sendiri. Sebuah upaya yang tidak bisa dikatakan remeh. Darah-darah muda dari desainer grafis Surabaya pun tampaknya sangat antusias demi mewujudkan gagasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, konon pernah ada yang namanya Asosiasi Perancang Grafis Indonesia (APGI), tetapi seiring dengan perjalanan waktu, entah kenapa APGI ini tidak terdengar lagi gaungnya. Sayang memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Asosiasi, Perlukah?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disadari oleh banyak pihak khususnya di Surabaya, dunia desain grafis memasuki awal baru yang menggembirakan seiring semakin menjamurnya lembaga pendidikan yang menyediakan program studi tersebut. Selain itu semakin bertumbuhnya jumlah media serta semakin majemuknya muatan dalam media juga mengakibatkan semakin bertumbuh pula desain grafis dalam usahanya sebagai salah satu alat kampanye secara visual. Tentu saja hal ini juga dibarengi oleh semakin meningkatnya permintaan mengangkat citra produk, institusi maupun personal dari Surabaya maupun luar Surabaya. Hal ini menunjukkan telah adanya kesadaran perusahaan maupun personal bahwa visual mempunyai kekuatan menembus keputusan yang melulu tidak berkaitan dengan hal yang rasional namun juga kepada intuisi. Kepekaan konsumen rupanya sudah mulai tersadarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang menjadi permasalahan adalah apakah tingkat apresiasi konsumen sudah setara dengan nilai yang dikeluarkan oleh desainer grafis untuk mencapai tahap yang dinamakan kreatif itu? Rupanya hal inilah yang menjadi tantangan bagi desainer grafis di Surabaya. Penghargaan profesi desainer grafis ternyata masih belum setara dengan profesi lainnya seperti dokter, arsitek maupun desainer interior. Bahkan untuk ukuran Surabaya, desainer grafis masih dianggap sebagai profesi otot tanpa otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hal itulah, sangat mudah ditemui klien mapan yang ingin citra perusahaannya tambah bagus melalui pencitraan visual namun sebisa mungkin dapat dicapai dengan biaya yang murah. Atau dalam kasus yang lain, klien dengan seenaknya membatalkan kontrak kerjasama sementara desainer grafis rajin mengajukan approve desainnya. Namun ketika desainer grafis yang diputus kontraknya tersebut sedang membaca koran atau majalah, ternyata karya yang dibuatnya jadi dipakai oleh perusahaan tersebut tanpa sepeser pun penghargaan. Lebih parah lagi, desainer grafis tidak mempunyai landasan hukum yang kuat yang sebenarnya bisa diperoleh bila ada asosiasi yang membantu dan melindunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga diperparah lagi oleh ‘oknum’ yang menamakan dirinya desainer grafis namun berbekal penawaran harga yang jauh di bawah layak bagi sebuah profesi keahlian, namun dengan bangga mencantumkan profesi desainer grafis di kartu nama. Belum lagi mereka yang hanya berbekal bisa mengoperasikan teknologi seperti komputer dengan kecanggihan softwarenya tidak didukung oleh konsep kreatif yang memadai. Dengan latar belakang demikian tidaklah heran bila desainer grafis tidak memiliki bargaining power di depan klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah pembentukan ADGI sebaiknya tidak hanya dicitrakan sebagai asosiasi yang kelihatan terpandang gagah namun tidak mempunyai daya apa-apa terhadap tantangan tersebut. Asosiasi ini harus keluar dari anggapan tentang asosiasi yang mirip seperti arisan, pertemuan keluarga, pembicaraan yang tidak penting bahkan pembagian proyek yang cenderung nepotis hingga asosiasi yang hanya mampu menghimpun iuran dari anggotanya saja. Sebagai gantinya, asosiasi ini mesti memberikan pencerahan tentang profesi, sharing ilmu maupun hal lain yang sifatnya juga edukatif bagi desainer-desainer lokal agar mampu bersaing dengan desainer grafis lain yang mengglobal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Desainer Grafis: Pembawa Kabar Baik&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kegiatan ‘jemput bola’ dengan berbaur ke masyarakat yang patut diperhatikan oleh ADGI adalah bagaimana mampu membantu masyarakat yang membutuhkan pemecahan masalah secara desain grafis untuk kebutuhan usaha kecil dan menengah (UKM). Hal ini akan menjadi karakteristik bagi ADGI Surabaya yang secara konstruksi sosial sudah terlanjur dekat dengan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prihatin rasanya bila mengetahui bahwa produk-produk UKM bagus secara produktivitasnya, namun tidak didukung oleh visual branding yang estetik, efektif dan cerdik, hanya karena pihak UKM takut kena biaya mahal dari desainer grafis. Saya jadi teringat dengan ucapan dosen saya dulu, bahwa desainer grafis itu ibarat pembawa berita baik. Kehadiran ADGI harus juga membawa berkah bagi mereka yang membutuhkan manfaatnya tidak hanya bagi desainer grafis, namun masyarakat bawah melalui UKM tentunya juga ingin penampilannya bisa diperhitungkan di tingkat global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ADGI Surabaya telah berdiri, maka kelahirannya akan memberikan pemahaman, bahwa pekerjaan desainer grafis tidak hanya jago menggambar tetapi lewat bahasa gambarnya mampu memberikan kekuatan visual bagi produk, jasa maupun personal yang membutuhkannya. Ke depannya tidak lagi terdengar orang tua yang melarang anaknya masuk sekolah desain grafis hanya karena anggapan yang turun temurun, bahwa sekolah ‘jenis ini’ tidak pernah mikir atau tidak prospektif, namun profesi desainer grafis akan dihargai sama seperti profesi yang lain dan lebih dulu mapan. Mahasiswa si B dalam cerita saya di bagian atas, saya yakini akan bertobat setelah membaca artikel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADGI Surabaya, lahirlah dan tunjukkan!....**&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-116494008056399635?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/116494008056399635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=116494008056399635&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/116494008056399635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/116494008056399635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2006/11/kumpul-bukan-asal-kumpul.html' title='KUMPUL BUKAN ASAL KUMPUL'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-116115648622663359</id><published>2006-10-17T22:57:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:36:27.648-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'>BILA SEKOLAH ADALAH...</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;asfsfasfsaf&lt;br /&gt;Berangkat pagi-pagi mendengarkan guru memberikan ilmu tapi dia gak peduli aku menangkap teorinya apa tidak, maka jangan salahkan aku bila aku mampu membuat bom hanya karena ketidaktahuanku harus aku apakan bahan-bahan kimia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencatat teori probabilitas kemanusiaan dalam lingkaran ketidakmengertian atas tulisan per tulisan, maka jangan salahkan aku bila aku tidak mengerti kemungkinan terburuk apa bila aku tidak menolong orang yang tertabrak mobil Mercy hanya gara-gara sang guru menolak menjawab pertanyaanku pada setiap teori kemanusiaan yang didiktekannya. Padahal aku tidak setuju, karena terlalu kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak boleh tidur di sekolah. Tidak boleh membawa binatang kesayangan. Tidak boleh ini. Tidak boleh itu. Aku tidak pernah setuju, namun selalu tidak dijawab alasannya. Padahal kalau dijawab mungkin saja aku bisa mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan perintah namun tidak dijelaskan apa tujuan melakukan hal itu. Apa misinya dan target apa yang akan diperoleh bila melakukannya. Tidak pernah diberitahu. Aku pun seperti kerbau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayar uang sekolah. Rutin iuran gedung kuliah. Rutin bayar laboratorium. Bayar ini bayar itu. Namun setiap aku melakukan kegiatan di sekolah selalu dimintai bayaran lagi. Akupun jadi mikir dan jangan pernah salahkan jalan pikiranku..untuk apa uang yang selalu aku bayarkan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat untuk selalu melamun, bagaimana ya caranya tetap bayar sekolah tapi bebas menggunakan alat dan fasilitasnya dan yang penting bebas berkreatifitas?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;(keprihatinan pada sekitar 9.010 anak putus sekolah usia 4 – 15 tahun di Desa Kluwut, Brebes, Jawa Tengah)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-116115648622663359?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/116115648622663359/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=116115648622663359&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/116115648622663359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/116115648622663359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2006/10/bila-sekolah-adalah.html' title='BILA SEKOLAH ADALAH...'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-115528092182351345</id><published>2006-08-11T00:10:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:37:47.210-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/gempur%20israel.0.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/gempur%20israel.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-115528092182351345?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/115528092182351345/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=115528092182351345&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/115528092182351345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/115528092182351345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2006/08/blog-post.html' title=''/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-114640581608171660</id><published>2006-04-30T06:28:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:38:37.019-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'>PEMBELA ANAK MUDA ITU PUN PERGI...</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/042699toer-profile.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/042699toer-profile.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bangunlah kaum jang terhina,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bangunlah kaum jang lapar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kehendak jang mulja dalam dunia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;senantiasa tambah besar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Lenjapkan adat dan faham tua &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;kita &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Rakjat sedar-sedar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dunia sudah berganti rupa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;untuk kemenangan kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Perdjuangan penghabisan,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;kumpullah berlawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dan Internasionale&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;pastilah didunia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kitalah kaum pekerja s'dunia,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tent'ra kerja nan perkasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Semuanya mesti milik kita,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tak biarkan satupun penghisap!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kala petir dahsyat menyambar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Diatas si angkara murka,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tibalah saat bagi kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;surya bersinar cemerlang!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(dari lagu Internasionale)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;*Selamat jalan, Pramoedya Ananta Toer!...&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Salam buat Marx dan Engel disana...&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-114640581608171660?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/114640581608171660/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=114640581608171660&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/114640581608171660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/114640581608171660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2006/04/pembela-anak-muda-itu-pun-pergi.html' title='PEMBELA ANAK MUDA ITU PUN PERGI...'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-114310342825347455</id><published>2006-03-23T00:26:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:39:14.036-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>ADA TEMPAT ILMIAH BUAT KOMIK INDONESIA</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;PAMERAN, workshop, dan seminar tentang komik berskala nasional digelar pada 6-11 Maret lalu. Even yang mempertemukan komunitas dan komikus di Indonesia itu diadakan di UK Petra Surabaya dalam acara Pekan Komik Nasional (PKN) II. Yang pertama digelar pada 2002. Memang, untuk ukuran akademis, bukan hanya UK Petra satu-satunya kampus di Jawa Timur yang menyelenggarakan acara semacam itu. Universitas Negeri Malang dengan Pekan Komik Indonesia-nya malah lebih sering menyelenggarakan acara komik. Di luar Jawa Timur ada UNS Solo, ITB, Universitas Trisakti Jakarta, serta Universitas Maranatha Bandung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Untuk ukuran yang benar-benar nasional, menurut catatan, hanya Pekan Komik dan Animasi Nasional (PKAN)-lah yang terbukti mampu mengumpulkan komunitas komikus serta animator hingga puluhan jumlahnya. PKAN adalah kegiatan yang sepenuhnya disponsori Departemen Pariwisata, Seni, dan Budaya RI.Acara yang mempertemukan komikus secara individual maupun komunitas dalam berbagai pameran memang bukanlah satu-satunya "ukuran" untuk mendeteksi kebangkitan komik Indonesia. Namun, acara yang diselenggarakan secara resmi oleh Departemen Pariwisata, Seni, dan Budaya yang bekerja sama dengan Masyarakat Komik Indonesia (MKI) maupun beberapa kampus di Indonesia merupakan indikator bahwa komik Indonesia masih ada!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bukan Candu Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tidak bisa dimungkiri, yang harus bertanggung jawab atas "pernah matinya" komik Indonesia, salah satunya, adalah kalangan akademis. Catatan sejarah liku-liku komik Indonesia menunjukkan, sekolah maupun kampus "terlibat" dalam pemberian stigma bahwa membaca komik adalah kegiatan yang jelek serta tidak mendidik.Pemerintahan Orde Lama memberangus komik karena kontraproduktif bagi perjuangan nasionalisme. Sementara itu, Orde Baru mengulangi dengan alasan tidak mengajari hal-hal positif terhadap generasi muda pada masa pembangunan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Harus diakui, komik sudah menjadi gaya hidup kalangan pelajar dan mahasiswa saat itu. Namun, tidak beralasan menyatakan bahwa komik adalah candu masyarakat.Nah, kalangan akademis pun mendukung keputusan pemerintah saat itu dengan turut melakukan razia komik di tas murid-murid sekolahnya. Sebuah usaha yang tidak relevan dibandingkan tingkat pemakaian narkotika yang juga mulai mewabah pada 1980-an.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Budaya akademis yang lebih berbangga hati bila prestasinya dilihat dari potensi ilmu pasti maupun ilmu sosial tentu tidak memberikan tempat yang luas bagi seni, terutama komik yang saat itu merajalela menjadi konsumsi massa.Sekarang, menjamurnya kegiatan komik di kalangan akademis seakan menjadi rekonsiliasi budaya dalam menggairahkan kembali seni komik yang sempat mati pada 1990-an. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kalangan akademis juga memberikan tempat secara ilmiah untuk mengembangkan potensi komikus muda. Bahkan, beberapa kampus yang mempunyai program studi seni rupa memasukkan komik dalam salah satu mata kuliah. Sebuah usaha bagus yang dilakukan untuk menutup "dosa" masa lalu dan menatap masa depan dalam memajukan komik Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Seno Gumira Ajidarma, salah seorang pembicara dalam seminar di PKN II, menyatakan, menjamurnya komunitas komikus merupakan usaha pencapaian perjuangan ideologi dalam memajukan komik di Indonesia. Tentu, dia menyatakan hal demikian dalam konteks komik Indonesia di tengah serbuan komik-komik impor, terutama komik dari Jepang.Berjuang menantang komik impor tersebut tidak bisa hanya dengan jargon-jargon yang menjual mimpi, namun harus benar-benar diwujudkan dengan karya sendiri yang lebih bagus daripada mereka. Itulah perjuangan ideologi tersebut. Dan, kampus sebagai tempat kajian ilmiah tentunya harus meluaskan tempat serta pandangan dalam memajukannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Sinergi Komikus, Penerbit, dan Akademikus&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Banyak komunitas komik yang dilahirkan dari kampus, meski kampus tidak secara langsung melahirkan komik sekarang. Meja kelas, naungan pohon, maupun di sudut-sudut selasar kampus menjadi saksi lahirnya komikus genre baru di Indonesia. Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menjadi saksi lahirnya beberapa komik independent (indie) seperti dari Sekte Komik. Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta bahkan menjadi saksi lahirnya beberapa komik indie seperti Core Comic, Daging Tumbuh yang dikelola Eko Nugroho, serta Tehjahe yang dikelola Beng Rahadian (sekarang di Akademi Samali Jakarta). UNS Solo melalui mahasiswa seni rupanya melahirkan komik berjudul Street Soccer dari komunitas yang bernama Bengkel Qomik. Sekitar 1995, mahasiswa seni rupa ITB juga melahirkan komik fenomenal saat itu yang berjudul Caroq.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Gagasan anak-anak kampus tersebut memang bukan hasil kontribusi yang sangat besar dari kampus, namun hasil pengolahan ide individu mahasiswa. Kampus seni rupa yang kian hari makin jauh dari wacana keilmuan yang baru "memaksa" mereka memanfaatkan sarana kampus (baca: pohon rindang di halaman, sudut kelas, kantin, dan beberapa ruang marginal kampus lainnya) dalam mengeksplorasi ide visual yang dituangkan dalam bahasa komik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Wacana yang berkembang di PKN II kemarin, mampukah mahasiswa pembuat komik tersebut mendobrak sistem-sistem industri yang terlampau memanjakan komik-komik impor Jepang atau mendobrak gaya-gaya impor itu dalam suatu sistem perjuangan ideologi?Tumbuhnya komik indie cukup membesarkan hati. Tetapi, memajukan komik Indonesia tidak cukup dengan itu. Diperlukan sistem pasar yang lebih luas, yakni sinergi yang kuat antara komikus dan penerbit. Kini juga sudah banyak penerbit yang mau menerbitkan komik Indonesia. Tetapi, masih perlu dipertanyakan lagi kesungguhannya, apakah sistem distribusi dan promosinya disetarakan dengan komik-komik impor mereka? Selama sistem dagang masih berlaku, upaya penerbit dalam menerbitkan komik Indonesia sebatas pemanis bibir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Itulah yang harus diupayakan mahasiswa pencinta komik Indonesia untuk mendobrak sistem tersebut. Tidak ada jalan lain kecuali membuat komik Indonesia yang lebih bagus daripada komik-komik impor. Caranya, komikus harus banyak belajar dalam mengeksplorasi ide cerita dan mengeksekusinya dalam bahasa komik. Kalangan akademis juga harus ikut terlibat meneliti serta melakukan pengembangan agar komik Indonesia kembali berjaya. Bila isu beberapa tahun lalu di kalangan komikus adalah memantapkan sinergi yang kuat antara penerbit dan komikus, perlu ditambah lagi, yaitu penerbit, komikus, dan akademikus! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ada tempat secara ilmiah saat ini bagi komik Indonesia berkarya saja sudah merupakan pencapaian perjuangan ideologi yang luar biasa. Ingat, di Jepang, komik menjadi lahan hidup komikus. Tentu hal tersebut tidak bisa dilepaskan pula dari keikutsertaan profesor-profesor seni dalam mengilmiahkan komik ke sistem pendidikan di sana. Di Indonesia, hal tersebut seharusnya juga menjadi semangat bersama untuk kembali memajukan komik Indonesia. &lt;em&gt;Support your local comic! ***&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;(dimuat di Jawa Pos, 19 Maret 2006)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-114310342825347455?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/114310342825347455/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=114310342825347455&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/114310342825347455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/114310342825347455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2006/03/ada-tempat-ilmiah-buat-komik-indonesia.html' title='ADA TEMPAT ILMIAH BUAT KOMIK INDONESIA'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-114259296971488405</id><published>2006-03-17T02:40:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:38:37.019-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'>BUKANNYA SOK NASIONALIS!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Nasionalis? ahhh..itu isu lama bila tulisan ini ditujukan untuk minta alasan pemerintah menjawab pertanyaan masalah 'perampokan' sumber daya alam di Papua. Saya hanya terlanjur mencintai negeri ini, bukannya sok nasionalis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kejadian Abepura jangan hanya disalahkan kepada massa dan mahasiswa yang menuntut penutupan PT Freeport, juga tidak menyalahkan pemerintah. Freeport sebenarnya sudah isu lama tahun 1990-an, tapi orde baru segera melakukan pemberangusan pendapat sampai menerjunkan tentara untuk mengamankan proyek prestisius itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tapi pengambilan dengan halus wilayah sumber daya alam yang seharusnya jadi kedaulatan kita, seenaknya saja diambil orang tanpa melibatkan penduduk setempat. Orang Papua nggak bisa apa-apa? ah itu anggapan pemerintah dengan maksud melanggengkan proyek Freeport untuk tetap diambil pihak asing. Apa gunanya anak-anak Papua yang disekolahkan di berbagai universitas oleh pemerintah kalau begitu?...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bila Freeport hanya membuat kaya orang asing apalagi pendatang lebih baik tutup saja!...bila tetap dibuka tanpa memberi kesempatan orang Papua terlibat dalam Freeport sama artinya dengan "Genocide Ekonomi".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bila dulu Papua ada Freeport, sekarang di Jawa Tengah ada Blok Cepu yang akan segera dikelola pihak asing, besok di Indonesia akan didatangi siapa saja?...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;ah Indonesia...terlalu banyak 'orang tua' di sini!...sudahlah orang tua! ***&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-114259296971488405?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/114259296971488405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=114259296971488405&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/114259296971488405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/114259296971488405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2006/03/bukannya-sok-nasionalis.html' title='BUKANNYA SOK NASIONALIS!'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-114161531049384674</id><published>2006-03-05T19:09:00.000-08:00</published><updated>2006-03-05T19:21:50.516-08:00</updated><title type='text'>PERNYATAAN SIKAP TERHADAP RANCANGAN UNDANG-UNDANG (RUU) ANTI PORNOGRAFI  DAN PORNOAKSI  - FORUM YOGYAKARTA UNTUK KEBERAGAMAN (FORUM YUK!)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;1. Kami menyadari sepenuhnya bahwa bangsa Indonesia terdiri atas berbagai kelompok etnis, suku, agama, dan latar belakang kebudayaan. Erat berkait dengan itu ialah kenyataan adanya berbagai ragam adat kebiasaan, nilai, keyakinan, dan pandangan hidup. Selama ini keberagaman itu diterima, dan telah terbukti menjadi salah satu sumber terpenting kekayaan dan kekhasan bangsa Indonesia.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;2. Pengakuan dan penghargaan atas kenyataan keberagaman tersebut telah diperjuangkan dan dibela oleh para perintis bangsa sejak awal terbentuknya kesadaran berbangsa di negeri ini. Dalam perjalanan sejarah Indonesia,  pada kurun Orde Lama maupun Orde Baru, perjuangan dan pembelaan bagi pengakuan kenyataan keberagaman itu juga terus dilakukan oleh mereka yang mencintai negeri ini dan menjunjung tinggi kesetiaan terhadap cita-cita kemerdekaan bangsa. Perjuangan dan pembelaan itu masih tetap diperlukan kini dalam menghadapi kecenderungan anti demokrasi yang sering muncul dari kelompok  dan perseorangan yang MERASA memiliki kuasa dan hak untuk menentukan  kebenaran, memaksakan penyeragaman, berdasarkan nilai dan keyakinan maupun  kepentingan kelompok maupun pribadi sendiri semata.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;3. Dengan menerima, menyadari dan menghormati keputusan untuk  menggunakan paham demokrasi sebagai asas kehidupan bersama di negeri ini, secara mendasar kami menolak upaya-upaya penyeragaman dan pemaksaan wawasan  tunggal yang mengingkari kenyataan keberagaman cara pandang dan penghayatan warga bangsa ini tentang kehidupan dengan segala seginya. Kami sangat menyadari bahwa diperlukan sebuah tatanan untuk mewujudkan kehidupan yang serasi dan harmonis dalam masyarakat Indonesia yang plural ini. Meski demikian,  tatanan itu harus disusun dengan mempertimbangkan dan menghormati keberagaman situasi, cara pandang dan keyakinan kelompok-kelompok masyarakat di Indonesia, dengan segala tradisinya, tanpa kecuali.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;4. Kami menyadari, bangsa ini baru saja terbebas dari kekuasaan yang menindas, sewenang-wenang dan dengan keras mengingkari kenyataan  keberagaman masyarakat Indonesia. Kami sadari pula, perkembangan zaman telah menghadirkan teknologi komunikasi yang semakin memudahkan arus dan penyebaran informasi. Kami menyadari bahwa kemudian di masyarakat kita berkembang semacam euphoria kebebasan yang memunculkan jenis-jenis media  dan ekspresi yang meresahkan sebagian orang atau kelompok masyarakat di Indonesia. Kami dapat menerima dan memahami keresahan dan kekhawatiran tersebut; bahkan, keresahan dan kekhawatiran serupa muncul pula di antara kami. Akan tetapi kami berpendapat bahwa penyikapan yang reaksioner dan  cara pandang yang sempit dalam melihat kenyataan serta persoalan sosial akan sangat tidak mendukung dan bahkan menghalangi proses pendewasaan  masyarakat di Indonesia dalam menghadapi perubahan dan perkembangan dunia yang semakin terbuka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;5. Setelah membaca dan mempelajari Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi dengan seksama, kami berpendapat bahwa RUU ini lebih bersifat reaksioner dan justru lebih berpotensi memunculkan  keresahan dan konflik horisontal di dalam dan antar kelompok masyarakat, yang pada akhirnya dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena:  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;1. batasan dan rincian pasal yang dicantumkan tentang pornografi dan pornoaksi berpotensi mengancam dan menghambat laku kehidupan masyarakat, praktik berkesenian, dan kegiatan olahraga. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;2. batasan yang lentur tentang pornografi dan pornoaksi memungkinkan masyarakat dan aparat bertindak berdasarkan prasangka semata dan bersikap saling mencurigai sehingga RUU ini justru tidak memberi kepastian hukum.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;3. substansi-substansi yang tercantum di sana sesungguhnya sudah ada dalam KUHP pasal 282 dan Undang-Undang Pers. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;4. Dengan seluruh alasan tersebut di atas, kami menyatakan tidak setuju dan menolak RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kami merekomendasikan  kepada pemerintah dan DPR untuk menggunakan dan mengoptimalkan produk perundangan yang telah ada yang berkaitan dengan pornografi dan pornoaksi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Disusun dan dinyatakan oleh kami, yang berhimpun dalam wadah yang menamakan diri "Yogyakarta untuk Keberagaman" (YuK!)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Yogyakarta, 7 Maret 2006.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tim Perumus:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;1. Agus Bing&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;2. Ade Tanasia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;3. Bondan Nusantara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;4. Gunawan Maryanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;5. Landung R. Simatupang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;6. M. Miroto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;7. Mella Jaarsma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;8. Sigit Pius Kuncoro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;9. Wahyudin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;10. Yudi Ahmad Tajudin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tim Kerja/Jaringan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;1. Aisyah Hilal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;2. Aji&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;3. Bambang Toko Witjaksono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;4. Caroline Rika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;5. Eko Nugroho&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;6. Ferdi Thajib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;7. Kusworo Bayu Aji&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;8. Samuel Indratma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;9. Tita Suwage&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;10. Terre&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-114161531049384674?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/114161531049384674/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=114161531049384674&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/114161531049384674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/114161531049384674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2006/03/pernyataan-sikap-terhadap-rancangan_05.html' title='PERNYATAAN SIKAP TERHADAP RANCANGAN UNDANG-UNDANG (RUU) ANTI PORNOGRAFI  DAN PORNOAKSI  - FORUM YOGYAKARTA UNTUK KEBERAGAMAN (FORUM YUK!)'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-114066061062513942</id><published>2006-02-22T18:05:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:40:01.367-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Art and Design'/><title type='text'>MANIFES SENI RUPA INDONESIA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Teman-teman pencinta Seni Rupa Indonesia,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Sehubungan dengan kasus kriminalisasi karya seni rupa Indonesia yang dialami rekan perupa Agus Suwage dan fotografer Davy Linggar menyangkut karya mereka Pinkswing Park, kami, mewakili setiap orang yang selama ini mencintai Seni Rupa Indonesia, serta bekerja sungguh-sungguh demi perkembangan dan kemajuan Seni Rupa Indonesia, sepakat untuk menyatakan sikap. Pernyataan sikap kami dapat dibaca di bawah ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Kami membutuhkan sebanyak-banyaknya dukungan dari rekan-rekan seniman, penulis, kurator, kolektor, pengelola galeri, jurnalis, dan lain-lain untuk menyuarakan sikap ini.Kirimkan dukungan Anda melalui blog &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffcc33;"&gt;senirupaindonesia.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;. Cukup dengan mengirim balasan berupa pernyataan SETUJU atau MENDUKUNG, disertai nama lengkap dan profesi, alamat e-mail dan nomor telelpon. (Tanpa nama jelas, alamat e-mail, atau alamat lain yang bisa dihubungi, tidak akan dimuat.)Perkembangan kasus yang menimpa Agus Suwage + Davy Linggar, juga mengenai pernyataan sikap ini akan terus bisa Anda pantau melalui situs-blog ini.Terima kasih.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;+++++++++++++++++++&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Manifes Seni Rupa Indonesia&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;1.&lt;br /&gt;Seni rupa adalah bidang kerja dan keahlian yang setara dengan bidang keilmuan lainnya yang memiliki aturan dan wilayah otonomi masing-masing. Karenanya, soal-soal yang menyangkut perkembangan gagasan, pemikiran dan tafsir terhadap karya seni rupa selayaknya mengutamakan pandangan, gagasan, pemikiran dari lingkungan disiplin seni rupa itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;2.&lt;br /&gt;Kami membela dan mendukung sepenuhnya kebebasan tafsir dan penilaian atas suatu karya seni rupa, seperti juga kami membela dan mendukung sepenuhnya kebebasan penciptaan karya seni rupa. Pembelaan kami terhadap kebebasan penciptaan dan tafsir atas karya seni rupa dilandasi oleh semangat penghargaan terhadap martabat, hak dan kebebasan manusia dalam masyarakat yang beradab dan demokratis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;3.&lt;br /&gt;Kami menolak penilaian atas karya seni rupa yang menggunakan sembarang pandangan dan norma yang tidak bersangkut-paut dengan disiplin dan keahlian seni rupa. Terlebih lagi jika penafsiran dan penilaian itu mendaku sebagai satu-satunya kebenaran—dengan embel-embel "mewakili suara dan kepentingan mayoritas" sekalipun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;4.&lt;br /&gt;Kami membela sepenuhnya kebebasan berpendapat, tapi bukan sebagai alasan dan cara untuk mengancam, menghukum, mengurangi, atau bahkan menghapus kebebasan berpendapat pihak lain. Maka, kami menolak segala cara dan upaya yang secara sembrono memandang dan memperlakukan penciptaan karya seni rupa sebagai tindakan kriminal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;5.&lt;br /&gt;Kami membela sepenuhnya hak dan kebebasan setiap pihak untuk menyelenggarakan berbagai bentuk kegiatan yang mempertemukan karya seni rupa dengan masyarakat—pameran, pertunjukan, diskusi, penerbitan, dan lain-lain—karena kami percaya bahwa masyarakat Indonesia memiliki hak untuk menikmati dan mengapresiasi karya seni rupa dalam ruang sosial yang bebas dan terbuka.&lt;br /&gt;Maka, kami menyayangkan dan mengecam pihak-pihak yang terus berdiam-diri membiarkan terjadinya kriminalisasi terhadap penciptaan karya seni rupa dan penyelenggaraan kegiatan seni rupa. Kami menagih peran negara (cq. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, dan badan lain yang terkait), dan juga lembaga-lembaga pendidikan seni rupa untuk membela keabsahan seni rupa Indonesia sebagai bidang keahlian yang punya otoritas keilmuan dan dapat diselenggarakan di ruang sosial yang bebas dan terbuka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;6.&lt;br /&gt;Kami percaya bahwa semua pihak yang berperan dan bekerja sungguh-sungguh demi perkembangan dan kemajuan seni rupa Indonesia dan pranata pendukungnya—seniman, penulis, kritikus, kurator, model, komunitas seniman, kolektor, pengelola galeri, balai lelang, media massa, majalah seni rupa, jurnal dan lain-lain—mampu mengatur dan mengelola kehidupannya sendiri sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang beradab dan demokratis. Karenanya, kami akan mengatur diri dan hidup kami sendiri. Kami akan berhimpun untuk menyatukan pikiran dan pendapat, menyusun prinsip-prinsip etik bagi penyelenggaraan kegiatan seni rupa yang menjamin pekembangan dan kemajuan Seni Rupa Indonesia di tengah perkembangan seni rupa dunia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cemara Galeri-Kafe, &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jakarta 15 Februari 2006 (Tim perumus pernyataan ini: Aminudin TH Siregar, Arif Ash Shiddiq, Enin Supriyanto, Hendro Wiyanto, Rifky Effendy)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-114066061062513942?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/114066061062513942/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=114066061062513942&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/114066061062513942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/114066061062513942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2006/02/manifes-seni-rupa-indonesia.html' title='MANIFES SENI RUPA INDONESIA'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-113988694108846180</id><published>2006-02-13T19:07:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:38:37.019-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'>MASIH PERLUKAH TES CPNS?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Beberapa minggu yang lalu ramai diberitakan para pelamar pegawai negeri sipil (PNS) yang kemudian mengikuti tes. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Yang menggelitik saya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;1. Masih perlukah tes, bila pihak panitia (dalam hal ini pemerintah setempat) tidak menyediakan ruang yang pas untuk pendaftarannya agar tidak selalu terulang mereka yang tergencet-gencet, terinjak-injak hingga pingsan?...mengapa tidak diantisipasi sejauh mungkin dengan membuka loket yang lebih banyak? ingat kejadian ini selalu terulang tiap tahun!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;2. Masih perlukah tes?ketika tes ditujukan untuk umum tanpa mengenal apa prioritas yang dimasukinya, tidak ada kompetensi apapun dalam soal ujian. Logiskah calon guru kesenian disodori soal Aljabar dan Aritmetika? logiskah calon dosen seni rupa disodori soal yang jauh dari kompetensi dia?...model soal apa-apaan ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;3. Masih perlukah tes, ketika tempat duduk pun saling berdempet-dempetan, bahkan ada yang lesehan? ujian seperti apa yang diharapkan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jangan-jangan, tidak ada kompetensi apapun dari calon pelamar atau ada maksud tersembunyi dari pemerintah untuk tetap mengadakan tes seperti ini...KKN mungkin...***&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-113988694108846180?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/113988694108846180/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=113988694108846180&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113988694108846180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113988694108846180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2006/02/masih-perlukah-tes-cpns.html' title='MASIH PERLUKAH TES CPNS?'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-113955258981584889</id><published>2006-02-09T22:15:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:41:12.481-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>STREET ART MENYAPA KOTA</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;oleh: Obed Bima Wicandra*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;          Sorotan media massa cetak dan elektronik di Indonesia terakhir ini termasuk di Metropolis Jawa Pos adalah berita tentang tren memperindah wilayah publik yang biasa dikenal dengan &lt;em&gt;street art&lt;/em&gt; atau seni rupa jalanan. Wabah &lt;em&gt;street art&lt;/em&gt; bahkan sudah masuk di Surabaya dengan berbagai macam bentuknya mulai dari &lt;em&gt;graffiti&lt;/em&gt; maupun mural (meskipun dua bentuk ini memiliki perbedaan yang mendasar).&lt;br /&gt;          &lt;em&gt;Street art&lt;/em&gt; identik dengan seni underground. &lt;em&gt;Street art&lt;/em&gt; yang lahir pada tahun 1980-an di kota New York lebih tepat ditujukan pada &lt;em&gt;graffiti&lt;/em&gt; atau bentuk seni rupa jalanan lain seperti &lt;em&gt;stencil, sticker&lt;/em&gt;, poster dan lain-lain. Sedangkan mural dalam beberapa referensi perkembangan &lt;em&gt;street art&lt;/em&gt; tidak memasukkannya dalam kategori tersebut. Sifat mural yang penuh ketelitian dalam pengerjaan sehingga memunculkan kesan sempurna tentu berbeda dengan &lt;em&gt;graffiti&lt;/em&gt; maupun bentuk &lt;em&gt;street art&lt;/em&gt; lain yang sifatnya cepat digoreskan pada tembok.&lt;br /&gt;          Karena itulah muncul kesan, bahwa &lt;em&gt;graffiti&lt;/em&gt; maupun stencil menghasilkan wajah buruk bagi kota yang tengah membangun image bersih, rapi dan tampak tertata, sehingga tidak heran dalam setiap aksinya kelompok &lt;em&gt;graffiti&lt;/em&gt; biasanya harus berurusan dengan Satpol Pamong Praja. Tantangan yang memicu hormon andrenalin meningkat itu pun diikuti oleh perkembangan komunitas &lt;em&gt;graffiti &lt;/em&gt;di Surabaya yang juga semakin meningkat seiring dengan referensi visual yang didapat dari internet, buku-buku terbitan luar negeri maupun dari hasil diskusi dengan sesama komunitas dari Jogjakarta, Bandung dan Jakarta yang lebih dulu memulai kegiatan ini sejak tahun 2000-an. Sehingga visual yang dihadirkan oleh graffiti di Surabaya pun semakin artistik, tidak lagi hanya coretan-coretan liar nama sekolah, nama geng/kelompok maupun kata-kata yang tak punya arti. Sesekali cobalah melihat &lt;em&gt;graffiti &lt;/em&gt;di salah satu sudut kawasan Margorejo dan Gunungsari. Sangat artistik kan? &lt;br /&gt;          Berbeda lagi dengan mural yang proses pengerjaannya lebih lama daripada &lt;em&gt;graffiti&lt;/em&gt; maupun &lt;em&gt;stencil&lt;/em&gt;, maka mau tidak mau seniman mural memang ‘harus’ berkompromi dengan dinas-dinas kota yang terkait. Di samping itu mural memang menuntut adanya relasi sosial antara seni itu sendiri dengan kondisi masyarakat sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Respon Street Art Terhadap Ruang Publik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;          Adakah di Surabaya tempat yang dinamakan ruang publik? Suatu tempat dimana kita bisa sekedar duduk dengan lega, tidak terganggu dengan tawaran iklan komersial atau bisingnya lalu lintas jalan? Suatu tempat dimana aktifitas bertemu dan bersama orang lain terjadi dalam situasi kehangatan?&lt;br /&gt;          Dalam proyek Re-Publik Art di Jogjakarta pada tahun 2005 lalu dipertanyakan pula mengenai konsep kota bagi publik. Kota yang telah menjadi branding bagi merek-merek global ditengarai tidak lagi memberi cukup ruang dalam menciptakan ruang publik. Ruang publik dalam kategori spasial kota adalah ruang yang ditujukan untuk kepentingan publik. Modernitas yang menghasilkan pesan-pesan komersial seperti iklan  menjadi pihak yang bertanggung jawab atas dehumanisasi yang tercipta oleh ruang. Ruang publik adalah salah satu jalan bagi anggota masyarakat menemukan kembali ruang kemanusiaannya. Ruang publik bisa berarti tempat (plaza, alun-alun, mall, taman atau hutan kota) tapi mungkin lebih luas dari itu sebagaimana tempat umum (wc umum, rumah sakit umum) tidak selalu berarti ruang publik. Dalam perencanaan tata kota yang berhasil, apa yang dibayangkan atau dirancangkan dapat terwujud (atau mengkonstruksi) pada kenyataan praktik sehari-hari.&lt;br /&gt;          Kesenian, seperti seni rupa seperti juga kota, bergerak dalam sekian aras modern yang bercabang dan menghasilkan pula kecenderungan yang beragam. Kecenderungan yang paling kuat dalam dunia seni rupa adalah kecenderungan untuk meninggalkan ruang yang khusus memajang karya seni yang selama ini telah terlembaga, yaitu galeri. Mengalihkan galeri ke tempat-tempat umum dalam berkarya seni adalah berupaya untuk menembus jarak spasialnya dengan orang banyak. Seni pun pada akhirnya bisa dinikmati oleh siapapun dengan strata sosial apapun.&lt;br /&gt;          &lt;em&gt;Graffiti &lt;/em&gt;maupun &lt;em&gt;stencil&lt;/em&gt; memang mempunyai idealisme yang tidak mau berkompromi dengan kebijakan pemerintah kota, namun kehadirannya akan selalu ada ketika ruang publik tidak terawat dan tidak dibebaskan dari tempelan poster-poster produk iklan yang asal saling bertumpuk, bahkan ketika kota makin dihiasi oleh berbagai macam dan ukuran billboard yang menambah bising. Mural pun memiliki nafas yang sama, yaitu memperindah dan menghilangkan kesan bising kota oleh kesan kumuhnya wilayah maupun ketidak pedulian masyarakat kota dalam menciptakan keindahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mural dan Lingkungan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;          Mural bila dihubungkan dengan keseimbangan lingkungan, maka mural mampu membawa dampak yang cukup besar pada perkembangan kota. Sekarang di tengah arus budaya urban yang sangat tinggi serta tingkat kepadatan masyarakat kota, perkembangan mural bisa dihubungkan dengan memperindah sudut pandang kota yang ‘hilang’ akibat padatnya pengguna jalan raya, tingginya pemilik kendaraan bermotor hingga kemacetan yang terjadi. Begitu pula dengan lingkungan yang tidak seimbang akibat penebangan pohon yang sebenarnya difungsikan sebagai paru-paru kota menambah panasnya hunian serta tingkat polusi yang tinggi. Hal demikian dimanfaatkan oleh mural dengan ‘menawarkan’ alternatif bagi mata untuk menangkap kesan estetik ketika hal itu tidak ditawarkan oleh bangunan kota, papan iklan maupun estetiknya mobil keluaran terbaru.&lt;br /&gt;          Dalam politik kota yang semrawut, mural berbicara untuk melukis dinding kota yang tidak terawat, kotor nan sangat kumuh dengan sentuhan estetika (seni). Hal ini menunjukkan kegelisahan para perupa kontemporer untuk mencari kaitan antara wacana seni rupa dan kehidupan kota sebagai representasi keseharian. Kota sudah memasuki fase pelupa. Pada saat yang sama kota telah berubah menjadi rimba tanda-tanda yang mengubur sejarah kotanya sendiri dan kota tidak lagi sarat dengan kenangan lama yang menjadi saksi berkembangnya kota dari hari ke hari. Hal inilah yang menjadi dasar alasan yang kuat mengapa mural dilakukan dan mengapa pula mural sebaiknya tidak dipakai sebagai alat promosi sebuah produk.&lt;br /&gt;          Sekedar perbandingan saja, di Jogjakarta mural dalam perkembangannya tidak lagi dibuat oleh seniman namun justru oleh masyarakat sendiri. Mereka mengerjakan mural itu di pinggir-pinggir jalan lingkup RT maupun jalan masuk gang. Terkesan mural di Jogja bahkan seperti gerakan massal yang memaksa pihak biro iklan harus memutar otaknya lagi untuk memasang poster iklan, karena ternyata ruang publik itu sudah kembali ke masyarakat sendiri. Menurut data dari Samuel Indratma, penggagas mural di Jogja sekaligus seniman dari Apotik Komik, telah lebih dari 500 karya mural dihasilkan oleh masyarakat Jogja. Sebuah usaha yang bisa dipakai sebagai salah satu trik menjauhkan masyarakat dari penyakit sosial, selain juga sebagai usaha yang bagus untuk mengajak berbagai lapisan masyarakat mulai dari yang muda hingga yang tua dalam menciptakan kondisi kota yang tidak saja bersih namun juga indah.&lt;br /&gt;          Mari mewarnai kota Surabaya ini dengan bahasa keindahan!***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;*aktivis Tiadaruang Art Community&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(dimuat di Jawa Pos, 5 Februari 2006)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-113955258981584889?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/113955258981584889/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=113955258981584889&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113955258981584889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113955258981584889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2006/02/street-art-menyapa-kota.html' title='STREET ART MENYAPA KOTA'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-113705200093912158</id><published>2006-01-11T23:45:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:38:37.020-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'>ISU FORMALIN: Untuk Kesehatan atau Teror?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Percayakah bahwa formalin bisa membahayakan tubuh ketika zat itu ikut termakan bersama makanan? Maaf saya tidak percaya! Bukan sekedar pembelaan terhadap pedagang bakso atau makanan yang biasanya dari usaha kecil dan menengah, tetapi wujud pertanggungjawaban secara ilmiah. Pemerintah dan badan pemerintah yang berwenang hanyalah melarang tetapi tidak memberi kepastian dari sisi ilmiah. Sisi medik banyak yang mengulas, tetapi dari sisi ilmiah asal zat itu hingga disebut formalin nyaris tidak ada suaranya di media. Terlalu mudah mengatakan mengapa daripada bagaimana. Seperti terlalu mudah mengatakan formalin hanya untuk pengawet mayat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Penelitian ahli farmasi dari Universitas Sanata Dharma Jogjakarta meyakinkan pendapat saya tersebut. Tentunya yang berwenang menentukan zat itu berbahaya atau tidak ya dari orang farmasi yang mengenal betul percampuran kimianya. Penelitiannya menunjukkan bahwa formalin yang tercampur dengan makanan akan dengan sendirinya berubah wujud selama 1,5 menit menjadi CO2. Zat tersebut juga tidak bersifat menyimpan (sehingga sering diasumsikan mengendap), tetapi hilang selama waktu tersebut. Kadar formalin yang masuk ke pencernaan pun memang ada batasnya, tetapi kadar yang ditemukan oleh Badan POM terhadap makanan di Indonesia masih jauh dari batas normal, malah di bawah itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Penelitian menunjukkan pula bahwa formalin bisa berbahaya hanya jika dihirup, karena dia tidak tercampur oleh zat-zat dalam tubuh berbeda bila termakan maka zat-zat dalam tubuh yang dihasilkan oleh organ dalam manusia akan membantu menghilangkan dan mengubah wujudnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hentikan informasi yang menyesatkan dan karena ini masuk wilayah yang harus dipertanggungjawabkan kepada publik maka harus ada uji ilmiah yang benar-benar akurat! Selain itu bila pemerintah melarang formalin dipakai dalam makanan, harus ada solusi zat kimia apa yang diperbolehkan namun tentunya dapat dibeli oleh mereka yang mempunyai usaha kecil dan menengah. (memang lebih menguntungkan bila makan makanan yang jauh dari bahan kimia, tapi siapa yang bisa menjamin hal ini?)...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Informasi yang akurat dan benar tidak akan mematikan usaha mereka yang kian hari kian tergencet oleh sistem globalisasi.*** &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-113705200093912158?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/113705200093912158/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=113705200093912158&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113705200093912158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113705200093912158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2006/01/isu-formalin-untuk-kesehatan-atau.html' title='ISU FORMALIN: Untuk Kesehatan atau Teror?'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-113335282142173376</id><published>2005-11-30T04:09:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:41:12.482-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>TERIMA KASIH</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Re-Publik Art memang telah berakhir. Warnanya diharapkan menjadi kepedulian bagi semua pihak untuk menjaga relasi sosial tetap terjaga. Perkembangan terakhir, Samuel Indratma memaparkan bahwa telah ada 500 karya mural di Jogja yang dikerjakan justru oleh masyarakat sendiri. Kesenian pada akhirnya milik semua orang dan tidak bersifat eksklusif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Terima kasih kepada Kedai Kebun Forum atas diskusinya saat itu, buat Honda GL yang menemani dalam perjalanan dan tentu saja buat Manda dan Laia...yang mau menemani dalam mengapresiasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-113335282142173376?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/113335282142173376/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=113335282142173376&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113335282142173376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113335282142173376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/11/terima-kasih.html' title='TERIMA KASIH'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-113335251298001632</id><published>2005-11-30T03:44:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:41:12.482-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>HUNTING (13)</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/stasiun.0.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/stasiun.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/denah%20stasiun.0.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/denah%20stasiun.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/konsep%20sign%20system.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/konsep%20sign%20system.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Robot informan dan Robot Sampah, begitu Dani Agus Yuniarto dan Toto Nugroho memberi tema pada karya mereka. Stasiun Tugu adalah stasiun besar yang kurang memberi informasi bagi para pengunjung yang datang dari luar kota. Sering kali para penumpang kebingungan untuk menentukan arah atau lokasi. Robot-robot yang akan diletakkan di lokasi-lokasi strategis ini akan menyediakan informasi sederhana misalnya letak toilet, posisi ia berdiri dan sebagainya. Selain itu patung robot itu diharapkan dapat dipakai sebagai &lt;em&gt;landmark&lt;/em&gt; bagi Stasiun Tugu Jogjakarta.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-113335251298001632?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/113335251298001632/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=113335251298001632&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113335251298001632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113335251298001632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/11/hunting-13.html' title='HUNTING (13)'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-113335103633326169</id><published>2005-11-30T03:33:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:41:12.482-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>HUNTING (12)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/sarkem.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/sarkem.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/l"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/l%27atlas%20cendana.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;ATLAS dan SUN7 adalah kelompok street art dari Prancis yang diundang khusus dalam aksi Re-Publik ini. Dengan bentuk khas ATLAS yang konfiguratif dan kaligrafi yang kental (bawah), kelompok ini mampu memberi warna berbeda dalam perkembangan street art di Indonesia. Sedangkan SUN7 merespon tembok gang di Pasar Kembang (wilayah prostitusi di Jogja) dengan pandangannya tentang konteks lokal (atas). Membuat graffiti yang tidak hanya mencoreti dinding akan tetapi juga dengan memberi nuansa lokal serta konteks lokasi. Karya graffiti ATLAS tidak berusia lama karena kemudian di-bom oleh kelompok graffiti yang sudah terlebih dahulu menempati wilayah itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-113335103633326169?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/113335103633326169/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=113335103633326169&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113335103633326169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113335103633326169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/11/hunting-12.html' title='HUNTING (12)'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-113335024845708892</id><published>2005-11-30T03:10:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:41:12.483-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>HUNTING (11)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/sabar%20dab.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/sabar%20dab.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/juminahan.0.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/juminahan.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Juminahan Project menjadi judul karya karena memang dibuat di sekitar Rumah Susun sewa, pinggir kali Code. Objek karya berupa tong sampah, peringatan di traffic light dan di jembatan perdamaian. Membuat tong sampah yang berfungsi sebagai alat bakar sampah untuk mengurangi kebiasaan membuang sampah secara sembarangan oleh penduduk setempat ke dalam sungai. Ide awal dari karya ini adalah dari konsep 'jugangan' atau kebiasaan tradisional untuk membakar sampah di pekarangan rumah guna mengurangi sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farhansinki membuat gambar dinding di jembatan dengan teknik pixel untuk mengeksplorasi bentuk fisik jembatan dan lansekap daerah sekitar sungai. Lukisan ini dirancang untuk dapat dilihat secara jelas dari jalan raya yang terletak beberapa ratus meter dari lokasi karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu di traffic light sekitar Juminahan dan Cokrodirjan dipasang juga sebuah 'patung teks' yang bertuliskan "Sabar Dab (sabar mas)", yang dibuat oleh Codit. Patung itu secara nakal mengingatkan para pengguna jalan agar mau sedikit bersabar selama berkendara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seniman: Marianto (Totok), Popok Triwahyudi, Codit (COLA) dan Farhansinki.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-113335024845708892?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/113335024845708892/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=113335024845708892&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113335024845708892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113335024845708892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/11/hunting-11.html' title='HUNTING (11)'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-113334890037660843</id><published>2005-11-30T02:59:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:41:12.483-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>HUNTING (10)</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/gundala.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/gundala.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bambang Toko Wicaksono menciptakan tokoh Local Hero dalam Re-Publik ini dengan mengambil figur Gundala Putra Petir. Mengangkat tokoh lokal komik sebagai salah satu ikon untuk membuat alternatif dari 'hero negara' yaitu para tentara. Sekaligus juga merekayasa produksi pahlawan lokal. Gundala dipilih karena tokoh hero lokal ini dikisahkan berasal dari Jogjakarta. Seorang tokoh fiksi yang sempat mewarnai perkomikan nasional pada tahun '70-an hingga '80-an. Lokasi: Taman SMUN 9 Jogjakarta (Jl. Sagan).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-113334890037660843?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/113334890037660843/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=113334890037660843&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113334890037660843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113334890037660843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/11/hunting-10.html' title='HUNTING (10)'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-113334828772927043</id><published>2005-11-30T02:47:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:41:12.483-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>HUNTING (9)</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/gardanala.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/gardanala.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Teater Gardanala ikut berpartisipasi dalam proyek Re-Publik ini dengan menampilkan Toko Cerita Gardanala dengan tema Subversi Konsumerisme. Bertempat di Galeria Mall dan Cemeti Art House, teater ini merespon kehadiran mall yang telah menjadi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat modern sekarang ini. Mall sebagai mesin konsumerisme disikapi dengan membuat sebuah toko/kios cerita yang menjual berbagai cerita yang dapat dibeli dengan cara barter. Cerita-cerita itu adalah cara agar para pengunjung mall mau meluangkan waktu untuk mendengarkan orang lain, menumbuhkan empati yang hilang akan tetapi dengan cara yang sedikit tragik. Mulai dari remaja dengan citra remaja yang kosmopolitan (dari gay hingga remaja yang ingin sekedar berbagi cerita) hingga mantan tahanan politik G30S/PKI dihadirkan untuk memberi cerita yang mungkin akan terhilang seiring dengan menggilasnya industri yang menampikkan perhatian pada orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;*terima kasih lagi buat Kedai Kebun Forum buat support fotonya.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-113334828772927043?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/113334828772927043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=113334828772927043&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113334828772927043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113334828772927043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/11/hunting-9.html' title='HUNTING (9)'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-113334761038335422</id><published>2005-11-30T02:30:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:41:12.483-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>HUNTING (8)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/wonderland%20selokan%20mataram.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/wonderland%20selokan%20mataram.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Karya mural yang berjudul Wonderland untuk semua tersebut dikerjakan di Selokan Mataram (Perempatan Jl. Gejayan - Selokan Mataram, depan Kedai Kopi) oleh Iwan Effendi dan Iyok Prayoga. Mural di jalan ini berfungsi untuk mempercantik tembok yang berada di sekitar Jl. Gejayan. Tembok ini selalu dicorat-coret, pemilik tembok itu ingin supaya tembok itu menjadi sedikit lebih bersih dan indah. Namun sayang, belum genap seminggu karya mural Wonderland ini sudah kembali di'bom' oleh graffiti lain. Kritik buat Re-publik Art adalah relasi sosial hendaknya juga diperluas dengan artist-artist yang tak terduga seperti bomber-bomber yang 'memiliki' wilayah tersebut, sehingga kemungkinan tidak semena-mena terhadap karya graffiti yang langsung ditutup dengan karya yang ditampilkan dalam Re-Publik ini...saling memiliki dan menjaga lah!...sehingga bukan hanya 'resiko' sebagai jawaban mengapa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;*terima kasih lagi buat Kedai Kebun Forum buat support fotonya.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-113334761038335422?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/113334761038335422/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=113334761038335422&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113334761038335422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113334761038335422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/11/hunting-8_30.html' title='HUNTING (8)'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-113334656628291681</id><published>2005-11-30T02:19:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:41:12.484-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>HUNTING (7)</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/zebra%20cross.1.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/zebra%20cross.1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Emergency Cross (Zebra Cross Emergency) di atas bertema Illegal Zebra Cross. Dibuat oleh Sadat Laope di lokasi Jl. Kaliurang, Depan Mirota Kampus, Jl. Mataram, Jl. Malioboro, Jl. Tirtodipuran (depan Kedai Kebun Forum). Zebra Cross adalah medan perang bagi penyeberang jalan. Sadat mengingatkan akan bahaya menyeberang jalan meski sudah pada tempat yang seharusnya. Seniman ini menambahkan nomor telepon polisi, rumah sakit dan para pejabat terkait dengan kebijakan jalan raya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-113334656628291681?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/113334656628291681/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=113334656628291681&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113334656628291681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113334656628291681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/11/hunting-7.html' title='HUNTING (7)'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-113334595065260992</id><published>2005-11-30T02:09:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:41:12.484-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>HUNTING (6)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/robot%20cross.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/robot%20cross.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Robot Cross (Robot Bantu Penyeberangan) tersebut dibuat oleh seniman muda yang mempunyai background Desain Komunikasi Visual, Terra Bhajragosa. Masih dengan tema &lt;em&gt;Street For Children?&lt;/em&gt; Robot itu masih merupakan satu kesatuan dengan karya halte tunggu, robot yang dibuat dengan ukuran setinggi manusia yang akan menggantikan fungsi tanda penyeberangan dan satpam. Robot itu mengingatkan bagaimana mobil dan kendaraan bermotor lainnya bukanlah sahabat penyeberang jalan di &lt;em&gt;zebra cross&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Zebra cross&lt;/em&gt; bukan jalan para penyeberang, melainkan tanda untuk kendaraan bermotor melaju kencang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;*terima kasih buat Kedai Kebun Forum buat support fotonya.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-113334595065260992?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/113334595065260992/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=113334595065260992&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113334595065260992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113334595065260992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/11/hunting-6.html' title='HUNTING (6)'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-113334533103845623</id><published>2005-11-30T02:00:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:41:12.484-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>HUNTING (5)</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/Haalte%20tunggu%20jemputan.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/Haalte%20tunggu%20jemputan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam Re-publik Art ini selain karya graffiti dan mural, namun juga menampilkan karya yang bersifat tepat guna namun masih dibungkus cita rasa visual. Karya seni di atas adalah Halte tunggu jemputan yang mempunyai tema &lt;em&gt;"Street for Children?". &lt;/em&gt;Karya yang dibuat oleh seniman Uji Handoko ini ingin merespon tentang makna jalan bagi anak-anak. Bukankah anak-anak juga berhak mempunyai jalan dan trotoar? Halte disamping juga sebagai sarana tunggu juga berfungsi sebagai relasi sosial antara anak pengguna halte. Dibuat se-&lt;em&gt;friendly &lt;/em&gt;mungkin, sehingga anak pun merasa berhak atas trotoar dan jalan raya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Lokasi: Kompleks SD Jetisharjo, SD Samirono dan SD Kanisius Wirobrajan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-113334533103845623?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/113334533103845623/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=113334533103845623&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113334533103845623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113334533103845623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/11/hunting-5.html' title='HUNTING (5)'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-113334478175215690</id><published>2005-11-30T01:52:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:41:12.484-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>HUNTING (4)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/graffiti%20mataram.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/graffiti%20mataram.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"Make Over Shoes Shop" adalah tema graffiti yang juga amsih dikerjakan oleh komunitas seniman mural di Jl. Perwakilan. Graffiti di atas dikerjakan di Jl. Mataram yang dipenuhi dengan kios sepatu murah. Kios-kios itu terlihat kumuh, kehadiran para seniman di tempat ini adalah untuk melakukan revitalisasi, mempercantik pintu tarik &lt;em&gt;(rolling door)&lt;/em&gt; yang menutupi toko-toko di sekitar jalan itu. Oleh karena yang dilukis adalah pintu dari toko itu, dengan sendirinya karya seni ini hanya bisa dinikmati pada malam hari ketika toko-toko itu telah tutup. Proyek ini menjadi semacam wisata visual di waktu malam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-113334478175215690?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/113334478175215690/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=113334478175215690&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113334478175215690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113334478175215690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/11/hunting-4.html' title='HUNTING (4)'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-113334433620691101</id><published>2005-11-30T01:39:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:41:12.485-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>HUNTING (3)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/perwakilan2.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/perwakilan2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Wallpaper di atas masih terpasang di pintu masuk Jl. Perwakilan yang dikerjakan oleh seniman yang sama. Bermakna absurd, namun mampu memberi pencerahan bahwa lokasi yang dimural sebenarnya adalah lokasi yang kumuh yang kehilangan daya estetiknya. Coba lihat halaman di depan wallpaper tersebut, penuh gundukan tanah yang tak terawat, padahal berada di dalam area padat pengunjung ke arah maupun meninggalkan Malioboro. Pemilihan lokasi ini tepat karena seharusnya dan memang 'semangat' mural adalah mengembalikan public area kepada masyarakat sehingga terjadi relasi sosial yang tak kehilangan imajinasi terhadap ruang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-113334433620691101?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/113334433620691101/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=113334433620691101&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113334433620691101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113334433620691101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/11/hunting-3.html' title='HUNTING (3)'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-113317966086115561</id><published>2005-11-28T03:50:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:41:12.485-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>HUNTING (2)</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/perwaklian.2.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/perwaklian.2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/proses%20perwakilan.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/proses%20perwakilan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tujuan pertama adalah Jl. Perwakilan (belakang Hotel Ibis). Mural yang pada tahun 2002 dalam Proyek Mural Kota "Sama-Sama" dikerjakan oleh seniman Mural Jepang-Indonesia, sekarang karena kondisinya sudah rusak maka perlu perbaikan kembali (gambar pemandangan). Mural yang dikerjakan dalam proyek Re-Publik ini mengambil tema Hemat Energi yang pas dengan kondisi lingkungannya yang dipadati oleh kendaraan serta tempat parkir mobil. Teknik yang dipakai dalam mural ini adalah teknik posterize.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Seniman: Arya Panjalu, Wedharyadi, Uji Handoko, Tatang, Iyok, Janu, Iwan Effendi, Fatturahman Indun, Decky Leos, Hendra Priyadi, dll.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;*terima kasih buat Kedai Kebun Forum yang juga ikut men-support fotonya.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-113317966086115561?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/113317966086115561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=113317966086115561&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113317966086115561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113317966086115561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/11/hunting-2_113317966086115561.html' title='HUNTING (2)'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-113249042045796989</id><published>2005-11-20T04:37:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:41:12.485-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>HUNTING (1)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/jalan-jalan.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/jalan-jalan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hari pertama Idul Fitri itu, jalan terasa lengang bahkan sangat lengang. Jogjakarta seperti kota mati. Jalanan yang biasanya sangat padat dan udara yang berpolusi-polusi pada hari itu sangat kondusif bagi kesehatan. Hanya satu dua kendaraan yang melintas di jalanan. Sesuai rencana saya mengajak istri bahkan suasana yang lengang tersebut mendukung saya untuk juga mengajak anak saya yang masih 8 bulan untuk melatih indra penglihatannya sekaligus mengapresiasi karya seni. Meski dia selama perjalanan selalu tertidur, tapi tidak apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, kami melintasi jalan Mataram untuk melihat karya mural yang terpajang di sepanjang jalan, khususnya kami melihat secara detil mural di Jl. Perwakilan atau belakang Jl. Malioboro dan belakang Hotel Ibis. Tembok yang dulunya juga di mural oleh Apotik Komik dkk di tahun 2002 saat ini telah berganti penampilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2002 Apotik komik, sebuah komunitas yang terkenal di Jogja bahkan sekarang sangat popular di telinga perupa di Indonesia maupun di luar negeri menyelenggarakan proyek massal yang bernama “Proyek Mural Kota Sama-Sama”. Samuel Indratma, Ari Dyanto, Bambang Toko, Popok Tri Wahyudi, dll mengorganisasi acara yang juga melibatkan mural artist dari Jepang dan Amerika Serikat tersebut dengan sukses. Titik-titik kota yang  dimural adalah sasaran yang menurut mereka berupa ‘lahan mati’ bagi sebuah tata kota. Fly over, tembok public yang tak terawat dan lahan lain direspon oleh seniman-seniman public bahkan sekarang berkembang justru masyarakat Jogja begitu aktifnya menghiasi wilayah mereka sendiri-sendiri. Pergerakan seni public yang sangat massif ini pun berlanjut di tahun 2005 ini melalui proyek “Re:Publik Art Project” yang diorganisasi oleh Kedai Kebun Forum.**&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-113249042045796989?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/113249042045796989/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=113249042045796989&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113249042045796989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113249042045796989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/11/hunting-1.html' title='HUNTING (1)'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-113196131459957393</id><published>2005-11-14T01:30:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T06:42:26.225-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>RINDU...</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;2 minggu sudah blog ini terabaikan...rasanya lama banget. Liburan kemarin mungkin 'biru' buatku, tapi dibalik warna biru selalu ada warna cerah...selalu ada pencerahan mengenai makna hidup dan juga pencerahan visual.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;entah kapan, saya ingin menuliskan perburuan saya di Jogja dalam memburu aktivitas penyuka keindahan area publik yang terekam dalam Re-Public Art Project bulan September 2005. ..meski perburuan ini tersendat-sendat karena istri dan anak saya sakit berat sehingga tidak bisa ditinggalkan, tapi bersyukur banget selalu ada waktu buat mereka yang tulus. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Termasuk usaha saya mengundang 'rohnya' seni publik, pelopor seni mural di Indonesia, mas Samuel Indratma memberikan kuliah tamu di UK Petra Surabaya. Sempat pesimis mengundangnya karena kesibukan beliau yang luar biasa, tapi sekali lagi bersyukur akhirnya bisa juga saya mengundangnya bahkan dengan senang hati akan memberikan ilmunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;Surabaya akan seperti Jogja?...oh tentu tidak!...Surabaya harus menemukan karakternya sendiri...dan inilah yang akan dibedah oleh sang pelopor dan saya menyebutnya sekali lagi SANG GERILYAWAN!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;sekarang saya lagi berkonsentrasi dalam Baliho Competition dan mempersiapkan segala sesuatunya. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-113196131459957393?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/113196131459957393/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=113196131459957393&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113196131459957393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113196131459957393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/11/rindu.html' title='RINDU...'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-113057384609266298</id><published>2005-10-29T01:01:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:43:47.882-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/SELAMAT.jpg"&gt;&lt;img style="CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/SELAMAT.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-113057384609266298?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/113057384609266298/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=113057384609266298&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113057384609266298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113057384609266298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/10/blog-post.html' title=''/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-113057023139178847</id><published>2005-10-29T00:12:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:44:48.754-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'>MUDIK: KEMBALI KE NOSTALGIA KELUARGA</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Lupakan dulu efek mudik, ketika jalanan di kota besar nampak hilir mudik orang berjejalan menunggu bis kota menuju terminal. Lupakan dulu lebih baik nggak mudik daripada berjejalan di stasiun-stasiun, teminal-terminal bahkan jauh-jauh hari tiket berbagai macam kendaraan sudah habis terbeli. Lupakan dulu perkataan '...&lt;em&gt;toh&lt;/em&gt; pulang kampung nggak harus pada Hari Raya saja'.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kita lihat pada hari-hari terakhir menjelang Hari Raya Idul Fitri adalah kebiasaan manusia untuk kembali lagi berkumpul dengan keluarga ketika Hari Raya keagamaan maupun masa liburan panjang tiba. Tidak hanya di Indonesia saja, namun juga menimpa negara-negara lain dengan mungkin content dan context yang berbeda.  Jadi bila perilaku yang katanya ‘mudik’ itu hanya menghambur-hamburkan uang adalah pendapat yang salah. Yang dicari oleh mereka yang mudik bukan saja mereka pulang kampung, tetapi juga menikmati kemeriahan hari raya tidak hanya dengan diri sendiri maupun teman terdekat atau bagi mereka yang sudah berkeluarga tidak hanya dengan suami atau istri tetapi melibatkan keluarga (baca: masa lalu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan-kenangan masa lalu adalah kenangan yang susah terbeli. Tidak ada yang bisa menggantikan tatkala melihat dulu jalanan belum di aspal tetapi sekarang sudah enak jalannya. Belum lagi bertemu teman lama teman satu kampung yang sekarang sudah berubah bahkan mungkin sudah menggendong anak serta berderet-deret daftar perubahan yang nampak di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepandai-pandainya mereka sekarang, sekaya-kayanya mereka sekarang toh kembalinya juga ke keluarga lagi. Bahkan mereka yang menggelandang di jalanan pun begitu rindunya kembali ke keluarga dengan masa lalu yang begitu dekatnya. Kenangan manis maupun pahit, baik maupun buruk sebuah keluarga namun ketika waktu yang pas sudah tiba, maka ujung perhentian melepas kebosanan bahkan melepas kepenatan hidup adalah keluarga. Apapun keberadaan mereka ketika dulu mendidik, namun keluarga adalah ujung perhentian. Tidak ada benar atau salah ketika waktu dekat dengan keluarga tiba. &lt;em&gt;Toh &lt;/em&gt;siapa tahu ke depannya kita sendiri yang jatuh. Siapapun bisa bersalah, begitu juga dengan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat mudik!...selamat berliburan bersama keluarga!...selamat menikmati kenangan yang susah terbeli itu….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-113057023139178847?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/113057023139178847/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=113057023139178847&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113057023139178847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/113057023139178847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/10/mudik-kembali-ke-nostalgia-keluarga.html' title='MUDIK: KEMBALI KE NOSTALGIA KELUARGA'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112971066906810010</id><published>2005-10-19T01:26:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:44:48.755-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'>SPRING BED = ROTI GORENG!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Permainan kata mungkin sudah sering kita temui dimana-mana. Mulai dari yang alami hingga sudah menjadi komoditi seperti halnya kaus JOGER dan DAGADU. Bahkan komoditi begituan langsung membanjiri pasar kaus hingga melahirkan kaus dengan permainan kata dari yang serius hingga bersifat guyonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi malam, sewaktu cangkrukan di warung Cak Mis dengan Victor, Gubi, Goya dan Pak Budi Pras kami menemui permainan kata yang sudah nyerempet-nyerempet wilayah tanda (baca: semiotika). Warung yang dari SMA Santa Maria terus belok ke kiri itu menarik untuk diamati meski saya sendiri sering ketawa soalnya lucu. Bagi saya, hal ini baru dan mengingatkan saya dengan Es Enny di Jogja yang memiliki menu dengan nama yang lucu-lucu. Ada es cinderella, es dua hati, es padang pasir, es bumi hangus, dll. Yang membedakan adalah kelasnya. Mungkin bagi Es Enny untuk kalangan menengah ke atas tersebut lumrah memakai nama-nama yang ‘absurd’. Namun bagi warungnya Cak Mis tersebut permainan tanda dalam kata yang juga masuk ke wilayah semantik, menunjukkan bahwa yang absurd pun bisa menjadi hiburan tersendiri buat kelas bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unik dan lucu. Bayangkan untuk menyebut sate telur puyuh saja disebut sebagai cucak rowo, kemudian untuk minuman sinom disebut &lt;em&gt;mbok nom&lt;/em&gt;, roti goreng dikatakan sebagai &lt;em&gt;spring bed&lt;/em&gt; dan bagi mereka yang ingin minta air buat ‘&lt;em&gt;kobokan’&lt;/em&gt; atau mencuci tangan, maka sebutlah kolam renang untuk menunjukkan yang diminta. Masih banyak sebenarnya perbendaharaan kata lainnya yang sangat ‘plesetan’ yang akhirnya bagi saya sangat absurd itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan kata tersebut semakin menguatkan kepemilikan secara universal kata-kata yang secara tidak langsung menjadi ‘hak milik’ kelas tertentu. Kesan berpikir, agak mbulet dan kesan intelek menjadi imej yang seolah-olah menunjuk pada kelas atas. Tapi Cak Mis tidak punya kesan seperti itu, semua diungkapkannya dengan lugas, tanpa perasaan bersalah tapi mengemasnya dengan lucu khas permainan kata miliknya Joger atau Dagadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sayang, untuk melihat fenomena seperti itu saya harus membayarnya dengan tilang dari Polisi. Aduh pak…baru kemarin rasanya saya nulis Safety Riding, eh saya jadi korbannya. Tapi nggak apa-apa…Robert Wolter Monginsidi ketika bergerilya pun akhirnya tertangkap tentara Belanda dan dihukum mati&lt;em&gt;.** (obw)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112971066906810010?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112971066906810010/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112971066906810010&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112971066906810010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112971066906810010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/10/spring-bed-roti-goreng.html' title='SPRING BED = ROTI GORENG!'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112859197752708591</id><published>2005-10-06T02:37:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:46:25.310-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Art and Design'/><title type='text'>MEDIA CETAK, WASSALAM!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Berikut ini ada artikel yang saya download dari majalah GATRA pandang tentang media cetak seperti koran dan majalah. Masih perlu dipertanyakan lagi pernyataan Murdock mengenai masa depan suram media cetak. Apakah benar?...sepanjang masyarakat masih menyukai hal yang simpel dan dinamis, aku pikir pendapatnya Murdock mutlak harus dipertanyakan lagi. Apalagi ini pernyataan buat kalangan di Amerika Serikat sana yang secara sosio-kultural berbeda dengan negara-negara di Asia, terutama di Indonesia.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;RUPERT Murdock skeptis melihat masa depan koran. "Saya yakin, banyak  editor dan reporter yang sudah kehilangan relasi dengan pembacanya," kata Rupert Murdock. Berbicara di hadapan Asosiasi Editor Surat Kabar  Amerika pada April lalu, dengan percaya diri Murdock meramalkan bahwa kematian koran dan media cetak lain tinggal menunggu waktu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Media cetak akan bernasib seperti dinosaurus. Punah oleh evolusi.  Wassalam. Sebabnya, perusahaan yang memasang iklan di media cetak  akan mengalihkan strategi mereka ke media elektronik dan internet.  Pada akhirnya, media elektronik juga harus bersaing dengan internet. Terutama dengan produk seperti blog dan news portal. "Sekarang perusahaan media, termasuk perusahaan saya, harus lebih paham soal internet," katanya.Ramalan era kematian koran sebenarnya bukan hal baru. Para peneliti media pun sebelumnya mengatakan hal serupa. Bedanya, kini yang mengucapkan kalimat itu tidak lagi seorang peneliti, melainkan Murdock, sang raja media. Ramalan itu beralasan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Berdasarkan data tahun 1995-2003 dari Asosiasi Surat Kabar Dunia,  oplah koran terus menurun: antara lain turun 5% di Amerika, 3% di Eropa, dan 2% di Jepang. Bila pada 1960-an empat dari lima orang Amerika membaca koran, di tahun 2005 perbandingannya menjadi dua dari lima orang. Yang tiga lagi sudah masuk dunia elektronik atau digital.Tapi, meski peluang media elektronik untuk bersaing dengan internet masih cukup besar, Murdock tidak ingin terlambat. Ia terbiasa bertindak  cepat. Itulah filosofi bisnisnya, mungkin juga hidupnya.  "Tidak ada istilah yang besar mengalahkan yang kecil. Yang benar adalah yang cepat mengalahkan yang lambat, "ujarnya. Karena itu, bisa dipahami mengapa Murdock bergerak cepat. Semacam  upaya "restrukturisasi" antara sayap TV dan sayap internet pun  dilakukan. Bila TV memproduksi klip video atau berita, maka selain di jaringan TV itu sendiri, tayangan itu bisa diputar di media online. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Integrasi yang manis antara jaringan TV yang dimiliki Murdock -  dengan jaringan online-nya yang baru berkembang - bisa terwujud.Meski bagi media cetak ramalam semacam itu relatif menakutkan, jelas keliru bila menyangkalnya. Memang benar tak semua media online dibaca - seperti halnya tidak semua koran dibaca. Tapi media online bisa berperan penting, bisa jadi lebih penting dari media tradisional seperti koran dan majalah. Buktinya adalah peran blog dalam pemilihan presiden Amerika Serikat terakhir lalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Matthew Hindman, professor politik dari Universitas Arizona, mengatakan bahwa blog-blog top selalu lebih dikunjungi dibandingkan dengan halaman opini di koran. Karena itu, jelas salah bila menganggap blog bersifat netral terhadap media cetak. Media online cenderung mengancam eksistensi media cetak. Seringkali sebuah blog membantah, atau bahkan membuktikan, bahwa media cetak keliru memberitakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Juga salah menganggap para blogger tidak bisa melakukan reportase layaknya media cetak. Contohnya adalah OhmyNews di Korea Selatan, yang menganut konsep "setiap warga adalah reporter". Dalam waktu lima tahun, OhmyNews punya 2 juta pembaca dan memiliki sekitar 3.000 reporter. Para reporter-warga itu adalah sukarelawan yang memasukkan berita yang diedit dan dicek faktanya oleh 50 staf permanen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Jadi, sampai kapan media cetak bertahan? Menurut buku Saving The Vanishing Newspaper: Journalism in The Information Age karangan Philip Meyer, bila trend digital semacam ini terus berlanjut, diperkirakan tahun 2040 masih ada sisa-sisa pembaca koran. Lewat tahun itu, semua goes digital. ***(Basfin Siregar)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Majalah GATRA edisi 8 Oktober 2005 halaman 73&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112859197752708591?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112859197752708591/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112859197752708591&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112859197752708591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112859197752708591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/10/media-cetak-wassalam.html' title='MEDIA CETAK, WASSALAM!'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112781612609126596</id><published>2005-09-27T03:06:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:44:48.755-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'>REFLEKSI NILAI PENDIDIKAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Kampus ini tidak luas. Bangunan yang satu dengan yang lain jaraknya berdekatan.Di tengah kampus ada gedung multi fungsi yang diberi nama Sasana Ajiyasa. Disebelahnya ada kantin yang mudah dicapai dari segenap penjuru kampus. Kedekatanjarak dan penempatan fasilitas publik di tengah kampus memungkinkan segenap civitas akademika saling mengenal satu sama lain, atau setidaknya punyakesempatan bertegur sapa. Di belakang Sasana Ajiyasa ada perpustakaan, dan diantara kedua bangunan itu ada pohon beringin besar yang belakangan dikenal sebagai ruang kuliah alternatif bagi beberapa mahasiswa yang gelisah mencarijati dirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;TAHUN PERTAMA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Tahun 1980. Hari masih pagi ketika seorang mahasiswa baru memasuki halamankampus. Namanya Yus Brahim asal Aceh, jurusan seni lukis. Dia tengokkanan-kiri, masih lengang. Belum ada mahasiswa satupun. Yang ada hanyalahtukang sapu yang sedang membersihkan halaman depan.“ Kok masih sepi pak ?, “ dia bertanya pada tukang sapu tadi. Seharusnya para mahasiswa sudah ada yang datang untuk mengikuti kuliah jam pertama.“ Ooo… kamu datang kepagian. Nanti jam 9 baru rame,” jawab tukang sapu.Semangatnya yang menyala sebagai mahasiswa baru dan berasal dari pulau seberangmulai terusik. Sewaktu masih di Aceh dia bersekolah di sebuah SMA yang memilikireputasi baik dan sangat disiplin. Jam 7 ketika para pelajar sudah masukmengikuti mata pelajaran pertama, pintu pagar dikunci. Sekarang dia menjumpaikenyataaan yang sangat berbeda dengan tempat sekolahnya dulu. Lantas diaberpikir :” Ini sekolah apa bukan.”Ini adalah kesan pertamanya terhadap kampus tercinta STSRI ASRI jalan Gampingan Yogyakarta yang di kemudian hari berubah menjadi Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;KOMUNITAS POHON BERINGIN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Lama-lama Yus terbiasa dengan situasi seperti itu. Ciri khas sekolah senimanbarangkali memang begitu: Santai. Kehidupan santai dan jam kuliah yang bisamolor tidak membuatnya kecewa, bahkan kemudian dia sangat menikmatinya. Diabanyak mendapatkan pelajaran mengenai kehidupan berkesenian justru dari pergaulan dengan teman-teman kuliah dan kakak-kakak angkatan di atasnya. Dikalangan mahasiswa terdapat banyak kelompok berkesenian di sampingorganisasi-organisasi kemahasiswaan. Kelompok-kelompok ini biasanya dibentukoleh beberapa mahasiswa yang punya minat dan visi yang sama dalam berkesenian.Ada lagi kelompok yang dibentuk sebagai wadah untuk belajar berwirausaha. Yusbelum masuk kelompok manapun, namun sebagai mahasiswa baru ia ingin punya eksistensi. Ada sebuah kelompok mahasiswa senior yang tiap hari kerjanyanongkrong dan ngobrol di bawah pohon beringin. Kelompok ini cukup diseganikarena tokoh-tokohnya mempunyai daya pikat, sering berpameran dan mampu menarikbanyak mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang mereka ciptakan.Salah seorang di antaranya bahkan merupakan orang yang dijadikan panutan oleh masyarakat kampung Tamansari karena mampu menumbuhkan kemampuan berwirausaha dikalangan masyarakat tersebut. Yus menyempatkan diri untuk datang ke sana setiaphari mendengarkan apa yang mereka percakapkan. Banyak percakapan berbobot yangdia serap dan tidak didapatkan di kelas. Di samping segi-segi positif yangmelekat pada kelompok ini, ada kebiasaan ganjil yang mereka lakukan setiapnongkrong di bawah beringin, yaitu minum KTI (minuman berkadar alkohol tinggi yang biasa dikonsumsi masyarakat kelas bawah). Dalam keadaan antara sadar dantiada, kata-kata berbobot mengalir lancar seperti air. Yus ikut hanyut dalamkebiasaan ini. Tiada hari tanpa minum KTI. Dari sinilah muncul istilah airkata-kata untuk menyebut minuman beralkohol. Tiap hari Yus datang ke bawah pohon beringin. Lama-kelamaan dia sering mangkir kuliah sebab pohon beringin telah menjadi ruang kuliahnya yang sebenarnya, tempat ia menimba ilmu kehidupan; sampai-sampai seluruh mata kuliah di semester tertentu nilainya G(sekarang E) semua. Walau demikian ancaman drop-out tidak pernah dialami.Komunitas pohon beringin memberinya rasa aman dan menjaga agar senantiasa bebasdari luka hati dan rasa takut sehingga ia mampu mengekspresikan diri sepenuhnya.Ini bekal yang berharga untuk tegar dan berani menghadapi tantangan hidup.Sebenarnya inilah tanggung jawab setiap guru atau dosen disekolah. Diamenciptakan sebuah lagu untuk sebuah malam kesenian yang kata-katanya menjaditerkenal karena surealis sekali : Rumput-rumput di langit (Mana ada rumput dilangit). Sekali lagi dia mempertanyakan ketika kesadaran tengah singgah dalamdirinya :” Ini sekolah apa bukan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;MENJADI ANGGOTA MENWA&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Pada suatu pagi Yus nongkrong di kantin. Seorang kawan yang kebetulan anggotaResimen Mahasiswa (Menwa) datang menghampiri dan menawarkan agar mau bergabung menjadi anggota Menwa. Yus tidak tertarik dengan hal-hal yang berbau militerapalagi citra Menwa sering dikaitkan dengan kaki tangan tentara. Dia tidak menanggapi ajakan itu namun sang kawan terus menerus membujuk karena diadibebani target dari atasannya agar bisa merekrut 12 orang anggota baru.Berbagai taktik dilakukan. Yus diajak minum-minum. Ketika Yus dalam keadaansetengah sadar si kawan menyodorkan formulir untuk diisi. Yus menolak, tetapisi kawan memaksa. “Kau tidak perlu mengisi, tapi berilah tanda tangan diformulir ini”, katanya. Yus menandatangani tanpa pikir panjang agar si kawantersebut segera pergi dari hadapannya. Beberapa hari kemudian si kawan datang lagi, kali ini menyodorkan seragam Menwa.“ Ini seragam yang harus kau pakai. Besok kau harus ikut pelatihan,” katanya.Yus terkejut dan menolak karena ia tidak merasa pernah mendaftarkan diri untukmenjadi anggota Menwa. “Tapi kau sudah tandatangan di formulir, kalau menolak akan dianggap sebagai pembangkang dan bisa masuk penjara,” kata si kawanmenakut-nakuti. Terbayang di benaknya dia akan diinterogasi dan disiksa sepertipesakitan. Akhirnya Yus dengan berat hati ikut pelatihan dan resmi menjadianggota Menwa. Ternyata di organisasi ini dia mendapat banyak pelajaranberharga tentang hidup berorganisasi, belajar melayani dan memperhatikan kepentingan orang lain, pelajaran yang kelak berguna ketika dia menghadapi tantangan hidup yang sebenarnya. Ia tidak menyesal dijerumuskan menjadi anggota Menwa. Barangkali baru di perguruan tinggi ini untuk menjadi Menwa seseorangharus dibuat mabuk dulu. Ini sekolah apa bukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;UJIAN TEORI&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Ujian akhir semester sudah tiba. Di Sasana Ajiyasa sedang ada ujian salah satumata kuliah teori. Ada seorang mahasiswa belum hadir. Ketika kertas-kertasjawaban dikumpulkan, barulah mahasiswa tersebut datang. Ibu dosen pengawasujian langsung memarahinya. Setelah puas memarahi bu dosen ternyata berbaikhati. Si mahasiswa diberi lembar soal dan disuruh menulis jawabannya. Setelahditunggu beberapa lama, si mahasiswa mengumpulkan lembar jawaban. Bu dosenterkejut karena lembar jawaban itu masih dalam keadaan kosong. Bu dosen marahlagi.“ Kamu tahu nggak jawaban soal nomor satu ?,” tanya bu dosen.“ Tidak,” jawab mahasiswa.“Jawabannya ini. Tulis !,” perintah bu dosen. Demikian seterusnya sampai seluruhjawaban tertulis. Dosen ini baik hati sekali. Dalam hati Yus kembali bertanya:“Ini sekolah apa bukan.”KIJANG PUTIH.Suatu hari kampus gempar. Salah seorang asisten ketua (Asket) STSRI. ASRIkehilangan mobil dinasnya ketika sedang diparkir di Malioboro. Merek mobil ituToyota kijang, berwarna putih dan masih baru. Berhari-hari kejadian itu menjadibahan pembicaraan di kampus. Sang asisten ketua sangat terpukul oleh kejadian itu. Banyak pihak menyalahkan beliau, terutama yang merasa iri atas fasilitas kampus yang diterimanya sebagai asisten ketua. Semua orang pasang telingakalau-kalau terdengar berita mengenai mobil kijang itu. Selang beberapa harikemudian ada seorang mahasiswa jurusan seni lukis melapor , bahwa ia telahmenemukan mobil tersebut dan menyimpannya di rumah kostnya. Si asisten ketuagirang bukan main dan mengabarkan berita itu kepada rekan-rekan sejawatnya.Dengan diantar oleh si mahasiswa pelapor, beliau bergegas mendatangi rumah kosttersebut diiringi beberapa stafnya , termasuk seorang dosen fotografi yang akanmeliput peristiwa menggembirakan ini. Akhirnya sampailah mereka disebuah gangsempit yang hanya cukup untuk pejalan kaki dan sepeda motor.“ Mana tempat kostmu ?, “ tanya si asisten ketua.“ Di ujung gang ini, “ jawab mahasiswa. Si asisten ketua keheranan.“ Bagaimana kamu membawa mobil itu ke pondokanmu?.”“ Dimasukkan lewat atas,” jawab si mahasiswa serius. Jawaban ini tidak masukakal, tetapi karena keinginan untuk mendapatkan mobil itu kembali sangat besar,akal sehat sudah tidak jalan. Merekapun berbondong-bondong menuju rumah kostlewat gang sempit tadi. Sesampainya di rumah kost tidak terlihat ada mobilkijang di halaman rumah itu.“ Di mana mobilnya, “ tanya asisten ketua tidak sabar.“ Sabar pak. Saya bukakan pintu rumah dulu.” Lagi-lagi ini tidak masuk akal.Lebar pintu rumah berdaun tunggal biasanya 90 sentimeter, bagaimana mungkinmobil bisa masuk. Tapi akal sehat memang sudah tidak jalan. Pintu rumah dibuka,semua orang melongok ke dalam. Di dalam rumah tampaklah sebuah lukisan besardengan objek mobil kijang putih yang baru saja diselesaikan oleh si mahasiswa.Dasar pesong (gila) !. Kejadian ini menunjukkan bahwa bukan hanya si mahasiswayang pesong, asisten ketua dan stafnya juga ikut pesong. Bagi si mahasiswamungkin ini merupakan peristiwa teaterikal, sebuah karya happening art, tetapibagi asisten ketua ini adalah kepesongan. Ini sekolah apa bukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;LOGIKA&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Mahasiswa ASRI banyak yang dianggap gila, tetapi sebetulnya mereka kritis.Mereka dengan ringan bisa membolak-balikkan logika. Pada suatu hari paramahasiswa mengikuti mata kuliah logika. Dosennya adalah pengajar TPLB (TenagaPengajar Luar Biasa) dari Universitas Gajahmada. Si Dosen menerangkan bahwamahluk yang paling sempurna di dunia adalah manusia. Dadang Kristanto,mahasiswa dari jurusan seni lukis yang sekarang menjadi dosen di Australiamenyanggah: “ Salah pak !.”“ Lalu yang benar apa ?,” tanya si dosen.“ Yang benar itik. Manusia begitu lahir tidak bisa berenang. Sebaliknya itikbegitu lahir langsung bisa berenang tanpa diajari.” Seluruh mahasiswa tertawasedangkan si dosen terpana oleh jawaban yang tak terduga. Ini sekolah apabukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;KONSULTASI&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Masa kuliah yang dijalani Yus panjang dan berlarut-larut akibat dari carabelajarnya yang santai. Dia sangat betah dengan kehidupan di kampus ini, olehsebab itu ia tidak ingin segera lulus. Hal itu ternyata juga dialami olehbeberapa mahasiswa ISI masa kini, sampai-sampai mereka membuat produk T shirt yang bertuliskan HINDARI WISUDA DINI. Seiring dengan berjalannya waktu akhirnya sampailah Yus pada tahapan di mana dia harus menulis skripsi. Dosen pembimbingnya adalah seorang yang dekat dengan mahasiswa dan punya hobby minumjuga. Beliau menyimpan beberapa botol minuman keras di rumahnya, namunisterinya hanya mengijinkannya minum jika sedang menjamu tamu. Setiap Yus minta untuk berkonsultasi, si dosen menyarankan untuk konsultasi di rumah saja. Pada suatu sore Yus datang ke rumah si dosen untuk berkonsultasi. Sambil berkonsultasi si dosen mengajaknya minum minuman keras. “ Kemarin teman sayadatang membawa oleh-oleh ini. Jadi mari kita nikmati bersama”, kata si dosenmembuka upacara minum-minum itu. Akibatnya pembicaraan berkembang melantur kesana –kemari tanpa ujung pangkal. Yus pulang dengan perasaan puas tapi hasil konsultasinya nihil. Beberapa hari kemudian Yus datang lagi ke rumah dosenuntuk berkonsultasi. Si dosen kembali mengajaknya minum-minum dengan diawalioleh kalimat pembuka yang sama : “Kemarin teman saya datang membawa oleh-olehini. Jadi mari kita nikmati bersama.” Perkembangan skripsi Yus seolah berjalandi tempat karena setiap konsultasi tidak banyak membawa hasil, tetapi hubungan antara dosen dan mahasiswa menjadi cair. Si dosen telah menanggalkan otoritasnya. Otoritas pada dasarnya pengingkaran kebebasan dan menekankemampuan berinisiatif. Sekarang tergantung bagaimana mahasiswa memanfaatkannya. Sekali lagi Yus bertanya dalam hati:” Ini sekolah apa bukan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;SAPUKALA&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Ada seorang mahasiswa jurusan seni grafik bernama Sapukala. Berkacamata tebal sehingga kesan pertama bagi orang yang menjumpainya, ia adalah kutu buku. Iamerupakan salah satu dari mahasiswa yang berperilaku eksentrik selain Yus. Iatidak pernah pulang ke rumah kostnya, melainkan selalu tidur di kampus. Didekat perpustakaan ada bangkai mobil pick up. Di bak mobil itulah ia palingsering tidur. Kadang-kadang ia juga tidur di loteng yang terletak di ataskelas. Pokoknya di mana ada tempat yang aman dan hangat, disitulah ia tidur.Semua orang termasuk para dosen dan karyawan tahu akan hal itu, tetapimembiarkannya terjadi karena ia tak pernah meninggalkan jejak di mana ia tidur.Pada suatu pagi ketika kuliah sedang berlangsung tiba-tiba terdengar suara diatas kelas, lalu lubang plafond perlahan-lahan terbuka. Dosen menghentikan kuliahnya, para mahasiswa mendongak ke atas menyaksikan apa yang terjadi.Sebuah kaki menjulur keluar dari lubang plafond. Dosen dan para mahasiswapeserta kuliah terdiam. Kaki yang lain menyusul perlahan-lahan sampai akhirnyaseluruh tubuh muncul dari lubang plafond. Ternyata dia adalah Sapukala yangbaru bangun dari tidur !. Tepuk tangan segera menyambut kehadiran Sapukala dikelas lewat lubang plafond. Ini sekolah apa bukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;UJIAN SKRIPSI&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Sekolah bukan sekedar tempat untuk belajar tentang pengetahuan yang diperlukan dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, tetapi juga tentang seni hidup dengansegala kompleksitas dan kepelikannya. Itulah yang dirasakan Yus dalam kehidupankampus yang sepintas terkesan amburadul ini. Kehidupan kampus ini memiliki barayang mencairkan segenap sekat-sekat perbedaan, sehingga Yus merasa bahwa inilahrumah keduanya. Oleh karena itu ia tidak ingin segera lulus. Lama kelamaan iatermasuk salah seorang yang kedaluwarsa masa studinya. Berbagai upaya dilakukanpara dosen agar para mahasiswa ini dapat meyelesaikan studinya secara baik-baik,bukan karena didrop-out. Ada dosen prihatin dengan mahasiswa bimbingannya sebabtidak pernah datang untuk konsultasi. Beliau dengan susah payah mencari tempatkost mahasiswa itu, masuk keluar gang sambil menuntun sepeda motor. Mahasiswayang dicari si dosen malah sedang santai bermain layang-layang. Ada lagi dosenyang mau menuliskan jalan pikiran si mahasiswa karena yang bersangkutan sulitmenuangkannya dalam bentuk tulisan. Para dosen ini telah bekerja melebihitanggungjawabnya.Waktu terus berjalan, akhirnya Yus Brahim berhasil menyelesaikan penulisanskripsinya. Yus berpikir, setelah ujian dan diwisuda, mau tidak mau ia harusmeninggalkan kampus. Ia masih kerasan, belum rela untuk pergi. Oleh karena itupada hari jadwal ujiannya, ia pura-pura ketiduran supaya ujiannya bisa ditundasampai semester depan. Jam menunjukkan pukul 10.00. Jadwal ujiannya jam 9.00.Yus kegirangan karena sudah terlambat untuk ujian skripsi. Ternyata kemudiandatang petugas menjemputnya dan mengatakan bahwa ia harus ujian sekarang juga.Terpaksa ia berangkat ke kampus.Para dosen penguji mengajukan pertanyaan-pertanyaan, namun Yus diam seribubahasa,karena memang ia tidak belajar sama sekali untuk mempersiapkan ujian.Akhirnya salah seorang dosen membisikkan jawabannya sementara dosen-dosen yanglain pura-pura tidak tahu. Yus dinyatakan lulus. Dia lagi-lagi bergumam :”Inisekolah apa bukan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;REUNI&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Tahun 2004, Yus jauh-jauh dari Aceh datang ke Yogya untuk reuni. Kini ia adalahkandidat anggota DPRD yang sebentar lagi dilantik. ISI sudah pindah ke Sewon,Bantul. Kampus Gampingan porak-poranda dijarah oleh orang-orang tidakbertanggungjawab. Halamannya dipenuhi ilalang setinggi dada. Coretan dantulisan-tulisan bernada marah memenuhi dinding. Para alumni, dosen danmahasiswa menyempatkan diri untuk menengok bekas kampus ini. Di bawah pohonberingin yang menyimpan sejuta kenangan Yus meraih gitar dan menyanyikan lagurumput-rumput di langit. Setelah itu kepada para mahasiswa, dosen dan alumniyang mengitarinya Yus mendongeng tentang masa lalunya di kampus ini diakhiridengan renungan :“ Kalau dibandingkan dengan kampus lain, ini sekolah apa bukan ya. Kampus iniunik tidak ada duanya di Indonesia bahkan di dunia. Kampus yang mengajarkanilmu kehidupan. Kampus yang punya hati, yang peduli terhadap nasib mahasiswayang dianggap sebagai orang buangan. Agaknya inilah sekolah yang sebenarnya,bukan sekedar pabrik yang menghasilkan orang-orang pintar tapi tak punya hati.Kampus yang tidak membuat luka hati anak didiknya akan selalu dikenang danmempunyai maknit yang menarik lulusannya untuk sesekali berkunjung kealmamaternya”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;( Hendro Purwoko)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Bahan bacaan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Krishnamurti J. 1981. Letters to The Schools. Diterjemahkan oleh Yayasan Krishnamurti Indonesia. London. Krishnamurti Foundation Trust Ltd .&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112781612609126596?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112781612609126596/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112781612609126596&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112781612609126596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112781612609126596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/refleksi-nilai-pendidikan.html' title='REFLEKSI NILAI PENDIDIKAN'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112781547972993341</id><published>2005-09-27T02:58:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:46:25.311-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Art and Design'/><title type='text'>INOVASI MEDIA RUANG LUAR DALAM URBAN DESAIN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Mohammad Danisworo &lt;em&gt;(Laboratorium Pusat Studi Urban Desain, Departemen Arsitektur, Institut Teknologi Bandung)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PETER Drucker (1992) menyatakan pada awal tahun 1990-an bahwa basis utama faktor produksi pada tatanan Ekonomi Lama yaitu lahan, tenaga kerja, dan modal akan diambil alih oleh faktor baru yaitu informasi, pengetahuan, dan teknologi.&lt;br /&gt;PADA saat ini, proses transformasi sedang berlangsung dengan pasti dari tatanan Ekonomi Lama ke tatanan Ekonomi Baru, dari penekanan pada kegiatan memproses sumber daya produksi yang bersifat fisik kepada penekanan kegiatan memproses sumber daya yang berbasis pada informasi dan pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi pasar yang semakin hiperkompetitif, persaingan pasar berlangsung dengan memanfaatkan pengetahuan, informasi, dan teknologi sebagai basis operasi. Oleh karena itu, kelangsungan dari keunggulan kompetitif (competitive advantage) suatu usaha akan sangat tergantung kepada kapasitas inovatif yang dimiliki usaha tersebut.&lt;br /&gt;Peluang yang diberikan oleh tatanan Ekonomi Baru ini telah dimanfaatkan para pelaku bisnis yang secara jeli melihat potensi ruang kota sebagai media logis untuk menyampaiakan pesan-pesannya kepada masyarakat luas. Mereka juga melihat dengan memadukan secara sistematis serta inovatif materi informasi yang ingin disampaikan ke dalam lanskap kota, mereka akan dapat secara mudah menjaring jumlah peminat yang cukup besar atas produk-produk yang mereka peragakan dengan harapan pada akhirnya di antara para peminat tersebut, dalam jumlah cukup signifikan, akan mengambil keputusan untuk membeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ruang kota dan maknanya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ruang kota memang dapat dikiaskan sebagai sebuah buku atau majalah berukuran raksasa, di mana segmen-segmen ruang kota dapat disamakan dengan lembar-lembar halaman.&lt;br /&gt;Setiap segmen kota yang kita lalui menyuguhkan informasi kepada kita dan setelah melalui beberapa bagian ruang kota, maka kita mendapatkan serentetan informasi yang berbeda-beda, ada yang menarik dan ada yang membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dari buku atau majalah di mana untuk membaca isinya kita harus membuka halaman demi halamannya, maka pada ruang kota halaman-halaman itu terbuka dengan sendirinya bagi kita dan menyodorkan isinya langsung ke hadapan kita pada saat kita melaluinya. Pada akhir perjalanan, maka kita mendapatkan banyak pelajaran dan pengetahuan tentang isi ruang kota.&lt;br /&gt;Dengan pengertian tentang potensi yang dimiliki ruang kota ini, maka tidaklah mengherankan bila komunitas media, yaitu perusahaan media, agen periklanan dan produsen, berangsur-angsur menjadi semakin sensitif terhadap kapasitas yang dimiliki oleh ruang kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berlomba dengan berbagai cara untuk mendapatkan lokasi strategis di dalam kota bagi penempatan titik-titik media ruang luarnya. Iklan memang merupakan alat yang tangguh bagi penyebaran informasi untuk kepentingan pemasaran. Alat ini akan menjadi semakin kuat pengaruhnya apabila ditempatkan pada sudut-sudut kota yang dapat memberi kesempatan kepada publik untuk mendapatkan akses visual yang baik ke arah sumber informasi tersebut.&lt;br /&gt;Bisnis media ruang luar memang cukup menggiurkan karena melibatkan anggaran biaya sangat besar. Dampaknya mudah diduga yaitu tumpang-tindihnya titik-titik reklame di areal strategis tetapi sempit, atau bertebarannya papan reklame secara acak dengan ukuran beragam dan cenderung semakin besar sepanjang jalan utama kota. Kenyataan ini semakin menjadi jelas pada kota-kota yang tidak memiliki instrumen yang mengatur penataan titik reklame serta penyebarannya di dalam ruang kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan papan-papan reklame tanpa penataan yang konseptual memang merupakan bumerang bagi kualitas visual kota. Di satu sisi, kehadirannya memberi akses kepada informasi bagi masyarakat luas kota serta memberi kontribusi positif bagi pendapatan asli daerah, namun pada sisi lain keberadaannya di ruang kota sering cenderung menghalangi pandangan ke arah elemen-elemen kota yang justru menarik dinikmati seperti arsitektur bangunan, unsur lanskap kota, dan sebagainya. Akibat hal tersebut adalah merosotnya kualitas visual kota karena ruang kota dilanda polusi papan reklame yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui, salah satu aspek penting yang menentukan kualitas desain urban adalah kualitas visualnya. Artinya, kota itu harus memiliki keindahan, baik yang bersifat alami maupun buatan, memiliki jati diri yang kuat, informatif dan tidak membingungkan. Kualitas visual ini dibentuk oleh komposisi urban desain dari elemen-elemen ruang kota seperti arsitektur bangunan serta konservasi bangunan tuanya, estetika taman kota dan arsitektur lanskapnya, geometri jalur jalannya, serta unsur infrastruktur pendukungnya seperti jembatan penyeberangan orang dan jembatan layang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elemen-elemen desain urban ini merupakan materi informasi yang terkandung di dalam lembar-lembar buku raksasa kota yang bercerita tentang ruang dan waktu. Alangkah menyedihkan apabila cerita indah tentang kota itu dikacaukan oleh kehadiran elemen media ruang luar yang berantakan, tidak saja bidang bidang luas reklame tersebut menghalangi pandangan ke arah elemen kota yang bagus, tetapi kaki-kakinya juga merebut ruang publik dan mendesak pejalan kaki ke badan jalan untuk bersaing ruang dengan kendaraan bermotor. Sungguh merupakan sebuah &lt;em&gt;story book&lt;/em&gt; (buku cerita) yang menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak semua sisi dari aspek visual kota itu menarik dilihat, bahkan barangkali lebih banyak lagi yang tidak sedap dipandang sehingga merupakan ganjalan di dalam mata.&lt;br /&gt;Banyak dari sisi bangunan gedung yang lebih berwujud sebagai dinding mati dan memiliki kinerja visual yang buruk untuk dipandang, akan tetapi justru menempati sudut pandangan strategis dalam ruang kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta banyak terdapat kerangka-kerangka gedung yang terlantar akibat krisis ekonomi berkepanjangan yang tidak menentu nasibnya kapan akan diselesaikan pembangunannya. Hampir semua menempati lokasi-lokasi prima dan strategis di ruang kota, namun ungkapan yang dapat ditarik dari kehadiran elemen kota yang tidak selesai tersebut adalah cerita sedih dari luka ekonomi bangsa yang dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, haruskah kita terus bersedih. Bisakah kita mengubah masalah visual ini menjadi suatu potensi untuk menjadikan wajah kota menjadi lebih bergairah dan ceria. Ini adalah tantangan bagi para pakar desain urban, pemerintah kota, dan pelaku bisnis media ruang luar untuk menemu kenali potensi yang dikandung oleh elemen "ganjalan mata" ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Teknologi selubung pembungkus&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan yang mirip juga dialami kota-kota besar lain di dunia. Era Ekonomi Baru yang berbasis pada sistem informasi dan pengetahuan telah mendorong pencarian serta penciptaan berbagai bentuk medium yang bisa dipakai sebagai basis penyebaran informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dibantu pakar komunikasi visual, pelaku bisnis media ruang luar mulai melihat sisi buruk dan tidak produktif dari wajah kota dapat disulap menjadi komponen yang produktif dengan cara menyulamkan pesan komersial sebagai bagian integral dari elemen kota yang sudah ada.&lt;br /&gt;Mengingat besarnya elemen bangunan, maka ukuran bidang informasi yang disuguhkan pun harus berukuran super besar sehingga pengaruh yang dihasilkannya juga berdampak besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana ini juga telah menggugah kreativitas para artis grafis untuk menjadikan poster raksasa sebagai karya seni dan budaya yang sekaligus menjadikan ruang kota sebagai galeri seni raksasa.&lt;br /&gt;Penemuan teknologi cetak untuk large images (gambar besar) dengan kualitas yang menghasilkan kesan gambar yang hidup serta hasil pengembangan teknologi wrapping (selubung pembungkus) untuk bidang super besar dan luas telah menjadikan wacana tadi suatu kenyataan.&lt;br /&gt;Kelebihan cara penyajian informasi ini dibanding dengan sistem billboard yang konvensional adalah bahwa meskipun gambar yang disajikan berukuran raksasa, namun kehadirannya tidak menghalangi pandangan ke elemen-elemen ruang kota yang ada karena ia merupakan bagian integral dari elemen-elemen kota yag sudah ada yaitu gedung-gedung itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, keberadaannya juga tidak mengusik trotoar yang ada yang menyebabkan pejalan kaki harus tersingkir ke jalur mobil. Tata informasi ini bila diterapkan secara inovatif bahkan dapat memperkaya khazanah urban desain kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi nyata teknologi wraping telah dilakukan di beberapa kota dunia, antara lain di New York City, Munich, dan Sydney. Di kota New York teknologi ini disesuaikan dengan kondisi bidang bangunan yang ditutup di mana tampak antara lain dari jendela-jendela bangunan yang masih dapat berfungsi seperti adanya. Begitu juga di kota Munich, Jerman, wrapping secara penuh dilakukan pada kerangka bangunan. Sedang di Jalan Thamrin, Jakarta, teknologi wrapping belum mendapat perhatian sewajarnya, terlihat antara lain pada wacana yang memanfaatkan kerangka struktur bangunan Westin Hotel dan sosok gedung Chandra yang terlihat terlantar.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112781547972993341?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112781547972993341/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112781547972993341&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112781547972993341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112781547972993341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/inovasi-media-ruang-luar-dalam-urban.html' title='INOVASI MEDIA RUANG LUAR DALAM URBAN DESAIN'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112781476649071637</id><published>2005-09-27T02:46:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:46:25.311-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Art and Design'/><title type='text'>MENGENAL AKSI SENIMAN URBAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;oleh : Agung Puspito&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota adalah pusat peradaban manusia. Ia ditandai dengan intensitas pergaulan warganya yang tak sebatas lokal, tapi juga nasional, bahkan global. Warga kota, kaum urban itu, juga amat beragam dalam hal profesi. Ada pedagang, birokrat, pendidik, buruh, intelektual, seniman.&lt;br /&gt;Siapakah yang disebut paling akhir? Seniman urban atau perupa urban, jelas akrab bergaul dengan seni rupa urban. Ketua Jurusan Seni Murni Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Tri Aru Wiratno, SSn menjelaskan lebih jauh. “Seni rupa urban berhubungan dengan masalah budaya kota, di mana terjadi akulturasi lokal maupun internasional. ”&lt;br /&gt;Menurut Tri Aru, masalah budaya kota adalah, “bagaimana karya seni rupa berinteraksi dengan masyarakat sosial budaya kota. Jadi, perkembangan suatu masyarakat berkaitan dengan kultur masyarakat lokal dan internasional. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni rupa urban mengambil bentuk-bentuknya yang khas berupa grafiti, poster, mural, komik, bill board, bahkan pamflet-pamflet politik dan produk massal seperti T-shirt. Toh, pilihan medium amat bergantung pada perupa yang bersangkutan. Ada seniman urban yang tetap membuat lukisan cat minyak di kanvas tapi dengan tema-tema kehidupan kota. Contohnya, pelukis Melodia dari Yogyakarta dengan lukisan-lukisan kendaraannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, meski tak selalu, para perupa urban kerap menyuarakan masalah-masalah sosial atau politik. Yang jelas, seruan mereka merupakan ekspresi individual terhadap problem-problem yang dihadapi. Mereka pada umumnya merasa berhak membuat karya seni di tempat-tempat umum, karena merasa ikut memiliki tempat-tempat tersebut. Toh, kecenderungan ini tak menafikan bahwa beberapa karya terbaik perupa urban justru dipajang di galeri-galeri, bahkan di balai lelang lukisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, setiap kota punya karakteristik seni urban yang berbeda-beda. Jika hampir setiap kota di Indonesia seperti berlomba-lomba meraih predikat sebagai kota seni dan budaya, para perupanya punya pandangan tersendiri mengenai seni rupa. Seni urban di Yogyakarta digelar bebas di jalan-jalan. Salah seorang eksponennya bernama Heri Dono. Ia memanfaatkan figur-figur visual dari seni pertunjukan tradisional yang populer, wayang, sebagai sarana komunikasi di antara khalayak ramai.&lt;br /&gt;Menurut Tri Aru, kultur para seniman urban Yogya kekeluargaan dan tampak bergabung dalam komunitas-komunitas, tapi dalam berkesenian cenderung idealis dan individual. Secara institusional, “yang berperan besar tentu saja Institut Seni Indonesia (ISI), ” kata Tri menyebut perguruan tinggi seni terkenal di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun komunitas yang populer adalah Apotik Komik, kelompok seniman yang menggambari dinding-dinding kayu di pinggir jalan. Didirikan pertama kali oleh Samuel Indratama pada 1997, Apotik Komik berkembang menjadi perkumpulan penting yang menghasilkan karya-karya humor yang mengomentari kondisi sosial-politik Indonesia.&lt;br /&gt;Salah seorang anggota kelompok ini, Arie Dyanto (31 tahun), juga bergabung dengan para seniman komik underground. Ini jenis komik yang tak diterbitkan secara resmi oleh penerbit tertentu, biasanya dititipkan untuk dijual di kampus, dan tempat-tempat lain. Tapi, perupa urban yang pernah berpameran tunggal di Jerman (2001) ini juga bekerja dengan berbagai media, seperti lukisan, grafiti, cukilan kayu, mural, dan neon box.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kembalikan (kepada publik) istilah ‘ruang publik’ yang telah diselewengkan pemerintah, kelompok-kelompok radikal, dan partai-partai politik, ” Arie sempat melontarkan hal ini. Ia bicara soal dinding-dinding di jalan (ruang-ruang publik) yang selama ini hanya dipenuhi plakat-plakat milik ketiga kelompok yang dimaksud. Penulis Diana Yeh dari Inggris menyebut karya-karya Arie menjelajah masalah-masalah kontemporer masyarakat Indonesia. Karya-karya finalis Indonesia Art Awards 2001 ini juga cenderung mengeksplorasi pencarian identitas diri dalam dunia global.&lt;br /&gt;Pengkajian terhadap komik juga dilakukan secara serius di Bandung. Dipelopori institusi paling top di sini, Institut Teknologi Bandung (ITB), pengkajian mencoba menemukan identitas visual komik Indonesia dan strategi pengembangan industrinya di tengah maraknya gaya visual komik Jepang. Harap maklum, masyarakat telah menerima dominasi komik Jepang, terutama jenis manga, dalam keseharian mereka, lebih dari komik-komik kreasi lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran jika penulis Seno Gumira Ajidarma, dalam sebuah artikel di KCM (2004), mengemukakan, “Bisakah Anda bayangkan misalnya, bahwa telah terbit, buku How to Draw &amp; Create Manga (sic!) misalnya, yang isinya sangat berguna untuk mempelajari teknik menggambar manga, yang dengan mudah akan kita sangka sebagai buku terjemahan dari Jepang, karena nama penulisnya ‘sangat Jepang’, tapi biodatanya menunjukkan bahwa Tatsu Maki lahir 6 Maret 1975 jam sepuluh pagi ketika hujan sedang lebat-lebatnya, bukan di Tokyo melainkan di Bandung &lt;em&gt;tea&lt;/em&gt;?”&lt;br /&gt;Akan halnya ITB, lembaga ini memang dikenal amat membuka diri terhadap teknologi asing, termasuk gaya-gaya seni Barat maupun Timur. Salah seorang alumnusnya, Irwan Darmawan alias Iweng, memanfaatkan surealisme dan ekspresionisme yang jelas-jelas gaya Barat untuk melukisi dinding-dinding di sebuah jalan di Bandung. Ia melakukannya dengan medium cat minyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Jakarta? Tak seperti di Yogyakarta, ketika para senimannya tampak bebas menggelar karya-karya mereka di jalan-jalan, di ibu kota karya-karya urban macam grafiti atau mural sepertinya tak mendapat dukungan pemerintah setempat.&lt;br /&gt;Salah satunya, mural di kaki jembatan di Jl Rasuna Said. Lukisan dinding bermuatan pesan antikekerasan oleh media massa itu dihapus dan diganti cat putih oleh aparat Pemda Daerah Khusus Ibukota (DKI). Menurut pejabat Pemda yang bersangkutan, lukisan itu mengandung pornografi dan Pemda tidak menerima adanya lukisan “yang tidak senonoh” (Kompas, 14/8/01).&lt;br /&gt;Mural di jalan-jalan utama itu bagian dari perhelatan seni urban tahunan yang dipelopori IKJ, Jak@rt. Tampaknya, karakter seni rupa Jak@rt mencerminkan watak seniman urban Jakarta pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita melihat karya-karya mural atau grafiti mereka di dinding-dinding, biasanya tanpa nama senimannya. Lalu, dalam semalam, karya mereka dihapus aparat. Seni urban perlu berjuang agar dapat diterima salah satu komponen masyarakat urban.&lt;br /&gt;Tri Aru sendiri mengakui institusi IKJ mewakili seni urban Jakarta, tapi tanpa eksponen atau nama-nama tokoh perupanya. “Yang berlaku adalah sistem, bukan personel, ” ujar Aru, menambahkan bahwa tokoh-tokoh IKJ tak terpublikasikan, tapi mereka ada.&lt;br /&gt;Yang ia maksud dengan sistem adalah mekanisme perkembangan kota. Sistem kesenian urban di Jakarta bisa berjalan, dengan syarat, apabila mekanisme yang terkait dengan berbagai pihak mulai berperan. “Mekanisme ini berkaitan dengan sistem lain, misalnya, swasta, pemerintah, maupun masyarakat, ” ungkap Aru. “Di sini ada galeri, investasi asing, akumulasi kapitalistik, bisnis, kolektor, Pemda, departemen kebudayaan, ada khalayak. ”&lt;br /&gt;Sambil membenarkan bahwa Pemda tak punya peranan yang mendukung seni urban, Aru menyebutkan bahwa yang banyak menentukan justru masyarakat. Peran masyarakat, sebut Aru, “lebih kepada cinta akan keindahan. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, memang, seluruh warga masyarakat perlu belajar serba sedikit pengetahuan tentang seni jika mereka mau bicara soal salah satu unsur budaya manusia ini. Tujuannya, agar tak ada penafsiran sepihak soal seni.&lt;br /&gt;Tampaknya, pemerintah lokal masih mau belajar soal itu. Berawal dari “perang” poster-poster iklan maupun partai politik di fondasi jembatan-jembatan layang yang bikin gerah Pemda. Akhirnya, pemerintah DKI sendiri angkat bicara. Gubernur Sutiyoso menegaskan, dinding fondasi sebaiknya dihiasi dengan mural. Pemprov DKI mengizinkan pembuatan mural asalkan lukisan itu tak menimbulkan kesan jorok.&lt;br /&gt;“Saya memberikan kesempatan kepada seniman-seniman untuk memperindah kota ini dengan aneka lukisan. Tetapi, gambarnya harus bersifat mendidik, " ujar Sutiyoso seperti dikutipkan KCM (8/4/04). Yang ia maksud adalah, “gambarnya bernuansa flora dan fauna”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib grafiti kurang lebih sama. Kreasi seni di jalan-jalan ini kerap direpresi sehingga ia tak ubahnya kegiatan gelap atau underground. Para senimannya musti main kucing-kucingan dengan aparat Pemda jika ingin membuat grafiti --mereka sebut ngebom-- di suatu lokasi pada malam hari.&lt;br /&gt;Sesungguhnya, Amerika Serikat --diketahui sebagai negeri asal kebudayaan grafiti, semula juga menganggap grafiti aksi kriminal penjahat jalanan maupun aktivis politik. Tapi, pada awal 1970-an koran New York Times mulai memperkenalkan kehadiran seniman grafiti bernama TAKI 183. Ini adalah julukan bagi seorang anak bernama Demetrius asal Washington Heights yang beralamat di nomer 183. Menurut penulis Andrea Ruttan, Demetrius dianggap sebagai seniman pertama di bidang seni penulisan dinding yang mencerminkan faktor-faktor kedaerahan dan gaya individual tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menemukan karya-karya seni urban di Jakarta? Adalah Hary Purnomo alias Ponk Q (35 tahun), perupa urban yang juga pernah mengenyam pendidikan di IKJ, memberi tahu bagaimana menemukan karya yang dimaksud --disebut “piece”. “Tempat-tempat di mana terdapat piece di Jakarta tidak kelihatan, kecuali jika kita menelusuri jalan-jalan di pelosok ibu kota, ” kata Finalis Indonesia Art Awards 2001 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponk Q sendiri mengerjakan billboard, salah satu bentuk aplikasi dari seni urban. Karya-karyanya antara lain, reklame Coca-cola di Cibitung, Bekasi, yang dibuat dengan media air brush. Seperti hampir semua karya Ponk-Q, iklan minuman ini adalah hasil kerja tim yang melibatkan tiga-empat orang --kebanyakan teman-temannya sesama warga IKJ.&lt;br /&gt;Tinggal di Jakarta Selatan, ilustrator yang putera seorang perwira TNI Angkatan Darat ini juga pernah mengerjakan mural bagi Rumah Sakit Kesdam khusus anak-anak di Aceh. Semula, para relawan asing pasca-musibah tsunami mencoba membuat gambar-gambar yang cocok buat anak-anak. Tapi, dokter-dokter bule itu bukan pelukis, hasilnya kurang memuaskan. Akhirnya, Ponk Q pun dihubungi untuk melukisi interior rumah sakit tersebut, yang ia selesaikan pada awal 2005 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain membuat billboard, perupa berdarah Jawa Tengah-Madura ini pun sering menangani perumahan, misalnya, memenuhi pesanan rumah tinggal pribadi. “Yang paling sering buat anak-anak, ” katanya, sambil menambahkan ia juga pernah mengerjakan poster pertunjukan teater.&lt;br /&gt;Ponk Q mengaku gemar menggambar sejak kecil. Ia menggambar di mana saja, di dinding, kamar, dan di benda apa saja. Seolah menunjukkan jati dirinya sebagai seniman uban, jejaka berpenampilan dandy ini juga memenuhi sepeda motornya dengan beragam hiasan mengunakan medium akrilik.&lt;br /&gt;Pada akhirnya, seniman urban tak musti berkarya menggunakan medium minim. Pelukis Dede Eri Supria (49) justru menggunakan cat minyak dengan teknik amat realis untuk mencipta karyanya berjudul Too Late (2002). Pelukis kelahiran Jakarta ini mengangkat tema global dengan menggambarkan tokoh komik asal AS, Superman, tertunduk lesu tak berdaya menyaksikan meledaknya menara kembar WTC di New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dede seperti hendak menunjukkan arogansi negara adidaya yang selalu mau jadi “polisi dunia” dengan memelototi sambl mengangkangi negara-negara lain. Nyatanya, justru di jantung peradaban negara itu keamanan seperti tak berfungsi dengan lolosnya sebuah pesawat nekad; meski akibat kejadian itu pemerintah AS semakin ngawur dengan merusak infrastruktur negara-negara di Asia --termasuk sebuah waduk yang amat vital bagi rakyat di Afganistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reputasi Dede sebagai perupa urban tak diragukan lagi. Selama ini ia nyaris melulu melukis kehidupan rakyat kecil di ibukota, bahkan melukis potret dirinya dengan latar perumahan kumuh di bantaran kali. Ia seperti mengingatkan warga urban bahwa masalah kota tak bisa ditangani hanya oleh segelintir orang saja, betapa pun berkuasanya yang segelintir itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;diambil dari website-nya yasri.com&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112781476649071637?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112781476649071637/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112781476649071637&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112781476649071637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112781476649071637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/mengenal-aksi-seniman-urban_27.html' title='MENGENAL AKSI SENIMAN URBAN'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112781431527590191</id><published>2005-09-27T02:33:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:44:48.756-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'>DEMI MASA...</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Sengaja hari ini saya putar lagu Demi Masa-nya Cokelat berulang kali. Pusing?....memang pusing. Tak bisa mengelak lagi, ketika pemerintah akan menaikkan harga BBM. Bukan hanya pusing harga BBM-nya yang akan naik, tetapi juga mikir harga lainnya yang pasti juga ikut terbang melintasi langit, terbang....dan terus terbang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Hoeekkk!!!...seakan tidak diberi waktu lagi untuk melonggarkan ikat pinggang eh...malah disuruh lagi mengencangkan ikat pinggang. Ada permainan apa lagi ini?...apakah semuanya harus diatasnamakan cinta tanah air?...cinta kok begini?...cinta macam apa lagi?...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Harga naik, pendapatan nggak naik tetapi pajak terus naik. Esok ada apa lagi?...demi sebuah masa, akankah seperti ini terus?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112781431527590191?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112781431527590191/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112781431527590191&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112781431527590191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112781431527590191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/demi-masa.html' title='DEMI MASA...'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754663843466048</id><published>2005-09-24T00:22:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:44:48.756-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'>YANG LEBIH BERBAHAYA DARI NUKLIR</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;”Sekolah itu lebih berbahaya daripada nuklir. Ia adalah candu! Bebaskan warga dari sekolah,” begitu kata Ivan Illich. Kecaman sinis itu hingga saat ini bukanlah sekadar ungkapan apriori terhadap sekolah. Ia menjadi mantra yang hidup dan menantang bagi para pemikir pendidikan.&lt;br /&gt;Kata-kata itu menjadi berbobot bukanlah sekadar ungkapannya yang bertendensi pada sikap asal nyleneh, melainkan didasarkan fakta yang melatarbelakanginya. Ilich saat itu melihat semua bentuk sekolah di berbagai negara telah terjebak pada semangat berpikir yang didasarkan tuntutan-tuntutan kebutuhan formal sekolah. Implikasi dari dominasi keduanya ini kemudian melahirkan suatu corak pendidikan yang hanya sekadar menjadi agen reproduksi sistem dan struktur sosial yang tidak adil seperti relasi gender, relasi rasisme, dan sistem relasi kekuasaan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Relasi itulah yang kemudian memunculkan sikap ketidakpercayaan pada netralitas pendidikan oleh para pemikir kritis radikal seperti Frantz Fanon, Paulo Freire, Antonio Gramsci, dan Ivan Ilich. Mereka menganggap bahwa segala macam bentuk pemikiran tidaklah berdiri sendiri seperti yang diasumsikan para pemikir liberal. Ia hadir dari sebuah prosesi sejarah dan selalu terkait dengan situasi zaman saat pemikiran itu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, dalam tataran kognitif objektivitas menjadi sebuah keabsahan bagaimana netralitas ilmu pengetahuan tetap harus diposisikan. Pemikiran itu juga menegaskan bahwa masalah yang terjadi di masyarakat bukanlah terkait dengan persoalan politik ekonomi yang ada. Oleh sebab itu, orientasi pendidikan tidak bisa dihubungkan dengan keadaaan ekonomi politik di luar pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Objektivikasi mengacu pada asumsi independensi sesuatu yang berdiri sendiri. Dalam bidang pemikiran, ia menjadi keharusan untuk lepas dari asumsi yang lahir dari segala macam bentuk pemikiran sebelumnya. Ia juga menjadi antitesis daripada asumsi-asumsi teologis zaman pertengahan yang selalu didominasi mistisisme gereja (agama). Menjadi keharusan di sini adalah fakta dan data (empirisme) sebagai sebuah argumen untuk menyimpulkan segala sesuatu&lt;em&gt;.(obw)***&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754663843466048?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754663843466048/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754663843466048&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754663843466048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754663843466048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/yang-lebih-berbahaya-dari-nuklir.html' title='YANG LEBIH BERBAHAYA DARI NUKLIR'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754640829824466</id><published>2005-09-24T00:14:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:47:29.372-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Me and Family'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/gabunglea1.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/320/gabunglea1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/gabunglea.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bila engkau berarti tanah...maka berilah mereka kesuburan!&lt;br /&gt;Bila engkau menemukan kebenaran...katakan pada mereka!&lt;br /&gt;Apapun dirimu, matahari akan tetap menyinarimu&lt;br /&gt;dan bulan akan menerangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalanlah dalam terangNya, agar tak salah engkau melangkah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754640829824466?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754640829824466/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754640829824466&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754640829824466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754640829824466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/bila-engkau-berarti-tanah.html' title=''/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754506946514383</id><published>2005-09-23T23:52:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:47:29.372-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Me and Family'/><title type='text'>KETIKA BULAN MENYAPA BINTANG</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/KETIKA%20BULAN.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/200/KETIKA%20BULAN.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Malam datanglah kau kini&lt;br /&gt;Aku telah habis mantera datangkan engkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mmmh...kau munculkan bulan, bukan?&lt;br /&gt;Semoga bukan kekelaman melandaku atau juga&lt;br /&gt;Kegetiran dalam setiap sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Estetislah malam...agar kulihat bulan.&lt;br /&gt;Tak hanya hitam tapibiar ada putih dan kilauannya itu&lt;br /&gt;Menyempurnakan keindahannya.&lt;br /&gt;Kemarin dia menyapaku, tapi ketika itu&lt;br /&gt;Kau sembunyikan aku dalam awan hitammu.&lt;br /&gt;Ahhh...malam, kau tidak estetis sih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tunggu dia lagi ah!...meski kau sembunyikan aku lagi (mungkin)!...&lt;br /&gt;Tapi aku akan maksa...kamu sih nggak estetis!&lt;br /&gt;Tapi nggak apa-apalah, kamu pasti punya maksud kan?&lt;br /&gt;Malam ini ketika dia muncul, aku tidak akan&lt;br /&gt;Menunggu malam keberapa lagi untuk mengatakan&lt;br /&gt;Keterpesonaanku pada kehadirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam...ternyata engkau estetis kok!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(22 Mei 2004)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754506946514383?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754506946514383/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754506946514383&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754506946514383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754506946514383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/ketika-bulan-menyapa-bintang.html' title='KETIKA BULAN MENYAPA BINTANG'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754448984802507</id><published>2005-09-23T23:32:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:47:29.372-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Me and Family'/><title type='text'>TERUNTUK ALAIA-KU</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/1600/lea%20lihat1.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2570/1633/200/lea%20lihat.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Alaia...bila tiba waktumu sekolah,&lt;br /&gt;aku nggak akan menuntutmu menjadi langit,&lt;br /&gt;tetapi jadilah kamu udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alaia...memboloslah bila menurutmu begitu.&lt;br /&gt;Bila kamu bosan dengan sistem...&lt;br /&gt;aku akan mengijinkanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ternyata cerdas tidak harus&lt;br /&gt;mengisi lembar absen, tetapi&lt;br /&gt;mengisi lembar hidup untuk menunjukkan&lt;br /&gt;bahwa kecerdasanmu dibutuhkan banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                Beranilah berdiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;                                (dari ayah dan ibu...ternyata kamu sudah 6 bulan!)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754448984802507?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754448984802507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754448984802507&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754448984802507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754448984802507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/teruntuk-alaia-ku.html' title='TERUNTUK ALAIA-KU'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754346842818686</id><published>2005-09-23T23:29:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:44:48.757-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'>MAAF HANYA UNTUK RAJIN!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Mendidik bukan hanya berurusan dengan nilai akhir yang dididik. Lebih daripada itu mendidik menyoal pada penanaman nilai dan proses mencapai target dengan maksimal. Aku masih ingat ketika di SD dan SMP untuk mencapai nilai akhir yang bagus, selalu ada instruksi mengikuti kegiatan agar ada tambahan nilai. Berlanjut sewaktu SMA hanya untuk mendapatkan nilai bagus pada mata pelajaran tertentu bisa didapatkan dengan tambahan kegiatan. Penghargaan yang kadang kala tidak ada korelasinya bila tidak bisa dikatakan sebagai ‘alat pengatrol nilai’. Parahnya, praktek ini masih ada yang berlanjut di tingkat perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dari awal memasuki sebuah pendidikan bukankah di lingkungan keluarga sendiri tertancap nilai, bahwa penanaman nilai kehidupan tidak hanya diukur dari seberapa besar penghargaan yang diterima. Proses yang baik meski tidak ada penghargaan pun bila dikatakan adil, maka masih bisa dikatakan bahwa telah terjadi proses pendidikan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kritik yang aku maksud dalam tulisan ini adalah masih adanya iming-iming tambahan nilai bila pelajar atau mahasiswa (anak didik) aktif mengikuti kegiatan kampus. Begitu pula praktek mendidik yang salah kaprah adalah menganggap anak didik lulus atau sebagai persyaratan lulus dihitung dari seberapa besar poin yang didapat dari kegiatan yang ia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Memang untuk menumbuhkan sikap aktif mengikuti kegiatan atau pengalaman berorganisasi anak didik susahnya minta ampun, namun tidak dengan cara pemberian iming-iming seperti itu. Sekedar pembedaan dalam mencari format yang baik dalam sistem penilaian terhadap anak didik adalah apakah poin yang dikumpulkan anak didik selaras dengan kualitas yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Di suatu perguruan tinggi yang tidak menerapkan sistem ini, aku mendapati kualitas integritas akademik anak didik justru patut diacungi jempol. Kemampuan menguasai masalah dan memecahkan masalah dengan segala kemampuan mempertahankan argumentasinya lebih bisa diandalkan. Keseriusan mereka juga bisa dilihat dari seberapa sungguh-sungguh ia mengikuti kegiatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Suatu ketika ada undangan untuk menjadi moderator dalam sarasehan pers mahasiswa di suatu kampus di Jogja, aku merasakan suasana saat itu benar-benar ilmiah dan jauh dari kesan ‘hanya asal ikut dan dapat kredit poin’. Hal yang berbeda adalah ketika ada kampus yang menerapkan sistem poin ini situasi yang tercipta adalah mengembangkan kuantitas anak didik dalam membuktikan bahwa ia cukup aktif berkegiatan. Kualitas?hmm...tunggu dulu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Ketika menghadiri sebuah seminar di kampus yang menerapkan sistem ini yang terjadi adalah berbondong-bondongnya anak didik mengikuti kegiatan ini. Tetapi apakah dijamin mereka serius mengikuti? ahhh...tampak di semua baris kursi yang berjajar, peserta seminar sibuk ngobrol sehingga menimbulkan kegaduhan dan teguran ‘pssstttt....!!!’ hilir mudik mengingatkan mereka yang ngobrol sendiri. Ketika keluar dari acara tersebut pun belum tentu mereka menguasai atau mengerti betul masalah yang diangkat dalam seminar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sistem ini pun terasa menyiksa bagi mereka yang memang bersungguh-sungguh menggabungkan diri mengikuti lembaga kemahasiswaan namun terganjal oleh aturan yang dibuat sendiri oleh lembaga tersebut. Dengan demikian tentunya sistem ini sangat diskriminasi sekali, mengingat poin diperoleh mereka yang hanya aktif berorganisasi karena keberadaannya dilegal-formalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sementara komunitas dari dalam mahasiswa sendiri di beberapa kampus yang menerapkan sistem ini  tidak diakui, karena komunitas tersebut tidak legal. Bila demikian adanya, apa parameter yang dipakai untuk menilai anak didik aktif berorganisasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Apa yang aku kritik dalam sistem pendidikan tersebut sebenarnya berawal dari kegundahan, bahwa anak didik diberi ‘kemudahan’ untuk mengenalkan dunia nyata hanya dari ‘paksaan semu’ untuk mengikuti kegiatan. Sementara di luar sana, tidak ada penghargaan yang mengharuskan mereka aktif karena mau tidak mau demikian adanya. Bila tidak, maka bisa dipastikan ia akan tersingkir dalam persaingan dunia nyata yang ‘kejam’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Seleksi alamlah yang sebenarnya akan menilai cukup ‘mumpuni’ kah mereka dalam mengembangkan kepribadiannya lewat segala kegiatan. Bila seleksi alam sudah diperkenalkan sejak dini dalam dunia pendidikan, maka aku yakin bahwa hanya mereka yang mengejar kualitas dirinya lah yang mampu berkembang&lt;em&gt;.(obw)*** &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754346842818686?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754346842818686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754346842818686&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754346842818686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754346842818686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/maaf-hanya-untuk-rajin.html' title='MAAF HANYA UNTUK RAJIN!'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754332946271207</id><published>2005-09-23T23:26:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:48:06.692-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book'/><title type='text'>DARI BUKU BEBASKAN MASYARAKAT DARI BELENGGU SEKOLAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Karya Ivan Illich&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;            Dalam buku yang tajam ini, Illich menggedor kesadaran kita untuk segera membuat Revolusi Budaya, yakni: sekali lagi menguji secara mendasar mitos-mitos sosial dan lembaga-lembaga yang ada di era industri-teknologi yang semakin mekanistik, anonim, massal, namun memperkurus kemanusiaan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Telaah atas realitas 'kemajuan' yang amat komplek tersebut dimulai Illich dengan membedahnya dari sudut sekolah. Menurut dia, sekolah tidak otomatis sama dan sebangun dengan pendidikan; justru memfrustrasikan anak didik; mensponsori 'kemajuan pembangunan' yang mengagung-agungkan produksi. Universitas pun terancam menjadi sekedar pencetak dan pemasok tukang-tukang yang melayani masyarakat kapitalis-konsumeristik; memberi ijazah tanda legitimasi, dan mendesak ke pinggir orang-orang yang tidak cocok dengannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;            Apakah anggapan ‘makin pintar, makin kaya, makin berkuasa’ adalah juga paradigma nilai moral dan etika ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah ? Jika ya, lalu apa kaitannya dengan tujuan pembentukan watak kemanusiaan luhur yang digembar-gemborkan dalam setiap wejangan para guru di sekolah ? Celakanya, sekolah bukan lagi menjadi milik kaum rakyat jelata karena sekolah-sekolah di zaman modern ini sudah dikelola sebagai suatu perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sekolah-sekolah itu bahkan telah menjadi majikan terbesar dan paling anonim dari semua majikan. Bahkan selama 30 tahun lembaga sekolah telah digunakan sebagai alat politik rezim orde baru untuk memasung kebebasan berpikir para siswanya.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Jadi, gagasan Ivan Illich (1926 - 2002) mengenai masyarakat yang bebas dari (institusi) sekolah atau deschooling society perlu dicermati disini.            &lt;br /&gt;Sungguh, sebuah buku yang amat berbahaya bagi mereka yang menangkap masalahnya secara setengah-setengah.(obw)***&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754332946271207?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754332946271207/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754332946271207&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754332946271207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754332946271207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/dari-buku-bebaskan-masyarakat-dari.html' title='DARI BUKU BEBASKAN MASYARAKAT DARI BELENGGU SEKOLAH'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754320918754196</id><published>2005-09-23T23:25:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:44:48.757-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'>PARADOKS PENDIDIKAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;           &lt;br /&gt;Lenin bilang,”Berhematlah ekonomi dalam apapun juga, kecuali untuk keperluan pendidikan.” Itu baru ungkapan seorang pemimpin komunis yang selanjutnya menjadi pionir dalam memajukan negaranya di tengah himpitan negara-negara kapitalis. Bagaimana selanjutnya para pemikir pendidikan mengomentari dunia pendidikan sekarang? Dengarlah ucapan Ivan Illich, seorang pemerhati pendidikan. Ia berkata, “Sekolah itu candu!”. Nah!!! kalau seorang pendidik saja sudah mengatakan hal seperti itu berarti ada sesuatu yang harus diungkap dari budaya yang namanya sekolah ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;            Menyoroti pendidikan dalam kacamata komersialisasi dan kapitalisasi tentu sudah bukan lagi barang baru. Munafik bagi pendidikan sekarang yang hanya mempunyai visi mencerdaskan kehidupan bangsa. Toh mereka akan cuci tangan bila bangsa ini tidak cerdas-cerdas. Karena itu bila biaya sekolah selalu naik dan mempunyai kecenderungan meninggalkan kepentingan rakyat kecil, isu komersialisasi tidak akan pernah berhenti sampai pemerintah peduli dan mengalihkan biaya perang ke biaya pendidikan. Dengan catatan juga, biaya pendidikan ini disalurkan dengan cara yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Apa yang ingin disorot di sini seperti katanya Ivan Illich adalah mengapa sekolah sampai harus divonis dengan candu. Barang yang memabukkan, membuat tak sadar hingga mati. Tak perlu kita teriak-teriak biaya pendidikan murah bagi rakyat, bila kenyataannya mereka yang sekolah pun mencekik rakyat dengan biaya yang begitu mahalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pandangan Benjamin Bloom dalam sebuah buku yang berjudul Sekolah Itu Candu mengungkapkan, bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan pada dasarnya berfungsi menggarap tiga wilayah kepribadian manusia, yakni membentuk watak dan sikap, mengembangkan pengetahuan, serta melatih ketrampilan. Intinya sekolah bertugas mendidik manusia agar berwatak, berpengetahuan, dan berketrampilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Melihat ketiga hal di atas korelasi antara yang teridentifikasi dengan yang sebenarnya menjadi bias. Kapan seorang dari anak sekolahan bisa dikatakan telah trampil bila ia hanya keluar dari sekolah dengan menyandang ijasah. Atau bagaimana pula watak dan sikap bisa diukur dari seorang yang terpelajar hanya karena ia sudah lulus mengenyam mata kuliah Etika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Apakah nilai akhir menjadi kunci seseorang bisa dikatakan terpelajar? okeylah kalau memang begitu keadaannya. Namun bisakah kepekaan sosial diri orang tersebut hanya mengandalkan nilai akhirnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Habibie dengan ilmu selangit pun tidak mampu menjawab persoalan sosial, karena ia sendiri tersandung kasus oleh lingkungan sosialnya sendiri. Seorang pelajar atau mahasiswa yang duduk diam, tenang dan mendengar pun tidak akan bisa cepat bertindak ketika dosen perempuannya dilecehkan oleh temannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Mata kuliah, mata pelajaran atau bidang studi hanyalah menjawab permukaan bukan kedalaman.(obw)***&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754320918754196?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754320918754196/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754320918754196&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754320918754196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754320918754196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/paradoks-pendidikan.html' title='PARADOKS PENDIDIKAN'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754314153665667</id><published>2005-09-23T23:24:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:44:48.757-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'>KATA-KATA PENGHISAP</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Jika dunia sperti pasar besar, maka pegawai akan bersaing dengan semua orang di dunia yang mampu melakukan pekerjaannya. Kita tahu ada banyak orang seperti itu dan umumnya mereka itu lapar.” (Andrew Grove, Presiden Intel Corp. dalam bukunya High Out Management).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini di antara kita saja. Apa tidak lebih baik jika Bank Dunia menganjurkan pembuangan limbah industri yang kotor lebih banyak ke Negara berkembang? Dalam logika ekonomi membuang limbah beracun ke negeri berpenghasilan rendah bukan tindakan tercela dan kita harus berani menghadapinya. Saya selalu berpikir, bahwa Afrika yang jarang penduduknya tentu juga sedikir polusinya; pencemaran udara di sana masih sangat rendah dibandingkan Los Angeles atau Mexico City. Dan itu tidak efisien.” (Lawrence Summers, Wakil Sekretaris Bank Dunia dalam sebuah memo internal, 1991).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;(obw)***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;sumber: Majalah Kerja Budaya&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754314153665667?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754314153665667/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754314153665667&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754314153665667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754314153665667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/kata-kata-penghisap.html' title='KATA-KATA PENGHISAP'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754302996495443</id><published>2005-09-23T23:22:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:44:48.758-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'>INILAH PRODUK GLOBALISASI</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan perusahaan multinasional dewasa ini sudah jauh melampaui pendapatan negara-negara di dunia. Pada 1997 total penjualan General Motors sebesar US$ 164 milyar, sementara GDP Indonesia hanya US$ 52,2 milyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga orang terkaya di dunia saat ini menguasai asset yang nilainya sama dengan milik 600 juta orang di 48 negara termiskin. Seperlima penduduk di negeri-negeri paling kaya menguasai 86% produk domestik bruto dunia, 82 persen pasar ekspor dunia, 68% penanaman modal langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana yang diperlukan untuk memberantas tuntas kemiskinan di 20 negeri termiskin untuk selama-lamanya hanya sekitar US$ 5,5 milyar, sementara penduduk dunia menghabiskan US$7,2 milyar per bulan untuk membeli fastfood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaji CEO Walt Disney Michael Eisner sama dengan upah 100.000 buruh Haiti yang memproduksi boneka dan pakaian Disney. Atau pendapatnya sehari setara dengan upah seorang buruh selama 166 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Separuh penduduk dunia hidup dengan US$ 2 per hari, sementara pemilik Microsoft, Bill Gates berpendapatan US$95 per detik sejak Maret 1986.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini diperkirakan masih ada 840 juta orang menderita kekurangan gizi. Satu dari delapan orang di planet ini adalah pengangguran. Satu dari empat anak di dunia kini menderita kekurangan gizi, dan setiap menit ada empat anak yang meninggal dunia karena penyakit diare dan gangguan pencernaan.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(obw)***&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;(sumber: Majalah Kerja Budaya)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754302996495443?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754302996495443/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754302996495443&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754302996495443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754302996495443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/inilah-produk-globalisasi.html' title='INILAH PRODUK GLOBALISASI'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754290487467267</id><published>2005-09-23T23:20:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:44:48.758-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'>BILA SEKOLAH ADALAH...</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Berangkat pagi-pagi mendengarkan guru memberikan ilmu tapi dia gak peduli aku menangkap teorinya apa tidak, maka jangan salahkan aku bila aku mampu membuat bom hanya karena ketidaktahuanku harus aku apakan bahan-bahan kimia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencatat teori probabilitas kemanusiaan dalam lingkaran ketidakmengertian atas tulisan per tulisan, maka jangan salahkan aku bila aku tidak mengerti kemungkinan terburuk apa bila aku tidak menolong orang yang tertabrak mobil Mercy hanya gara-gara sang guru menolak menjawab pertanyaanku pada setiap teori kemanusiaan yang didiktekannya. Padahal aku tidak setuju, karena terlalu kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak boleh tidur di sekolah. Tidak boleh membawa binatang kesayangan. Tidak boleh ini. Tidak boleh itu. Aku tidak pernah setuju, namun selalu tidak dijawab alasannya. Padahal kalau dijawab mungkin saja aku bisa mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan perintah namun tidak dijelaskan apa tujuan melakukan hal itu. Apa misinya dan target apa yang akan diperoleh bila melakukannya. Tidak pernah diberitahu. Aku pun seperti kerbau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayar uang sekolah. Rutin iuran gedung kuliah. Rutin bayar laboratorium. Bayar ini bayar itu. Namun setiap aku melakukan kegiatan di sekolah selalu dimintai bayaran lagi. Akupun jadi mikir dan jangan pernah salahkan jalan pikiranku..untuk apa uang yang selalu aku bayarkan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat untuk selalu melamun, bagaimana ya caranya tetap bayar sekolah tapi bebas menggunakan alat dan fasilitasnya dan yang penting bebas berkreatifitas?&lt;em&gt;-(obw)***&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754290487467267?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754290487467267/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754290487467267&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754290487467267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754290487467267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/bila-sekolah-adalah.html' title='BILA SEKOLAH ADALAH...'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754275733882283</id><published>2005-09-23T23:16:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:44:48.758-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'>UNIVERSALISME CINTA DAN GLOBALISASI PALSU</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Teilhard de Chardin, ilmuwan evolusi dari Prancis yang tersohor ternyata telah memberi banyak inspirasi bagi ahli-ahli globalisasi. Karya-karyanya memberi inspirasi, misalnya pada Marshall Mc Luhan, yang bergulat dengan masalah komunikasi global, yang nantinya memberi inspirasi bagi terciptanya istilah ‘global villages’. Juga pada Kenneth Boulding, ekonom dari Universitas Colorado, yang pertama kali mencoba membuat analisis tentang struktur ekonomi global. Dan ahli yang terang-terangan mengakui pengaruh Teilhard adalah Michel Camdessus, mantan direktur IMF.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;            Karena inspirasi Teilhard, Camdessus yakin, bahwa dengan globalisasi manusia akan mencapai kesatuan yang mengatasi perbedaan. Namun sekaligus ia juga mengakui, bahwa globalisasi mempunyai sisi gelap yang dapat menekan kita. Kepercayaan dasar Teilhard kendati Perang Dunia Pertama terjadi adalah dunia akan berjalan menuju pada kesatuannya. Menurutnya evolusi akan mencapai fase terakhir, dimana individu-individu bersama-sama membentuk suatu unifikasi global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Quo universalius, eo divinus: dimana pribadi menjadi makin universal, disanalah ia menjadi makin ilahi. Itulah kepercayaan dasar Teilhard tentang evolusi yang menuju kesatuan universal. Dari sana jelas, universalisme harus mengantar manusia menjadi makin spiritual dan ilahi. Universalisme demikian membebaskan manusia dari apa saja yang membatasi dirinya, terutama kebendaan. Dalam universalisme itu, manusia menemukan kebebasannya dan dengan kebebasannya itu ia bertindak, mencipta dan berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Bagi Teilhard, Perang Dunia Pertama adalah awal dari globalisasi: manusia terjerumus ke dalam perang, tapi justru karena itulah mereka sama-sama mencita-citakan kesatuan, perdamaian dan persaudaraan yang global. Tampak dalam pandangan Teilhard, evolusi menuju unifikasi global itu bukan meniadakan dunia, melainkan menyempurnakan dunia dan menyatukannya dengan pleroma (kesatuan dan kesegalaan). Dunia yang menghancurkan dirinya dengan perang bukan harus makin dibenci melainkan harus dicintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dari pendapat Teilhard di atas, cita-cita globalisasi rasanya sulit dibandingkan dengan cita-cita universalisme evolutif. Kesemestaan sejati yang dicita-citakan universalisme bukanlah tujuan dari globalisasi. Globalisasi ingin menyejahterakan manusia hanya pada bidang ekonomi saja. Globalisasi juga membuka peluang yang dapat mengantar manusia ke dalam persaingan yang sengit, merobek-robeknya dengan kebendaan dan konsumerisme. Sementara tujuan kesemestaan sejati bukanlah pertama-tama kebendaan dan kemajuan ekonomi, melainkan kesempurnaan manusia dalam satu persaudaraan global di mana manusia sanggup menghilangkan diri bagi sesamanya. Jadi kesempurnaan itulah semacam kesatuan cinta. Sifat kesatuan bukanlah material melainkan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Meskipun globalisasi tidak bias dihindari, namun kita mesti curiga dan waspada. Bisa terjadi, globalisasi bukanlah menyatukan melainkan memecahkan. Globalisasi berjanji hendak mengangkat derajat yang particular dan local ke dalam yang umum dan global. Maka keluarlah slogan: makin global makin local dan globalisasi tak lain adalah lokalisasi. Aku meragukan hal itu. Globalisasi yang diidentikkan dengan lokalisasi justru harus dilihat sebagai sebentuk ungkapan baru yang mempopularisasikan penduduk dunia ini ke dalam kelompok kaya yang global dan kelompok miskin yang local.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Jadi justru dengan glokalisasi (global yang melokal) globalisasi mengandung potensi untuk mengeksklusifkan kelompok satu dari lainnya, individu satu dari lainnya. Segala ketegangan dan problem dunia tidak lagi terjadi ‘di luar’ tapi ‘di dalam’, di pusat hidup seorang individu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Benarkah globalisasi akan membebaskan manusia dari keterikatannya? Inilah problem universalisme yang dihadapi globalisasi. Contohnya adalah masyarakat Barat sendiri. Universalisme adalah retorika yang digunakan masyarakat Barat untuk membenarkan globalisasi yang mereka pelopori. Seharusnya masyarakat Barat menerapkan universalisme itu tanpa kompromi. Ternyata tidak! Ambillah contoh, di bidang hak asasi manusia. Di negaranya, di teritorialnya, masyarakat Barat memperlakukan nilai dan norma secara total dan tanpa kompromi. Tetapi di luar negaranya, di luar teritorialnya mereka bias mengkompromikan nilai dan norma itu dengan pelbagai cara. Apalagi jika mereka mempunyai kepentingan bisnis, mereka dengan penuh ‘toleransi’ membiarkan nilai dan norma itu dilanggar. Inilah standar ganda masyarakat Barat dalam hak asasi manusia. Ini membuktikan, bahwa masyarakat Barat masih memberlakukan prinsip moral dan kaitan dengan ‘kedekatan’ dan ‘kejauhan’ jarak. Padahal katanya, dengan prinsip universalismenya, globalisasi sudah tidak memberlakukannya lagi. Itulah universalisme yang munafik dari globalisasi yang dipelopori oleh masyarakat Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Apakah globalisasi telah gagal? Lihat saja nanti! Aku yang telah menolak globalisasi sejak awal akan melihat, bahwa globalisasi justru akan menjauhkan orang dari sesamanya. Nggak ada lagi uluran tangan. Tidak ada lagi kepedulian. Kaum miskin yang paling membutuhkan uluran solidaritas akan makin terisih. Karena itu jika tidak bias menyelamatkan kaum miskin yang terlokalisasi, globalisasi di abad ke-21 ini sebenarnya hanyalah ulangan dan lanjutan dari apa yang dikhawatirkan: Jangan-jangan globalisasi hanyalah garapan baru dari lagu lama tentang penjajahan dari mereka yang kuat terhadap mereka yang lemah, yang sudah dimulai lima ratus tahun lalu oleh ekspedisi Vasco da Gama dan Christopher Colombus&lt;em&gt;.(obw)***&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(disadur seperlunya dengan pengeditan ulang dari Majalah BASIS 2003)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754275733882283?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754275733882283/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754275733882283&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754275733882283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754275733882283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/universalisme-cinta-dan-globalisasi.html' title='UNIVERSALISME CINTA DAN GLOBALISASI PALSU'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754255051359416</id><published>2005-09-23T23:14:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:48:42.733-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>IKLAN DAN KOMODITI ‘LU-GUE’</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;       &lt;br /&gt;Pemaknaan atas berbagai macam citraan terutama disebabkan oleh adanya televisi berdampak pada pembelian beberapa ruang di acara televisi berbentuk iklan adalah sebuah pendeskripsian secara nyata atas sekeliling kita. Tak ditemui lagi merek tahun ‘70-an atas nama gaya hidup. Namun pembalikan fakta ini terjadi juga pada mereka yang mengaku kolektor atas merek-merek jaman dulu kala, inipun atas nama gaya hidup. Mereka pun menjadi sebuah komoditi iklan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;            Apa yang sedang berlangsung dalam jalinan kompleks proses-proses sosial, psikologis dan material di mana kolektivitas membantu mengembangkan asosiasi konotatif antara feminitas, maskulinitas, modernitas dan komoditi adalah sebuah ekonomi hasrat yang beroperasi pada tingkat visual, sekaligus merupakan tumpuan utama budaya komoditi dan secara khusus merupakan tujuan budaya komoditi. Dalam sistem ekonomi hasrat semacam ini, apapun yang secara positif dan konsisten menarik pandangan mata adalah apa yang dinilai. Mereka yang berada di belakang kemudi BMW adalah citraan yang dihasilkan oleh kemewahan sebuah mobil. Iklan yang bisa mencapai tahap pencitraan ini adalah iklan yang berhasil. Tak ada yang menggugat hal ini. Begitu pula mereka yang merasa nyaman di belakang Mercy, maka iklan yang membahasa citrakan hal ini juga dianggap iklan yang berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Komoditi pada akhirnya menjadi tujuan iklan diciptakan. Budaya konsumerisme -mau tidak mau-adalah hasil komoditi yang terorganisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Beberapa produk melalui iklannya menembak pasar wanita, bukan tanpa alasan. Merekalah yang masih dipercaya sebagai ‘agen’ gaya hidup. Melalui merekalah ikon konsumerisme tercipta. Berapa produk saja tercipta untuk meraih simpati ikonik konsumerisme. Femininitas adalah tujuan. Ketika ikon feminitas tercipta maka sebenarnya akan selalu ada sisi kelam ikon tersebut, sama seperti mereka yang menyuarakan budaya anti konsumerisme. Nilai ketergantungan pada diri wanita terhadap produk akan senantiasa menjadi pilihan komoditi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Tak heran ketika sinetron remaja yang dibarengi dengan iklan buat remaja bermunculan, maka yang terjadi adalah proses psikologis pencapaian pesan penggunaan produk dari makanan kecil sampai pengunaan perangkat gaya hidup. Benarlah kata Maslow tentang kebutuhan manusia, bukan saja produk di atas yang dikecap, dialek lu - gue gaya Jakarta-an pun dimakan oleh yang namanya gaya hidup&lt;em&gt;.(obw)***&lt;/em&gt;     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754255051359416?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754255051359416/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754255051359416&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754255051359416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754255051359416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/iklan-dan-komoditi-lu-gue.html' title='IKLAN DAN KOMODITI ‘LU-GUE’'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754239284918861</id><published>2005-09-23T23:10:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:50:25.131-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>IKLAN YANG AJAIB!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;oleh Daniel 'Genjik' Iskandar&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan jika anda memiliki pacar yang cantik (tentu aku ndak mau punya pacar ganteng soalnya aku cowok) terus bodinya oke, terus juga lucu. Nah tapi sayangnya ada kekurangannya yaitu mboseni dan gak membuat kamu senang ... terus apa dong gunanya kalo ternyata itu nggak membahagiakan kita... nah inilah pengandaian yang saya gunakan untuk menggambarkan iklan yang banyak beredar sekarang ini. Iklan – iklan yang lucu juga menghibur banyak penontonnya (kalau iklan tv), pendengarnya (kalo radio), yang ngeliat (kalo iklan cetak atau billboard), dan banyak lagi macamnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Tapi sekali lagi iklan – iklan itu dinikmati sebagai hiburan dan orang-orang nggak niat untuk mengkonsumsi produk dari iklan yang bersangkutan. Sadar nggak kalo sekarang banyak iklan yang sedemikian rupa ?  Memang sih kalo dilihat dari beberapa sisi ada bagusnya...setidaknya dia punya stopping power yang kuat yang membuat pemirsanya memperhatikan bahkan mengingat... tapi itu kan teorinya...toh masih banyak kejadian seperti ini (misalnya) : &lt;br /&gt;X : eh udah liat iklan baru ndak di tv?&lt;br /&gt;Y : yang mana?&lt;br /&gt;X : itu yang ada dian sastronya ....yang terus cowoknya jatuh ke got...&lt;br /&gt;Y :  ooo yang itu ... iya lucu ya...&lt;br /&gt;X : iya aku ketawa kenceng banget sampe diomelin tetangga...&lt;br /&gt;Lalu STOP Cuma sampai di situ bahkan ketika mereka berdua bertanya – tanya apa produk yang diiklankan mereka lupa, saking lucunya iklan itu...Atau bisa juga ingetnya ke si bintang iklan bukan di produknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Tragis memang ketika iklan sudah kehilangan fungsinya, nggak mampu untuk menjual...terus buat apa iklan itu dibuat ? buat apa perusahaan mbuang budget gede buat mendanai biro advertising buat bikin iklan itu... jangan tanya saya lah kita sama ndak taunya hehehe. (itu kan suka – sukanya yang punya perusahaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah pendapat yang saya setujui semua hal yang sudah hilang fungsinya bakal bermetamoforsis menjadi seni...contohnya senjata. Sekarang sudah ndak ada negara yang mau perang pake alat tombak dan naik kuda...buat apa kan sekarang udah ada senapan dan kendaraan bermotor...akhirnya si tombak ini yang dulunya alat perang malah jadi barang antik (wong ndak tau dipake) jadi barang seni, terus dibeli orang tapi bukan buat ditusukin ke orang atau hewan buruan, tapi buat dipajang di ruang tamu...&lt;br /&gt;Kenapa saya cerita ini? Soalnya hal yang sama hampir, mungkin bahkan sudah terjadi pada iklan. Sudah jadi seni, toh sekarang ada yang namanya seni periklanan bukannya teknik periklanan. Kadang kreativitas si creative team sebuah biro advertising memang hebat dia pinter banget bikin iklan yang kretif disukai orang banyak, kata orang desain hebat, “kenapa ya kita ndak kepikiran?” tapi kadang kreatif itu over sampe iklan itu ndak ada motivasi yang bikin orang mau beli produk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada contoh pernah sebuah perusahaan mobil terkenal (saya ndak mau bilang wong aku ndak dibayar perusahaan itu kok) yang mengiklankan produk terbarunya dengan visuali sasi kura – kura....hebat benar mobil itu teknologinya lengkap, canggih, dan dengan kecepatan 2 mil per hari. Lho kok? Lha iya visualisasi kok kura – kura? Hewan yang faktanya jalannya lamban banget, tapi alesan si biro advertising “kan udah banyak iklan mobil pake kuda kenapa kita gak bikin pake kura – kura? Kan kontras kita bakal jadi yang pertama deh...Ya mereka memang jadi yang pertama, tapi produknya nggak kejual.&lt;br /&gt;Ya sama aja bo’ong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sinis ya ...? Memang! Kadang kalo kita ke tempat biro iklan yang terkenal, di ruang depan mereka dengan bangga memajang penghargaan – penghargaan yang mereka terima ... menandakan bahwa mereka unggul, mereka memiliki kretivitas yang lebih dari yang lain, mereka ...merasa hebat. Padahal sudah fakta kalo iklan yang menang penghargaan karena uniknya atau bagus finishingnya, atau indahnya, atau apalah pemikiran juri saat itu nggak bisa menjual produknya.&lt;br /&gt;Yah mereka memang sedikit menipu sih dengan memajang penghargaan itu...kenapa? Soalnya kalo saya bilang itu arogan, mereka Cuma mau nyombongin kehebatan mereka...yang belum tentu kita butuh. Yang dibutuhkan kan iklan yang menjual produk...bukan yang bisa menangin penghargaan. Mbok ya yang dipajang itu grafik penjualan produk apa kek yang pernah mereka bikinin iklannya sebagai bukti kalo produknya itu laku setelah mereka bikinin iklannya. Ndak tapi itu ndak pernah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus gimana cara bikin iklan yang bagus? Yang penting selain bagus harus ada motivasi...ya supaya orang mau beli produknya habis liat iklannya. Itu yang penting, bukan lucunya, bukan indahnya, tapi motivasinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok saya bisa sih ngoceh panjang lebar begini? Soalnya saya habis baca buku dan kebetulan saya sependapat makanya bisa. Kalo mau tau lebih banyak beli dong bukunya baca, bukunya itu “&lt;em&gt;the fall of advertising and the rise of PR” &lt;/em&gt;yang nulis Al Ries sama Laura Ries. Jangan takut bukunya udah diterjemahin kok udah bukan bahasa bule. Harganya juga ndak sampe jual diri. Pokoknya OK deh. Kok saya kayak ngiklanin gratis sih? Bukan itu tapi karena saya baik makanya ngasih tau ... baik kan? Tapi baik begini saya belum punya pacar, jadi yang berminat bisa cari saya sapa tau saya juga minat sama anda...pokoke cewek soale saya cowok.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                                          &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754239284918861?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754239284918861/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754239284918861&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754239284918861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754239284918861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/iklan-yang-ajaib.html' title='IKLAN YANG AJAIB!'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754215305888313</id><published>2005-09-23T23:07:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:51:18.585-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book'/><title type='text'>KISAH TENTANG BONEKA CANTIK</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;(dari buku Barbie Culture – Ikon Budaya Konsumerisme)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Siang itu saya tertegun oleh pemandangan dua anak kecil yang asyik bermain figur wanita dari kertas. Permainan tersebut dikenal dengan permainan bongkar pasang, karena sifatnya yang memang mudah dibongkar dan dipasang. Bila bajunya tidak cocok atau disesuaikan dengan kondisi ‘cerita’nya, maka figur itu bisa dibongkar pakaiannya dan dipasang dengan pakaian yang sesuai ‘skenario’. Yang menjadi ketertegunan saya adalah betapa mereka mampu memainkan permainan itu tanpa script yang jelas layaknya sebuah teater. Imajinasi yang berkembang dan keluar dari mulut mereka sarat dengan kebiasaan yang mereka serap sehari-hari, entah itu dari TV maupun dari orang di sekeliling mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;            Cerita di atas terjadi pada akhir tahun ‘80-an. Pada saat itu pun sebenarnya di Indonesia banyak beredar permainan tanpa bahan dasar kertas. Plastik, misalnya. Maka berkembang boneka dari bahan tersebut. Boneka saat itu hanyalah sekedar ‘boneka-bonekaan’ yang disukai anak-anak seusia SD. Harganya pun mudah dijangkau. Berbeda dengan keberadaan Barbie yang bertolak belakang dengan hal tersebut, maka Barbie lebih disukai oleh semua kalangan. Tidak hanya anak SD, mungkin anak SMP, SMU hingga ibu-ibu muda pun gemar mengoleksi benda ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Barbie, menurut catatan Mary dalam buku ini memasuki pasar pada tahun 1959. Tahun tersebut bersamaan pula dengan karya sosiologi karya Erving Goffman berjudul The Presentation of Self in Everyday Life. Goffman menulis prinsip tentang kedirian dalam era penampilan dan citra diri. Kunci pemikirannya adalah mengenai manajemen impresi (impression management). Manajemen impresi meliputi hal-hal seperti perilaku yang baik, sanjungan dan berbagai ucapan kekaguman, penyingkapan motivasi dan tindakan seseorang dan hal lain yang mencerminkan klaim positif yang dibuat orang secara diam-diam. Intinya, manajemen impresi ini lahir dari cara bersikap yang berpusat pada pakaian dan bahasa tubuh seseorang. Dibutuhkan pula bagaimana berpenampilan berupa pakaian yang tepat pada kesempatan yang tepat pula. Di sinilah rupanya Barbie banyak berperan. Ia seakan figur yang tidak pernah salah dalam mengungkapkan impresi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Segala macam ilusi atau mungkin lebih tepat disebut imajinasi mengarah kepada keberadaan Barbie yang ‘sempurna’. Lihat saja postur tubuhnya. Rambut pirang, mata bundar berwarna biru, kaki jenjang dan perawakannya yang tinggi semampai. Sebuah gambaran ideal dan sarat dengan nilai femininitas. Bila diperhatikan dengan seksama, wajahnya pun adalah wajah yang teduh, bersahabat dan seakan-akan selalu menyapa pada siapa saja. Meski ada yang bilang, wajahnya adalah wajah yang bodoh, namun siapa saja mengamini, bahwa ada aroma kecantikan yang terpancar.&lt;br /&gt;Ada nilai kepercayaan di sini. Wanita cantik dan mengumbar senyum menawan pada setiap orang tentunya memberi kepercayaan kepada orang yang belum mengenalnya untuk mendekati. Barbie yang feminin dan berambut panjang itu memberi pengaruh betapa dahsyatnya sebuah benda mati mampu memberi impian pada setiap wanita untuk mengidolakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari sebuah ikon budaya yang popular dewasa ini tidak sulit seiring dengan berkembangnya wacana berpikir yang disertai dengan semakin mengglobalnya acara TV dan media massa secara cepat. Bila Elvis maupun James Bond bisa dikatakan sebagai ikon budaya yang membutuhkan peng-ideal-an seorang laki-laki, maka Barbie masuk dalam wilayah ini sejajar dengan Madonna, Cher yang memiliki kaki indah maupun Mandy Moore yang mempunyai (maaf) pantat yang bagus.&lt;br /&gt;Tanpa bermaksud melecehkan pihak perempuan, namun Barbie sendiri sangat bias gender. Dalam buku ini sangat jelas dipaparkan mengenai sikap feminin yang ‘seyogyanya’ dimiliki oleh perempuan. Ikon rambut panjang terurai atau dikepang mencitrakan paparan perempuan yang ‘sebenarnya’. Keanggunan, kelembutan, pancaran mata yang tertutupi oleh rambut panjang adalah citra yang berusaha dibangun oleh Barbie. Buku ini juga menyiratkan, bahwa ikon budaya konsumerisme adalah citra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun citra memang tidak hanya diraih dengan cara kepemilikan Barbie, namun bisa juga diraih oleh produk-produk maupun personal yang lebih mengedepankan citra dan gaya. Susan Pearce (1995), seorang sosiolog menekankan bahwa secara sadar atau tidak, aktifitas mengoleksi suatu produk yang sarat dengan nilai citra adalah aktifitas mengonsumsi juga. Bila demikian halnya, maka kegiatan mengoleksi bisa berarti pula tuntunan untuk mengonsumsi sebanyak mungkin. Hal demikianlah yang menggaris bawahi ungkapan, bahwa tindakan mengoleksi barangkali malah bisa jadi merepresentasikan hakikat orientasi hidup konsumtif yang penuh gaya dan citra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping hal tersebut, Pearce juga menganggap bahwa kegiatan mengoleksi ini adalah juga menyentuh persoalan pribadi. Disadari atau tidak, tindakan mengoleksi ini seringkali menggambarkan atau malah mengembangkan jati diri mereka. Sehingga Barbie dianggap juga tidak hanya merepresentasikan ikon konsumerisme melainkan juga ikon materialisme, yakin penggunaan barang-barang hak milik untuk menandakan dan membentuk jati diri seseorang. Hal inilah yang disebut sebagai narratives of experience (narasi pengalaman). Dalam narasi ini, seseorang menceritakan pengalamannya dan menceritakan latar belakang setiap bonekanya. Narasi juga bisa mencakup lebih dari itu. Narasi pengalaman mencakup cerita pengalaman sang kolektor sebagai pemimpi dan perencana, sebagai pencatat masa lalu dan pencipta masa depan, sebagai penggemar dan pemuja, sebagai orang tua dan kakek-nenek, sebagai investor dan juga sebagai konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;            Barbie yang rasis dan seksis mungkin tidak merasakan bahwa kehadirannya mampu menciptakan budaya massa yang begitu massif. Namun produsennya senang bukan main ketika produknya mampu menguasai pasar global dan menjadi acuan permainan yang ideal untuk dikoleksi. Budaya massa demikian tentunya berangkat dari pemahaman ideologi budaya massa yang menempatkan pola kesenangan konsumsi dan konsumsi kesenangan.&lt;br /&gt;Pola tersebut (seperti halnya dalam budaya pop) ditangkap secara cepat oleh produsen, ketika masyarakat sekarang adalah masyarakat konsumer, masyarakat yang haus mengkonsumsi segala sesuatu tidak hanya object-real, namun juga objek tanda. Tanda sebagaimana citra menjadi salah satu elemen penting masyarakat konsumer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat konsumer sebagaimana Baudrillard (1983) menyebutnya sebagai masyarakat massa, maka media menciptakan ledakan yang luar biasa hingga mengalahkan realitas nyata. Inilah saat ketika objek tidak lagi dilihat manfaat atau nilai tukarnya, melainkan makna dan nilai simbolnya. Baudrillard juga lebih setuju pada kejayaan era nilai tanda dan nilai simbol yang ditopang oleh meledaknya citra dan makna oleh media massa dan perkembangan teknologi. Sesuatu tidak lagi dinilai berdasarkan manfaat atau harganya, melainkan berdasarkan prestise dan makna simbolisnya. Inilah masyarakat yang hidup dengan kemudahan dan kesejahteraan yang diberikan oleh perkembangan kapitalisme-lanjut, kemajuan ilmu dan teknologi, ledakan media serta iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini sangat mendalam kajian budayanya. Meski Barbie ditaruh sebagai ikon, namun buku ini menjelaskan panjang lebar mengenai kecenderungan sosial budaya masyarakat konsumer (bila tidak dapat dikatakan sebagai masyarakat kapitalis) yang tidak jauh berbeda dengan perilaku Barbie saat sudah masuk tas belanja di mall. Saat memutuskan membayar boneka itulah, maka kita sudah mulai masuk dalam babak peng-adegan-an Barbie yang cantik, ramping dan bermata bundar berwarna biru. Cantik…dan memang cantik! &lt;em&gt;(obw)***&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754215305888313?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754215305888313/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754215305888313&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754215305888313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754215305888313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/kisah-tentang-boneka-cantik.html' title='KISAH TENTANG BONEKA CANTIK'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754196517384891</id><published>2005-09-23T23:02:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:52:01.593-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>KREATIF VS NORMATIF: Sebuah Peperangan Imajinasi!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Berpikir kreatif merupakan cara berpikir yang menghasilkan&lt;br /&gt;sesuatu yang baru –dalam konsep, pengertian, penemuan maupun karya seni.&lt;br /&gt;(J.C. Coleman dan C.L. Hammen – 1974)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Seorang kawan bingung ketika karyanya dikritik sebagai karya desain yang normatif. Ia berargumentasi, bahwa dalam proses berkarya tersebut ia tidak berpikir apakah karyanya akan mengarah pada eksekusi secara normatif atau tidak. Namun yang terpikirkan adalah karyanya merupakan karya yang kreatif seiring dengan proses berkarya dan berpikir dalam mengolah suatu ide. Sebaliknya kawan saya yang lain justru karyanya dikritik sebagai karya yang gila, tidak bernorma dan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah estetika yang ada. Padahal argumentasinya pun tidak berbeda dengan argumentasi kawan saya yang tadi yang lebih mengedepankan proses berpikir kreatif tanpa mempertimbangkan orang lain akan menerima karyanya sebagai karya yang berestetika atau tidak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;            Di luar itu ada pula anggapan, bahwa sepanjang konsumen menerima suatu produk atau pesan tersampaikan secara efektif terlepas eksekusinya tidak ada nilai estetikanya maupun nilai kreatifitasnya, maka anggapan tersebut meng-’amin’-kan suatu pendekatan kreatif. Sedangkan ada pula yang mendikotomikan tanpa dasar pemikiran yang jelas, bahwa berpikir normatif bisa menghambat proses berpikir kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sebuah tanda tanya besar bila semua mengatasnamakan kreatif atau kreatifitas dan sebaliknya orang kreatif menolak bila dikatakan karyanya adalah karya yang normatif. Benarkah kreatif itu berlawanan dengan normatif?…uhhh….pertanyaan yang lagi-lagi butuh teori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pada Mulanya adalah Kreatif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;                Potensi untuk berkreatifitas sejak awal sudah diberikan kepada manusia. Banyak faktor yang membuat manusia harus kreatif, diantaranya adalah faktor berjuang untuk hidup. Kembali kepada pernyataan Coleman dan Hammen, berpikir kreatif tidak mengenal ruang batas maupun waktu dalam mencapai suatu pemikiran terbaru. Kang Jalaluddin Rahmat bahkan tidak bisa membedakan pemikiran orang kreatif dengan orang gila hanya karena mereka mampu berpikir di luar batas akal manusia secara kebanyakan atau dalam bahasa yang lain cara berpikirnya tidak konvensional. Bedanya, orang kreatif mampu melakukan loncatan pemikiran yang menimbulkan pencerahan atau pemecahan masalah. Sementara, orang gila tidak mampu melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dalam perspektif yang lain, misalnya dalam proses mengatasi suatu masalah, kita sering berpikir dengan cara berbeda-beda. Para psikolog dan ahli logika mengenal beberapa cara berpikir. Namun, tidak semua efektif bagi proses pemecahan masalah. Berpikir kreatif merupakan salah satu cara yang dianjurkan. Dengan cara itu, seseorang akan mampu melihat persoalan dari banyak perspektif. Pasalnya, seorang pemikir kreatif akan menghasilkan lebih banyak alternatif untuk memecahkan suatu masalah. Orang yang kreatif, pada umumnya pula mengetahui permasalahan dengan sangat baik dan disiplin, biasanya dapat melakukan sesuatu yang menyimpang dari cara-cara tradisional. Proses kreativitas melibatkan adanya ide-ide baru, berguna, dan tidak terduga tetapi dapat diimplementasikan. Sampai paragraf ini mungkin mereka yang mengaku sebagai orang kreatif akan bangga karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Namun bagaimana dengan yang berpikiran normatif?&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Pada Mulanya (juga) Normatif&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;            Berpikir normatif sering dipandang sebelah mata sebagai bentuk aturan baku atau implementasi dari suatu desain grafis seperti yang dikatakan Tony Buzan dalam The Power of Creative Intelligence (2002), bahwa uniformity atau penyeragaman dipersepsikan oleh otak sebagai monotonitas (monotonity). Bila sudah pada tahap monoton, maka aspek ketertarikan menjadi tipis. Biasanya pula mereka yang berpikiran normatif sering kali dipandang sebagai ‘tameng’ atau penghambat terhadap munculnya kreatifitas yang gila. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dalam ilmu sosiologi, normatif dipandang sebagai proses mematuhi atas aturan suatu daerah tertentu. Dalam lingkup luas, maka normatif merupakan wujud bagi sebuah kepatuhan atas batasan-batasan maupun peraturan yang dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Bila dirunut sebegitu rupa, maka antara berpikir normatif dan berpikir kreatif ada jembatan yang menghubungkan keduanya. Jadi merupakan sebuah kebohongan publik bila ada yang tidak ingin dikatakan berpikir secara normatif. Bila manusia diciptakan sedemikian rupa dengan kreatifitas sebagai modal bawaan, maka ada yang lebih dulu tercipta yaitu sebuah otak kosong (baca: kertas kosong) sebagai media mencurahkan apa saja yang ingin digali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Disinilah letak atau posisi jembatan itu sebenarnya. Jembatan yang menghubungkan antara berpikir normatif (media, aturan, batasan dan disiplin) dan berpikir kreatif (brainstorming, pemecahan masalah dan eksekusi) tercipta. Ibarat kertas gambar, maka normatif tetap ada batas gambar yang akan dipakai atau bahan apa yang sesuai dengan kertas gambar itu. Selanjutnya pikiran kreatif muncul sebagai pemecahan masalah atas segala yang ingin dituangkan dalam kertas gambar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Paradoksal kreatifitas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;            Ketika kita beramai-ramai mengerjakan sebuah karya desain grafis, maka pikiran yang tercetak utama adalah bagaimana menghasilkan karya yang kreatif atau bagaimana menghasilkan suatu karya yang harus belum pernah dibuat. Kasus menarik dalam desain sebuah iklan, misalnya adalah iklan rokok yang nyata-nyata tidak boleh menampilkan bentuk rokok atau orang yang sedang ngerokok. Jelas ini adalah lahan subur bagi kreator untuk menampilkan karyanya sebegitu rupa, bebas dan mungkin juga jauh dari kesan iklan rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Namun biasanya ketika kreator ramai-ramai menghasilkan karyanya dengan batasan yang justru membuka pintu lebar bagi ide berjalan, maka sebenarnya tanpa disadari ia sedang meniti suatu ide paritas. Hal tersebut terjadi jika tidak ada antisipasi dalam strategi komunikasinya. Bila hal ini sudah tampak, maka jangan tersinggung bila Anda sudah memasuki karya yang normatif. Itulah yang terjadi bila keterbukaan terhadap karya desain grafis sebegitu rupa hingga kebebasan dalam berimajinasi dikalahkan oleh yang namanya suasana paradoksal. Sebuah situasi imajinasi yang terbentuk oleh pertentangan antara ide dan kenyataan yang telah terjadi. Yang terlibat dalam suasana paradoksal ini adalah pemikiran alam bawah sadar yang mempersilakan imajinasi berkeliaran meski kenyataannya ada ide lain yang juga sama-sama berkeliaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Bagaimana mengantisipasinya? Beberapa ahli psikologi imajinasi seperti Jean Paul Sartre menyebutkan untuk memiliki suatu strategi. Peperangan strategi imajinasi menjadi sebegitu rupanya hingga Baudrillard menamakannya sebagai proses simulakrum. Tidak ada patokan awal, karena semua ide serasa sama meski pada kenyataannya terjadi penyaringan ide yang diasumsikan akan dipakai oleh pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Peperangan imajinasi pun tercipta karena adanya referensi desain untuk dianalisis sebegitu rupa dari hal teknis hingga filosofis, dari naratif hingga statistik. Menganalisa sedemikian rupa tentang timbal balik penikmat terhadap karya desain tidak hanya dilihat dari faktor-faktor pendukung, seperti penyampaian pesan secara verbal maupun visual, namun juga apa yang didapatkan lebih dari sebuah karya desain (value). Bila ditarik garis lurus terhadap apresiasi suatu karya desain ini, maka tetap tidak bisa ditampik suatu pendapat yang mengatakan, bahwa rasa, intuisi maupun kepekaan dalam membaca gambar dalam hal ini desain tetap menjadi faktor penunjang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            ‘Rasa’ terlahir dari suatu pengalaman seluruh panca indera dalam melatih kepekaannya dalam mengapresiasi suatu karya desain. Peperangan imajinasi akan memunculkan pemenangnya bila masing-masing kreator mampu memunculkan ‘rasa’ dalam setiap karyanya. Meski desain grafis bukan seni murni, namun disinilah letak ke-ibu-annya seni rupa yang melahirkan desain grafis dengan segala ‘kodrat’ yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Maksud dari tulisan ini sebenarnya mengerucut menuju suatu titik temu yang mempertemukan antara pemahaman keliru tentang kreatif maupun normatif. Apalah artinya karya yang dianggap kreatif, bombastis atau (mungkin) juga yang monumental bila tidak ada nilai lebih yang mampu dimunculkan dari karya desain grafis tersebut. Apalagi pemikiran normatif yang cenderung statis serba berhati-hati dalam mengungkapkan ide tidak akan ada kedalamannya bila ‘rasa’ yang dimunculkan olehnya menjadi mati.  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;            Akhirnya siapkan ide yang sudah tercampur dengan ‘rasa’ untuk membuktikan bahwa karya desain grafis Anda layak diapresiasi terlepas dari pemahaman antara kreatif maupun normatif. Karya yang normatif pun akan menjadi sesuatu yang luar biasa karena mampu menghadirkan ‘rasa’ yang tidak ditawarkan oleh ide lain&lt;em&gt;.(obw)***&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(pernah dimuat di Blank! Magazine 2003)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754196517384891?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754196517384891/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754196517384891&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754196517384891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754196517384891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/kreatif-vs-normatif-sebuah-peperangan.html' title='KREATIF VS NORMATIF: Sebuah Peperangan Imajinasi!'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754156984928737</id><published>2005-09-23T22:56:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:52:01.593-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>KOMODIFIKASI KOMIK DAN KEMUNGKINANNYA</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;          Komik dalam perkembangan kekinian menjadi suatu ikon adanya indikasi menggeliatnya kegiatan komik khususnya di Indonesia. Beberapa hal yang mendasari asumsi ini adalah menguatnya beberapa produk budaya massa yang meng-cover komik menjadi bagian dari kehidupan berkesenian sekaligus menjadi simbol budaya pop. Proses manipulasi ideologi yang tidak menempatkan ide sebagai suatu perangkat utuh dalam proses berpikir melainkan sebagai kekuatan aktif dalam perilaku sosial untuk membuat sesuatu menjadi bermakna, mulai masuk dalam kehidupan komik. Dengan kata lain, kapitalisasi komik dilihat sebagai upaya untuk menumbuhkan sikap konsumtif terhadap komik yang sudah dimodifikasi sebegitu rupa. Adakah hal ini menjadi semakin bagus dalam kehidupan dunia perkomikan ataukah malah hanya ingin mendapatkan keuntungan dari komik yang sedang tumbuh kembali? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;            Karena hidup dalam dunia yang serba realistis dengan segala teori probabilitasnya, maka saya mencoba berasumsi dengan segala kemungkinan-kemungkinan berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kemungkinan Kesatu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;            Ketika komik berkembang maka berbanding terbalik dengan hal itu adalah komik menjadi populer sebagai media komunikasi visual yang mengkomunikasikan ide sebagai bagian cerita yang berlatar belakang secara objektif maupun subjektif. Di Jepang, sebagaimana dengan karakter budaya di wilayah lain dikenal adanya pop culture yang memfasilitasi high art. Di negara tersebut, komik sudah bisa dimasukkan ke wilayah high art ini, terlepas dari apresiasi masyarakat yang tinggi terhadap komik sebagai bagian dari seni, maka komik dipandang sebagai media kerja yang dihargai sejajar dengan pekerjaan lain. Pola kapitalisasi demikian tentunya menguntungkan, mengingat di Indonesia sendiri komik belum bisa menembus hal seperti itu. Dari beberapa penerbitan komik, hanya beberapa saja yang tumbuh dan berkembang. Sisanya komik dikerjakan secara studio dan pendistribusian yang indie label.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;            Bertolak dari hal tersebut, maka tidakkah sesungguhnya komik di Indonesia ini yang seharusnya masuk menjadi ‘seni tinggi’? Asumsi saya, masyarakat sudah terpatron untuk mengenali komik sebagai media yang tidak lumrah. Ia ‘mungkin’ dikalahkan oleh media komunikasi visual lain, selain masyarakat yang tidak mau belajar komik sama dengan ketika mereka belajar desain grafis, misalnya.  Karena hal yang demikian, maka komodifikasi komik menjadi sah ketika melihat masyarakat yang pasif dalam mengapresiasi komik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kemungkinan Kedua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;            Komodifikasi komik dalam segala atribut fesyen, video klip serta merchandising sebagai upaya untuk mengangkat komik sebagai media rupa yang sama dengan media rupa lain. Studio-studio komik sering memakai komodifikasi ini tidak hanya sebagai sarana mempublikasikan komiknya agar laku, namun jauh dari hal itu sebagai upaya untuk menyadarkan masyarakat, bahwa komik ‘masih hidup’. Ada beberapa karya komik yang absurd (biasanya disebut komik underground) yang jauh dari pakem komik, sehingga segala bentuk komodifikasinyapun mengarah pada absurditas. Entah itu teknik cetak cover komik pada kaus hingga bahan kaus itu sendiri yang absurd dan terkesan ‘tidak bakal laku di pasaran’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Di sinilah terletak nuansa paradoks antara kebutuhan pasar dengan kebutuhan penyaluran ideologi. Sistem kapitalisasi yang menguat pada pasar seakan memandang sebelah mata, hanya komunitas dengan ‘seni yang tinggi’ tadilah yang mampu menyerap maksud dari komikus maupun penerbit komik indie yang sangat absurd itu. Sehingga peranan komodifikasi komik di sini hanya sebatas pencerahan wacana dan bukan pada sistem tata nilai global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Yang saya sebut komunitas dengan seni yang tinggi tadi kemungkinannya akan merasa bangga bila memakai produk hasil komodifikasi komik indie ketimbang memakai komodifikasi komik yang sudah populer di masyarakat, misalnya Spiderman, Spawn maupun Superman. Dalam kata lain, saya berasumsi bahwa komodifikasi menjadi semacam gaya hidup yang diadu dengan selera pasar. Hukumnya sama dengan pemakaian produk hasil distro yang tidak mudah ditemui dipakai oleh ‘anak-anak mall’. Hanya yang mengerti tentang peperangan idelah yang bakal mengkonsumsi produk seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kemungkinan Ketiga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;            Kapitalisasi komik berlanjut hingga komodifikasi untuk meraup keuntungan. Entah berapa banyak kaus Spiderman yang beredar di pasaran atau miniatur Spawn yang dijual di mall-mall dengan harga yang melambung tinggi dengan tujuan tidak untuk mempopulerkan komik-komik tersebut, namun lebih ke produktifitas yang mampu dibeli dari produsen-produsen produk komodifikasi. Asumsi saya, komodifikasi menjadi semacam strategi mutualisme antara komikus dan pabrik pembuat produk yang diambil dari tokoh komik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dalam sehari, saya bisa menjumpai banyaknya kaus bergambar Tintin berkeliaran di mall-mall dan dipakai oleh remaja penggila fesyen. Seingat saya, Tintin sendiri sudah saya baca habis waktu saya duduk di bangku SLTP (dulu SMP), namun justru sekarang Tintin ‘hidup’. Jangan-jangan remaja sekarang hanya tahu fenomenalnya Tintin, namun tidak membaca tuntas komik itu. Kemungkinannya adalah tidak ada korelasi antara komodifikasi dengan semakin menyadarnya masyarakat terhadap komik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Komodifikasi tumbuh tidak berdasarkan diterimanya ide, namun seberapa besar pasar melihat keuntungan di balik komik yang sempat jadi bulan-bulanan stigma negatif masyarakat Indonesia. Hal ini sama dengan menjamurnya kaus bergambar Che Guevara. Bila masyarakat tahu, bahwa Che adalah tokoh komunis Kuba belum tentu remaja yang diuntungkan dan dibesarkan oleh sistem kapitalisme sempit mau memakainya. Mereka memakai karena idola mereka, misalnya Piyu Padi memakai kaus itu, maka dipakailah kaus bergambar Che Guevara meski gambar kaus yang kita lihat dipakai Piyu waktu penganugerahan Anugerah Musik Indonesia 2003 kemarin, bintang pada baretnya Che terlihat besar (?). Hukum sederhana ini mungkin kelewat sederhana, namun saya beranggapan bahwa komodifikasi dalam komik bisa membuat komik itu sendiri akan runtuh diterpa oleh keinginan-keinginan pihak peraup keuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Hal tersebut tidaklah salah mengingat ada simbiosis mutualisme di dalamnya. Hanya pengawasan dan ideologi yang teridealisasilah yang mampu menghadang keinginan ‘menyesatkan’ itu.        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kemungkinan di Satu Sisi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;            Yang saya ungkapkan tentang kemungkinan-kemungkinan bila komodifikasi dalam komik sangat menggila di atas sebenarnya lebih kepada menyelamatkan ideologi yang susah dikembangkan namun terrampas begitu saja oleh kepentingan pasar yang tidak tahu arah dan tujuannya. Mengembangkan komik tidak melulu hanya melalui komodifikasi, meskipun hal itu penting sebagai bagian strategi penjualan dan distribusi atau hanya ‘memotret gaya komik’ dan diaplikasikan ke media lain. Namun yang lebih penting adalah memperkaya komik di Indonesia melalui jumlah karya yang diterbitkan oleh ‘orang Indonesia’ maupun penyelenggaraan pameran buku komik serta mengenalkan studio-studio komik dirasa lebih kena impactnya ketimbang mengkomodifikasi namun membutakan masyarakat dari komik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Di tingkat Nasional ada Pekan Komik dan Animasi Nasional sedangkan untuk tingkat institusi seperti Universitas Negeri Malang ada Pekan Komik Indonesia dan di Universitas Kristen Petra ada Pekan Komik Nasional sudah menunjukkan gejala positif. Agenda tetap dan komodifikasi yang mengikut penyelenggaraan itulah yang diharapkan bukan komodifikasi untuk selanjutnya baru penyadaran&lt;em&gt;.(obw)***&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(ditulis dalam rangka akan diselenggarakannya Pekan Komik Nasional 2 di Universitas Kristen Petra, Surabaya bulan November 2005)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754156984928737?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754156984928737/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754156984928737&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754156984928737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754156984928737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/komodifikasi-komik-dan-kemungkinannya.html' title='KOMODIFIKASI KOMIK DAN KEMUNGKINANNYA'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754133895301906</id><published>2005-09-23T22:53:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:54:17.917-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'>UNIVERSITAS NONGKRONG INDONESIA</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;oleh Beng Rahadian (pekerja seni, komikus, kartunis)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Saat saya masih berada di sekolah menengah kejuruan, saya termasuk siswa yang paling ngotot buat nerusin sekolah ke perguruan tinggi. Dimana sebagian besar siswa lainnya lebih memilih untuk terus bekerja. Apalagi diantara guru pembimbing waktu itu ada yang mendukung secara terbuka, jika lulusan sekolah menengah kejuruan itu memang “dimasak” untuk siap saji menjadi pekerja tingkat madya.&lt;br /&gt;Menjelang akhir masa studi, waktu itu saya masih bekerja freelance di Animik World, sebuah studio komik dan animasi di Bandung, disana kawan-kawan saya sekerjaan banyak yang memberikan argumen tentang: “Ngapain sih nerusin sekolah segala, tokh dalam dunia kerja juga sesungguhnya kita melakukan proses studi juga”. Ah saya tetep ngotot, pokoknya kuliah! dan akhirnya memilih kampus senirupa di Jokja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada tendensi apa-apa masuk ke perguruan tinggi bagi saya, apalagi memimpikan jadi sarjana atau seniman. Ikut ospek, kuliah, ikut kegiatan…dan bleng!&lt;br /&gt;hingga suatu saat  beginilah ceritanya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang membuat kita pandai dalam perkuliahan ini bukanlah karena kurikulum, tapi karena lingkungannya..” Kata-kata itu keluar dari mulut Mikke Susanto mahasiswa senior saat itu (sekarang aktivis Lingkar Studi), sebagai penutup dalam sebuah obrolan ringan di halaman kampus,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga detik-detik saya mau lulus kata-kata dalam kesimpulan itu terus membekas, sehingga saya meluangkan waktu khusus untuk mempelajarinya, pertanyaan dasarnya adalah benarkah Lingkungan lebih berperan daripada kurikulum? Kalau benar, lingkungan yang mana? Apakah dengan nongkrong terus dikampus tanpa kuliah bisa jadi “pinter” dibandingkan dengan kuliah tanpa nongkrong…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya keduanya adalah bentuk kurikulum, hanya formal dan non formal itu saja masalahnya,  dan barangkali nilai yang paling normal adalah: kuliah dan nongkrong jalan saling mengisi. Pertanyaan yang sepatutnya diajukan adalah bagaimana menciptakan nongkrong yang berkualitas? &lt;br /&gt;Kualitas nongkrong ini memang masih relevan untuk dipertanyakan, karena disinilah titik pangkal persoalannya. Pada titik kualitas nongkrong inilah segala aktivitas bermula, dari kriminalitas, tawuran, seminar, sampai demonstrasi perubahan negara bisa tercipta. And the problem is, hanya mahasiswa sendirilah yang mampu menguasai medan kampusnya, hanya merekalah yang mampu mengkondisikan lingkungannya untuk menjadi konstruktif atau destruktif.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Sedikit tentang Nongkrong&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Budaya nongkrong barangkali sudah menjadi keseharian budaya manusia dimanapun, dari nongkrong pinggir jalan, poskamling atau dimanapun yang memungkinkan sebuah komunitas bisa berkumpul, hingga dewasa ini nongkrong pun telah menjadi komoditi dan mulai mengenal kelas, dari nongkrong di warung tenda, kedai kopi sampai café di mall atau café live music, mereka tidak hanya menjual minum atau makanan, namun mereka menjual suasana.&lt;br /&gt;Dibarat, sejak era wild west, masyarakat Texas mengenal istilah bar tempat nongkrong para cowboy, di dalam bar selain tersedia meja kursi untuk berkumpul atau kelompok, juga meja bartender yang selain menjadi tempat menyediakan minum juga menjadi tempat komunikasi bartender dengan pengunjung secara personal. Aktivitas ini berlaku juga di Indonesia, seperti kedai kopi di kampung Batak, setiap pagi laki-laki berkumpul di kedai kopi untuk minum teh sebelum mereka pergi menggarap sawah, dalam kumpulan itu komunikasi terjadi secara terbuka dan interaktif, karena penjaga kedai tidak menyediakan tempat khusus seperti bar untuk melayani komunikasi personal, kumpulan ini terjadi juga di sore harinya saat mereka kembali dari sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga di Jogja dan Solo, aktivitas yang sama terjadi di malam hari, perbedaannya hanya terletak pada kondisi pengunjungnya, jika di Batak seperti yang saya tahu, kecenderungan pengunjung yang nongkrong di kedai adalah orang dari komunitas yang sama, yaitu penduduk kampung dimana kedai itu dibuka. Nah di Jogja, pengunjung relatif berubah atau setidaknya selalu ada pengunjung yang baru, ini berkait sebab dengan kondisi sosiografis dimana tempat nongkrong itu dibuka. Jogja adalah wilayah Urban.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kuliah nongkrong&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Hingga saya mengkhayalkan seharusnya perguruan tinggi itu adalah kelas kuliah dengan suasana nongkrong, wah kayaknya keren banget tuh! Saya ingin menghapuskan mitos jika Dosen adalah satu-satunya sumber kebenaran (pedagogis), taruhlah dosen itu tahu banyak hal dan pandai berbicara, namun dalam jaman dimana information is the power, maka siapapun bisa menjadi terdepan jika menguasai informasi, saya tidak sedang merobohkan hirarkis sistem pendidikan dalam kelas, hanya saya ingin menempatkan sang Dosen itu lebih berfungsi sebagai moderator of sharing in the class, dimana kelas kuliahpun tidak harus berada didalam ruangan, karena ruangan sudah mati untuk sebuah pendidikan. Dalam posisi ini kita akan menemukan apa yang diinginkan dalam reformasi pendidikan yang pernah tercetus beberapa tahun lalu dari paradigma teacher oriented menjadi student oriented.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah saya terlanjur lulus, jika saya masih diberikan kesempatan sekali lagi kuliah, saya mendambakan suasana kelas seperti nongkrong, hanya ada adaptasi etika yang bisa disepakati bersama, seperti no smoking misalnya, posisi peserta kuliah melingkar salng berhadapan, boleh membawa minum dan makanan ringan sendiri, suasana dikondisikan santai namun konsentrasi tetap terjaga,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika begini keadaannya, mungkin saya nggak akan mempercepat wisuda.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754133895301906?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754133895301906/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754133895301906&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754133895301906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754133895301906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/universitas-nongkrong-indonesia.html' title='UNIVERSITAS NONGKRONG INDONESIA'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754099258116716</id><published>2005-09-23T22:47:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:54:17.917-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'>MEMBANGUN KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Edward T. Hall dalam bukunya yang berjudul &lt;em&gt;The Silent Language (1959)&lt;/em&gt; mengatakan, bahwa kebudayaan adalah komunikasi dan komunikasi adalah kebudayaan. Pendapat tersebut menandakan suatu komunitas manusia yang tidak bisa terbangun tanpa adanya komunikasi. Budaya sendiri tercipta karena komunikasi yang juga terbangun dari komunitas manusia. Alam tanda dan berbagai produk konsumsi manusia berawal dari cara pandang bagaimana sesuatu bisa dikomunikasikan.&lt;br /&gt;Pernyataan Edward di atas juga menyiratkan adanya pergerakan secara kontinum dari nilai kepercayaan kepada perasaan dan perilaku tertentu. Perilaku tersebut diyakini juga model untuk mewakili norma-norma budaya selain pola perilaku yang dihasilkan oleh interaksi sosial.&lt;br /&gt;Sementara itu persinggungan budaya yang diakibatkan oleh kesalahan persepsi, memori dan motivasi dari dua atau lebih budaya dari berbagai etnik dan negara berlanjut kepada sistem yang dapat merusak kehidupan itu sendiri. Secara psikologis faktor-faktor yang menyebabkan konflik dan permusuhan antarbudaya diakibatkan oleh tidak dimengertinya dimensi-dimensi psikologis yang ada pada komunikasi. Dr. Alo Liliweri (2003) mencatat, bahwa pendekatan pada konsep diri yang benar dan persepsi diri atas diri suatu komunitas tidak terbangun dengan baik.&lt;br /&gt;Hitler dengan Nazi-nya bisa merusak kehidupan yang dibangun hanya karena memakai konsep diri yang salah tentang bangsa Jerman. Parahnya lagi hal tersebut dipaksakan pada negara lain dengan memandang negara disekeliling mereka bagaikan ‘bawahan’ yang dipakai oleh bangsa Arya yang menjadi ‘stereotip’ dari bangsa Jerman. Begitu pula dengan Jepang yang memandang dirinya sebagai saudara tua dari Indonesia. Tentu saja hal ini berakibat pada persinggungan budaya yang berbeda. Untuk kasus Jepang dengan Indonesia, salah satu kasus ini merupakan kasus yang menarik, karena keduanya berasal dari budaya timur yang dekat secara budaya leluhur, maupun dekat secara adat istiadat.&lt;br /&gt;Konsepsi diri atau persepsi atas diri manusia dalam suatu komunitas etnik maupun komunitas negara menjadi penting dan sangat relevan dalam mengeliminir konflik serta membangun hubungan yang baik antar budaya yang berbeda maupun negara yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dari konsep diri, harga diri ke persepsi diri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Beberapa ahli sosial sering mengemukakan pendapatnya tentang konsep diri sebagai kesimpulan yang ditarik dari diri sendiri (baca: budaya sendiri maupun negara). Konsep diri ini muncul dari apa yang nampak dari diri sendiri, apa yang baik sebagai kelebihan maupun apa yang kurang sebagai kelemahan. Berbagai pengalaman yang mengerikan pada awal-awal peperangan dalam mengekspansi negara lain dan bersifat menjajah, berawal dari konsep diri yang mengutamakan pada kelebihannya dan bukan pada kelemahan mereka.&lt;br /&gt;Dalam hal ini, maka patut dipertanyakan lagi konsep diri tersebut terbangun dari motivasi seperti apa? Komunikasi sebagai tujuan yang bersifat purposive bagi tujuan memenuhi sebuah kebutuhan ataukah memang membangun komunikasi atas dasar sosialisasi, integrasi atau menyenangkan orang.&lt;br /&gt;Konsep diri yang telah terbangun biasanya mempengaruhi persepsi diri. Bila konsep diri sudah salah, maka janganlah heran bila persepsi orang terhadap budaya yang berbeda menjadi bias. Budaya tidak lagi dianggap menjadi kekayaan manusia dalam mengeksplorasi pikirannya, namun budaya lain menjadi musuh yang harus dikalahkan atau malahan berpotensi untuk dikuasai sebagai ambisi memperbudak.&lt;br /&gt;Harga diri &lt;em&gt;(self esteem)&lt;/em&gt; juga menentukan efektifitas komunikasi antarbudaya. Begitu pula bagaimana memandang budaya lain dilihat dari sudut pandang harga diri. Pengalaman juga menunjukkan betapa harga diri yang berlebihan menjadikan komunikasi tidak efektif. Sebaliknya rendah diri juga mengakibatkan komunikasi tidak efektif, karena dapat menghambat komunikasi antarbudaya. Ambiguitas antara mempertahankan identitas individu dan identitas sosial ketika harus berkomunikasi dengan budaya lain sering dihadapi ketika komunikasi tidak berjalan dengan efektif.&lt;br /&gt;Konsep diri, harga diri dan persepsi biasanya menjadi satu kesatuan yang sulit dipisahkan. Memandang diri apa adanya serta memandang sekelilingnya sebagai pribadi atau komunitas yang patut diintegrasi menjadikan komunikasi bisa efektif dilakukan bila ada kesamaan motivasi dalam berkomunikasi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Unsur Penting Komunikasi Budaya Bi-Multilateral&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Membangun komunikasi antar-budaya, antar-ras, antar-etnik maupun antar-negara yang berbeda dalam apapun juga sukar dilakukan tanpa memahami karakter dan unsur-unsur penting yang terdapat dalam kebudayaan. Dalam kenyataan persentuhan nilai-nilai budaya sebagai manifestasi dinamika kebudayaan tidak selamanya berjalan secara mulus. Permasalahan silang budaya dalam masyarakat majemuk (heterogen) dan jamak (pluralistis) seringkali bersumber dari masalah komunikasi, kesenjangan tingkat pengetahuan, status sosial, geografis, adat kebiasaan dapat merupakan kendala bagi tercapainya suatu konsensus yang perlu disepakati dan selanjutnya ditaati secara luas.&lt;br /&gt;Masalah yang terpenting ketika komunikasi antarbudaya dalam hubungan bilateral maupun multilateral terjadi adalah bagaimana mampu mengolah data, deskripsi dan referensial yang tepat mengenai stereotip. Memanajerial sebuah stereotip yang tidak tepat bisa berakibat pada pertentangan horizontal maupun memancing permusuhan di kemudian hari. Thailand dan Myanmar adalah salah satu kasus yang terjadi pada waktu yang lalu. Saat itu salah seorang artis diberitakan pernah menyatakan, bahwa salah satu candi kenamaan dunia di Myanmar sebenarnya adalah milik Thailand. Pernyataaan demikian tentu saja menyulut pertikaian di kedua negara.&lt;br /&gt;Kasus di atas bermula dari penyetereotipan yang keliru atas sesama Budha. Maksud hati memiliki bersama candi Budha tersebut, namun karena mengatasnamakan kedaulatan negara, maka pertikaian pun tidak dapat dihindari.&lt;br /&gt;Masalah lain atas komunikasi yang tidak efektif adalah tidak mau tahu terhadap sistem maupun kebiasaan yang belum tentu sama. Bagi Irak mengakui Saddam Hussein sebagai presiden mereka, tentu sah secara tata aturan kenegaraan mereka. Namun tidak demikian bagi Amerika. Dengan mengultimatum Irak agar angkat kaki dari Irak yang notabene negara Sadam sendiri, maka Bush bisa dikatakan bukan komunikator yang baik. Tidak ada komunikasi yang efektif di sini. Budaya pun berbeda jauh dengan Amerika. Semangat militan, nasionalis tinggi seperti kebanyakan negara Asia lainnyalah yang seharusnya menjadi pertimbangan khusus Amerika sebelum berperang dengan Irak. Tampak jelas di sini, bahwa budaya kedua negara dalam tata cara kenegaraan sudah berbeda, maka pendekatan yang efektif seharusnya pembicaraan empat mata antar presiden tadi dalam membahas permasalahan keduanya tanpa mengesampingkan nilai-nilai budaya setempat.&lt;br /&gt;Hal lain yang patut diperhatikan dalam komunikasi budaya multilateral adalah komunikasi yang menurut Jurgen Habermas dalam kritiknya terhadap teori rasionalisasi Max Weber berpendapat, bahwa untuk bisa masuk dalam komunitas yang berlainan, maka diperlukan tindakan komunikatif (kommunikativen handeln). Komunikatif di sini dimaksudkan sebagai tindakan yang mampu memberi motivasi, energi bagi pihak lain, menyenangkan serta menginformasikan tanpa adanya kepentingan secara sepihak&lt;em&gt;.(obw)***&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;(pernah diterbitkan di www.titikberat.com)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754099258116716?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754099258116716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754099258116716&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754099258116716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754099258116716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/membangun-komunikasi-antar-budaya.html' title='MEMBANGUN KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754077339992544</id><published>2005-09-23T22:44:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:54:17.918-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Justice'/><title type='text'>MEMAHAMI BAHASA CINTA SEBAGAI SIMBOL BUDAYA DAN POLITIK</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Sebuah cinta pada sepasang manusia tidak habis-habisnya dibahas. Ia selalu ada dalam setiap media dan menjadikan segala media yang ada di muka bumi ini menjadi sempit karenanya. Cinta pula yang menyebabkan efek psikologis manusia berubah dari yang realistis menjadi sulit untuk dinalar. Kecenderungan yang ada pun menjadi sulit untuk membedakan antara kenyataan dengan yang tidak. Akhirnya, sebuah hyper-realis yang terbentuk dari makna cinta menjadi bernilai harganya.&lt;br /&gt;            Sisi lain cinta sering dimaknai orang sebagai sebuah misteri. Kelompok musik Dewa mendefinisikan cinta sebagai sebuah mistikus. Sementara Khalil Gibran menyebutkan cinta sebagai bagian dari kerja yang telah mengejawantah. Titik Puspa-pun menyebutkan bahwa cinta itu berjuta rasanya. Sedangkan Freud mengungkapkan, bahwa cinta itu bagian dari seksualitas dan beriringan dengan afeksi dan sensualitas (Freud dalam Osborne, 2000).&lt;br /&gt;            Banyak kalimat yang mewarnai keindahan sebuah cinta. Namun apa yang terjadi bila cinta telah menjadi rusak? Tidak ada istilah lain selain kepedihan, luka hati, pengkhianatan, sakit dan kosakata lain yang juga tidak kalah banyaknya. Banyak peristiwa yang berakhir dengan darah.&lt;br /&gt;Kemudian yang muncul adalah cinta itu sebuah nyawa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;            Dalam perjalanan bangsa ini, sudah banyak kata cinta yang ditebarkan. Cinta yang semu maupun cinta yang memerlukan pengorbanan ada dalam sejarah bangsa ini. Ikon-ikon budaya dalam cinta pun berkembang seiring dengan semakin menjamurnya televisi-televisi swasta dan media cetak. Berita tentang kenaikan harga BBM, TDL dan telepon bukanlah monopoli beberapa orang atau daerah saja. Berbanding terbalik dengan hal tersebut, maka rasa cinta pun menjadi hambar. Rasanya kita sedang menghadapi cinta semu. Hanya karena kenaikan tiga komponen itulah cinta yang terjalin bagaikan cinta monyet.&lt;br /&gt;            Ikrar percintaan yang terjalin pun - meski disaksikan oleh angin, bulan dan petir – menjadi semacam sampah. Bukan hanya Dian Sastrowardoyo saja yang pernah menikmati rasanya jatuh cinta sampai menangis. Semua orang pun pernah mengalami. Jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap salah satu kontestan Pemilu tidak bisa menjamin akan adanya kekekalan cinta (everlasting love). Romantisme Megawati pada awal perjuangan partainya pun hanyalah cinta sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta yang Pudar&lt;br /&gt;            Cinta romantis biasanya lebih bisa diterima oleh sosial ketika rasa itu sedang meletup. Kita tidak lagi merasa aneh ketika ada dua orang berlainan jenis bergandengan tangan. Kita juga tidak merasa risih ketika di sinetron ada adegan yang memperlihatkan cinta kepada kekasihnya dengan puisi yang mendayu-dayu. Bahkan di sebuah iklan dipertunjukkan bagaimana seseorang rela menunggu kekasihnya dengan berbasah kuyup karena hujan. Cinta romantis sering mengimajinasikan situasi yang ideal maupun pembebasan imajinasi yang nakal namun penuh mesra.&lt;br /&gt;            Ketika di awal hubungan mesra antara rakyat dan pemimpinnya, entah itu di jaman Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur dan Megawati, maka yang terjadi adalah cinta dengan harapan yang berlebih. Namun dengan harapan yang berlebih itulah sebenarnya kita berada dalam kondisi yang ketakutan. Ungkapan-ungkapan, seperti :”Benarkah kamu mencintai saya?” atau “Kamu tidak akan meninggalkanku, bukan?” adalah bentuk ketakutan bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Wajar ketika seseorang menikmati keadaan ini, karena memang situasi yang terbentuk adalah cinta  yang romantis. Cinta romantis merupakan bukti dari  adanya kondisi rasa kesepian yang sangat mendalam (Fromm dalam Sawitri, 2002).&lt;br /&gt;            Impian-impian indah yang menjulang tinggi ketika kepemimpinan berganti sekali lagi adalah sesuatu yang wajar. Yang tidak wajar adalah ketika cinta romantis itu menutup pintu hati, pintu mata dan pintu telinga atas kejadian-kejadian yang sebenarnya bisa membuat kita marah namun kita membiarkan dengan alasan yang tidak masuk akal dan merasa kita adalah pasangan jiwa.&lt;br /&gt;            Kini, ketika Megawati mengumumkan kenaikan harga tiga komponen pokok, yaitu BBM, TDL dan telepon, maka yang terjadi adalah rasa kecewa. Dalam proses menerima rasa cinta, ketika terjadi hal yang tidak mengenakkan hati -apalagi terjadi perselingkuhan-, maka yang terbentuk adalah memudarnya cinta romantis. Menurunnya rasa cinta ini mengakibatkan cara berpikir dan cara pandang terhadap sesuatu kembali realistis, bahkan tidak jarang kondisi saling menyalahkan pun terjadi. Biasanya pula dalam kondisi dimana rasa cinta ini pudar, maka ketidaksepakatan sering terjadi, karena mulai diintervensi oleh rasa yang namanya tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah Cinta Sejati?&lt;br /&gt;            Cinta sejati sering dianggap sebagai bentuk penyerahan diri dan mengabdi pada pasangan. Pendapat yang demikian tentunya keliru. Begitu pula dengan anggapan yang menyatakan, bahwa cinta sejati itu adalah menyenangkan pasangan. Bukan begitu makna dari cinta sejati.&lt;br /&gt;            Cinta sejati adalah keluarnya penghargaan, kebanggaan dan penerimaan yang tulus untuk sang kekasih. Ruh dari cinta sejati adalah saling rendah hati, sabar dan menanggung segala sesuatu secara bersama-sama. Tidak ada yang dimenangkan maupun dikalahkan ketika hubungan cinta sejati sedang terjadi.&lt;br /&gt;            Nah, disinilah pemerintah selalu terjebak dengan hakekat nasionalisme ataupun patriotisme. Mereka  menyangka, bahwa rakyat selalu memahami apa yang menjadi kemauan pemerintah. Nasionalisme dipandang sebagai sikap pengorbanan rakyat terhadap negaranya atau cinta yang teramat dalam terhadap negaranya. Pandangan yang sempit ini sama dengan pencampuradukan cinta sejati dan cinta romantis.&lt;br /&gt;            Ketika rakyat benar-benar menerima pemerintah dengan apa adanya, sebaliknya ada usaha perselingkuhan yang bisa menyakiti hati rakyat. Perselingkuhan itu bisa saja terjadi ketika pemerintah mengampuni konglomerat bermasalah yang mengajak damai bagaikan sepasang kekasih yang baru saja berpisah. Bisa pula ketika pemerintah bermesraan kembali dengan masa lalu yang telah mengkhianatinya dan rakyat terlupakan.&lt;br /&gt;            Pemaparan di atas kiranya juga dapat dijadikan inspirator bagi insan bercinta maupun mereka yang terlanjur cinta pada sebuah kekuasaan. Dalam sudut pandang yang lain, maka  Iwan Fals menjadikan cinta bagai sebuah cerita komik! Bukankah begitu makna cinta sejati? Ia selalu ada ketika dalam situasi apapun. Bukan hanya pemerintah yang enak sedangkan rakyatnya harus makan dengan irit agar tidak membuang banyak minyak tanah untuk sebuah kompor. &lt;em&gt;(obw)***&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(ditulis ketika Megawati semasa menjadi Presiden hendak menaikkan harga BBM. Tulisan ini sekedar refleksi ketika Susilo Bambang Yudhoyono pun mempunyai rencana yang sama yang katanya per-1 Oktober 2005 hendak dinaikkan. )&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754077339992544?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754077339992544/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754077339992544&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754077339992544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754077339992544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/memahami-bahasa-cinta-sebagai-simbol.html' title='MEMAHAMI BAHASA CINTA SEBAGAI SIMBOL BUDAYA DAN POLITIK'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754034272137851</id><published>2005-09-23T22:36:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:52:01.594-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visual Culture'/><title type='text'>Ketika Agama Tidak Lagi Ber-Tuhan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;            Suatu malam ketika si kecil sedang menonton TV, ia mendekati bapaknya yang sedang membaca koran sambil menunjuk sepatu yang sedang diiklankan. Ia merengek sambil menentukan syarat, yaitu sepatu itu harus sama dengan iklannya di TV. Tidak lama kemudian, kakak perempuannya tidak mau kalah, sambil menunjukkan iklan baju di majalah remaja kepada bapaknya, ia juga minta baju baru beserta asesorisnya. Pemandangan demikian tidak akan lengkap bila tidak ada adu argumentasi antara orang tua dengan anak. Namun itu pun tidak cukup, situasi ini semakin ramai saja dengan debat keluarga antara bapak dan ibu mengenai pengeluaran yang membengkak.&lt;br /&gt;            Pemandangan di atas kerap terjadi bahkan tidak hanya di Indonesia saja, namun juga di negara belahan dunia lainnya. Mendekati hari raya apakah itu Idul Fitri pada bulan ini atau Natal pada bulan Desember nanti, pemandangan keluarga seperti di atas akan kerap ditemui. Tidak sekedar menemui ruang dimana diskusi keluarga akan berlangsung, namun juga akan ditemui nilai dari faktor konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi ketika keputusan diambil, maka akan menyisakan pula pelajaran untuk menerima kekalahan atau bahkan mungkin pula mengobral kemampuan.&lt;br /&gt;            Tidaklah salah, bila produk dari budaya konsumerisme itu ada, toh itu pun juga dipicu oleh media massa beserta iklan yang menempelnya. Tidak juga oleh media massa saja, namun juga kejelian investor untuk menanamkan modalnya dalam bentuk mall, supermarket sampai hypermarket yang kini juga merambah di kota-kota kecil di daerah.&lt;br /&gt;            Produk massa yang dikeluarkan untuk membentuk pola konsumerisme tersebut diyakini membentuk pula nilai simbolik yang sedang dikejar oleh masyarakat konsumer. Dengan demikian apakah Tuhan yang kekal tersebut bisa tergantikan oleh ‘tuhan’ yang kini sedang dikejar pula oleh manusia?&lt;br /&gt;            Baudrillard (1993), pemikir postmodernisme yang pernah membantah pemikiran Karl Marx tentang analisis masyarakat produksi, meyakini bahwa nilai-guna dan nilai-tukar tidak lagi berguna. Baudrillard lebih setuju pada era kejayaan nilai-tanda dan nilai-simbol yang ditopang oleh meledaknya citra dan makna oleh media massa dan perkembangan teknologi. Sesuatu tidak lagi dinilai berdasarkan manfaat dan harganya tetapi oleh prestise dan makna simbolisnya.&lt;br /&gt;            Teori mengenai masyarakat produksi di atas tentu berbeda dengan Karl Marx yang berpendapat lewat konsep-konsep nilai guna (use-value), nilai tukar (exchange-value), fetishism of commodity, social class, teori gift miliknya Marcel Mauss dan teori expenditure-nya Georges Bataille.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Agama dan Fesyen&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;            Hari-hari menjelang hari raya biasanya menjadi lahan empuk bagi pengiklan untuk mengiklankan produknya di media. Di tengah-tengah masih diperdengarkannya ayat-ayat suci Al-Quran saat bersantap buka maupun sahur, iklan tidak henti-hentinya membombardir pikiran pemirsa dengan aneka ragam produk beserta kemewahannya. Nilai-nilai simbolik dalam produk pun terungkapkan melalui copy maupun visual yang mempengaruhi emosi massa. Dalam hal ini antitesis tentang perubahan perilaku agamis ke perilaku konsumeristis membentuk suatu tingkatan phenotypal (tingkatan pembentukan tubuh). Tubuh direduksi sedemikian rupa selain menerima akidah dan kaidah dalam hukum agama juga ‘dipaksa’ untuk menerima replikasi dalam beragama yang sudah berubah wujud menjadi sebuah fesyen.&lt;br /&gt;            Oleh karena itulah, tidak mengherankan bila agama pun bisa dijadikan fesyen. Orang baru beramai-ramai mengingat Tuhan ketika bulan Ramadhan tiba. Selebritis juga baru ingat fakir miskin dan anak-anak terlantar ketika hal itu juga mendongkrak brand image-nya yang ditayangkan program infotainment di TV. Masjid pun terpenuhi kapasitasnya dan orang mulai beramai-ramai berdzikir. Hal demikian pasti akan terulang lagi ketika bulan Desember nanti Natal dirayakan oleh umat Nasrani. Umat yang dulunya jarang ke gereja segera akan mengenakan kembali baju agamanya untuk mengejar fesyen yang sedang berjalan di hari Natal.&lt;br /&gt;            Pilihan tersebut tidaklah salah dalam perilaku berbudaya apalagi memang begitulah adanya manusia dalam membentuk tingkatan phenotypal tadi yang mereplikasi agama dalam pikiran mereka meskipun bukan secara hakiki mereplikasi secara berurutan dengan pas urutan nukleotida mereka. Fenomena fesyen pada subkultur memberi sebuah tanda, yaitu sebagai upaya diferensiasi atau membangun identitas diri dan sebagai satu bentuk daur ulang citra-citra. Hal inilah yang mendukung terjadinya phenotypal pada hari-hari menjelang hari raya.&lt;br /&gt;            Makna simbolik dan prestise yang bersembunyi di balik barcode harga menjadi suatu subjek yang mengeksternalisasikan dirinya melalui penciptaan objek-objek untuk menghasilkan diferensiasi dan kemudian menginternalisasikan nilai-nilai ciptaannya melalui proses sublasi atau pemberian pengakuan. Di sinilah proses sosial masyarakat akan nampak pada budaya bersalam-salaman yang tanpa apriori akan terjadi saling memberi pengakuan di balik produk yang dikenakan di samping secara tulus bermaaf-maafan.&lt;br /&gt;            Arus mudik juga akan menjadi bagian dari objek konsumsi sebagai suatu sistem diferensiasi yang terdiri dari sistem pembentukan perbedaan status, simbol dan prestise sosial. Sistem demikian ini menjadi penanda kedatangan masyarakat konsumer, masyarakat yang haus mengkonsumsi segala sesuatu tidak hanya object-real, namun juga objek-tanda. Daerah pun juga akan menikmati perputaran uang yang pada akhirnya memanen semua potensi yang ada setelah sekian lamanya ditinggalkan menuju kultur kota.&lt;br /&gt;            Agama dan fesyen menjadi satu hal yang tak terpisahkan ketika hari raya keagamaan datang. Tak bisa dipungkiri lagi, bahwa hilir mudiknya informasi dalam bentuk iklan dengan memanfaatkan momen-momen penting keagamaan menjadi kemudahan dalam mengkonsumsi tanda maupun simbol sebagai lambang status sosial. Masyarakat yang mengkonsumsi tanda inilah masyarakat yang hidup dengan kemudahan dan kesejahteraan yang diberikan oleh perkembangan kapitalisme lanjut, kemajuan ilmu teknologi, ledakan media dan iklan. Tanda menjadi salah satu elemen penting bagi masyarakat konsumer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Agama Baru&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;            Masyarakat post-industry yang dicirikan oleh komunikasi, produksi dan konsumsi melimpahruah dalam bentuk iklan, televisi, fesyen dan sebagainya itu membuat kesadaran masyarakat atas segala jenis penanda, segala jenis makna menjadi sangat terbuka namun tidak dapat lagi merefleksikan kembali makna tersebut dalam kehidupan spiritualnya.&lt;br /&gt;            Toh, fungsi mobil pada hari raya keagamaan seperti menjelang Idul Fitri tidak lagi dilihat sebagai fungsi guna kemudahan transportasi, namun kehadirannya juga sebagai simbol makna keberadaannya diakui. Produk global lainnya juga memiliki fungsi serupa sebagai makna tanda dan masyarakat sebagai masyarakat konsumer sedang berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Hal demikian bila dibiarkan berlarut-larut akan memberikan inspirasi membuat ‘agama baru’, meski ‘agama’ itu tidak lagi ber-Tuhan.&lt;br /&gt;            Menjadi konsumtif tidak salah, namun bila ‘budaya’ konsumtif hingga membuat konsumerisme menjangkiti masyarakat yang sedang euphoria, maka bukankah kita sedang berada di tengah-tengah masyarakat yang beragama baru? agama konsumerisme skizofrenik!, sebuah pandangan ‘agama’ yang selalu mengkonsumsi produk sebagai wujud imbal balik dalam riuh rendahnya informasi produk, hilir mudiknya promosi iklan serta ramainya lintasan merek yang ada di benak konsumen. Tidak ada yang harus bertanggung jawab dalam hal ini, kecuali kesadaran kita untuk tetap kembali pada definisi yang hakiki makna hari besar keagamaan&lt;em&gt;.(obw)***&lt;/em&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754034272137851?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754034272137851/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754034272137851&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754034272137851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754034272137851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/ketika-agama-tidak-lagi-ber-tuhan.html' title='Ketika Agama Tidak Lagi Ber-Tuhan'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112754019134301345</id><published>2005-09-23T22:33:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:55:24.658-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book'/><title type='text'>Anak yang Bijak</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Suatu hari, ayah dari suatu keluarga yang sangat sejahtera membawa anaknya bepergian ke suatu negara yang sebagian besar penduduknya hidup dari hasil pertanian, dengan maksud untuk menunjukkan bagaimana kehidupan orang-orang yang miskin. Mereka menghabiskan waktu berhari-hari di sebuah tanah pertanian milik keluarga yang terlihat sangat miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari perjalanan tersebut, sang ayah bertanya kepada anaknya, "Bagaimana perjalanan tadi?" "Sungguh luar biasa, Pa.""Kamu lihat kan bagaimana kehidupan mereka yang miskin?" tanya sang ayah. "Iya, Pa," jawabnya. "Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan ini?" tanya ayahnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si anak menjawab, "Saya melihat kanyataan bahwa kita mempunyai seekor anjing sedangkan mereka memiliki empat ekor. Kita punya sebuah kolam yang panjangnya hanya sampai ke tengah-tengah taman, sedangkan mereka memiliki sungai kecil yang tak terhingga panjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memasang lampu taman yang dibeli dari luar negeri dan mereka memiliki bintang-bintang di langit untuk menerangi taman mereka. Beranda rumah kita begitu lebar mencapai halaman depan dan milik mereka seluas horison.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tinggal dan hidup di tanah yang sempit sedangkan mereka mempunyai tanah sejauh mata memandang. Kita memiliki pelayan yang melayani setiap kebutuhan kita tetapi mereka melayani diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita membeli makanan yang akan kita makan, tetapi mereka menanam sendiri.Kita mempunyai dinding indah yang melindungi diri kita dan mereka memiliki teman-teman untuk menjaga kehidupan mereka".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cerita tersebut, sang ayah tidak dapat berkata apa-apa. Kemudian si anak menambahkan, "Terima kasih, Pa, akhirnya aku tahu betapa miskinnya diri kita. "Terlalu sering kita melupakan apa yang kita miliki dan hanya berkonsentrasi terhadap apa yang tidak kita miliki".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kekurangan yang dimiliki seseorang merupakan anugerah bagi orang lain. Semua berdasar pada perspektif setiap pribadi. Pikirkanlah apa yang akan terjadi jika kita semua bersyukur kepada Tuhan atas anugerah yang telah disediakan oleh-Nya bagi kita, daripada kuatir untuk meminta lebih lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita dapat melihat bahwa bukan kebahagiaan yang membuat kita berterimakasih, namun rasa terimakasihlah yang membuat kita bahagia"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;----Albert Clarke-&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;----&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112754019134301345?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112754019134301345/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112754019134301345&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754019134301345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112754019134301345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/anak-yang-bijak.html' title='Anak yang Bijak'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112747699534051907</id><published>2005-09-23T05:00:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:51:18.586-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book'/><title type='text'>Rasavastha</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Dalam beberapa hitungan detik pengembaraanku telah mengikatku dalam bayangan hitam semu tak berbentuk dan tak berwarna. Berharap celah kecil di sudut ruangan itu dapat memancarkan cahaya dari luar…namun memang tak ada cahaya pada detik ini! Semakin kering tenggorokanku berharap ada keajaiban kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……………………………………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul sebelas lebih sepuluh dan matahari semakin bergerak ke tengah kepalaku. Merambat dalam energi yang tak terkira panasnya. Tidak ada pohon. Tidak ada awan. Panas, kalau tidak bisa dikatakan cerah. Aku masih terduduk di batang kayu yang sepertinya baru ambruk tadi malam. Aroma pohon kelapa yang baru dikenai air hujan terasa harum, meski tidak seharum hamparan tembakau di Wonosobo. Perahu di depanku pun terjajar rapi tidak melaut. Yang jelas aku sangat menikmati hari ini.&lt;br /&gt;            Perempuan di bibir pantai itu masih saja menunggu, tak peduli panas mendera. Tangannya mendekap dirinya sendiri, mungkin karena angin terlalu kencang bertiup. Toh rambut berombaknya yang merah terbakar itu tetap saja indah dipandang. Terurai melambai mengingatkanku pada poster Hari Perempuan Sedunia 1971 di Kuba karya seniman poster bernama Heriberto Echeverria. Dalam poster itu rambut panjang indah terurai tercampur dengan warna-warna cerah dan secerah perempuan yang ada di depanku itu.&lt;br /&gt;             Tapi, hei! dia terlihat gembira sekarang. Rupanya yang dinantikannya telah datang menampakkan ujung perahu di kejauhan sana. Nyanyian laut mengiringi kira-kira lima belas ribu kayuh lagi perahu itu sampai. Guratan kebahagiaan terlukis di wajah perempuan yang cantik namun beraura keras itu. “Hei!!! Cepatlah!!!”, teriak perempuan itu. Jelas saja angin mengaburkan kata-katanya hingga telinga orang yang dinantikannya tak menangkap sinyalnya.&lt;br /&gt;            Laut semakin membawa ke darat. Perahu itu semakin jelas bentuknya. Semakin dan semakin. “Asa! Aku datang!”, teriak pria yang belum kutahu namanya kecuali perempuan yang ternyata bernama Asa itu. Entah apakah hanya nama panggilan saja atau tidak. Entahlah. Dia tetap cantik dalam kebahagiaannya. Tersipu dia. Kini dia berdiri tidak tegak lagi, tapi mulai tak terdeteksi seperti anak remaja yang salah tingkah mendapat senyuman penuh arti dari lawan jenisnya.&lt;br /&gt;            Hari ini cuaca semakin panas namun tetap dingin melihat mereka.&lt;br /&gt;            Warna kuning perahu itu semakin kentara terlihat di antara percikan air laut yang juga seakan senang mengantar perahu sampai.&lt;br /&gt;            “Kamu bawa apa untukku?”. Perempuan itu tetap berteriak. Aku pun juga tetap tidak tahu nama pria itu. Tatapan mata pria itu tajam. Jarak mereka pun tinggal beberapa kayuh lagi. Air menggoyangkan perahu itu dan pria yang menaikinya menghempaskan dirinya ke air. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut pria itu meskipun aku yakin pasti telinganya mendengar teriakan perempuan itu. Ia terus menggerakkan badannya, berenang, air pun menutupi mukanya yang tampan. Rambutnya basah terurai dalam panjangnya.&lt;br /&gt;            Setelah sampai bibir pantai, dengan langkah terseret ia menyusuri bibir pantai yang telah mendingin di musim hujan tadi malam. Pasir-pasir yang hangat dan tajam lembut itu menyentuh kaki si pria. Dalam hitungan dua puluh detik pastilah ia akan berangkulan dengan Asa yang dipanggilnya tadi.&lt;br /&gt;            Sembilan belas detik....sepuluh detik...lima detik...dan hasrat mereka pun tersampaikan. Saling berpelukan hangat meski raga si pria semu terlihat. Kedinginan hati seakan lenyap terbentur oleh kokohnya batu karang yang semakin habis tergerus oleh dahsyatnya gelombang. Gelombang itu adalah hasrat mereka. Batu karang itu adalah terbatasnya mereka. Tak ada wujud. Tak ada badan. Badan seperti halnya badanku. Tak ada pemandangan itu. Hanya terlihat dua orang berpelukan, sang perempuan yang nampak dengan si pria yang tak tampak. Sambil berpelukan, air laut sesekali menyentuh kaki keduanya seakan mengganggu nakal mencoba menghentikan pemandangan terindah yang tak pernah aku lihat sebelumnya.&lt;br /&gt;            Tentu si Asa tidak konyol mendekap hangat wujud tak berwujud. Angin masih saja kencang menerpa keduanya. Perahu yang ditinggalkan si pria berayun mendekati bibir pasir.&lt;br /&gt;            Perlahan mereka melepaskan pelukannya. Hanya memandang. Tak ada percakapan. Sunyi. Hanya memandang saja. Aku teringat dengan masa dimana aku berada di suatu tempat tanpa tujuan, tanpa arah…hanya berjalan saja dan memandang ke depan.&lt;br /&gt;            Saling memandang kesunyian dan dalamnya hati yang bercinta. Dalam waktu yang hampir bersamaan mereka pun terduduk di atas pasir yang senantiasa setia memandang mereka. Seperti aku yang sedari tadi setia mengamati. Sekejap timbul iri terhadap mereka.&lt;br /&gt;            Si pria –yang masih saja belum kutahu namanya- dengan mata yang hampir tak berkedip tetap menawarkan kesunyian kepada Asa. Tangannya meraba baju warna birunya mencoba mengambil sesuatu. Asa hanya terdiam dengan senyumannya. Menanti. Menunggu. Tangan lelaki itu rupanya sudah menemukan dan dengan penuh misterius digenggamnya sesuatu itu dalam tangannya yang kuat. Asa seperti tertuntun melihat tangan lelaki itu. (Aku disini pun melihat dengan penuh harap...)&lt;br /&gt;            Sekejap aku melihat selintas ada sinar yang menyilaukan mata keluar dari kira-kira setengah centimeter diameter jepitan dari genggaman tangan itu. Apakah mungkin berlian. Semakin romantisnya mereka kalau benar. Apakah mungkin intan? Semakin bahagianya tentu. Atau apakah itu mutiara dari dasar laut?...aku tidak kuasa menahan haruku saking tersentuh oleh pemandangan itu. Aku tunggu saja toh tangan lelaki itu perlahan membuka genggamannya. Semakin membuka dan semakin aku ingin tahu saja.&lt;br /&gt;            Terlihat perempuan itu kaget, terpana dan tak menduga. Tampak pula tidak ada guratan kekecewaan dari rautnya. Tidak ada penampakan sakit hati dari mukanya yang biasanya nampak pada wajah berharap pada sesuatu tapi tidak terjadi. Tidak ada kekecewaan selain kedua tangan Asa menutup mulutnya yang penuh kekagetan. Berarti apa yang dibawa lelaki itu sangat berharga bagi perempuan itu. Berarti sangat berarti.&lt;br /&gt;            Masih dengan terpananya Asa, tampak telunjuk lelaki itu menggoreskan sesuatu di pasir. Menuliskan sesuatu. HANYA INI. Itu yang dituliskannya. Goresan kata dengan tipografi yang kuat dari dasar hati. Tak mungkin ditiru oleh deretan font seperti di komputerku, karena tulisan itu sangat bermakna...tak mungkin juga mengulanginya. Momennya sungguh terasa. Tak mungkin aku meniru tulisan yang mirip seni menulis indah itu, yang kata temanku di kantor dinamai kaligrafi. Tak mungkin.&lt;br /&gt;            Masih gusar aku apa yang dibawanya sehingga ia menuliskan HANYA INI. Tangan Asa pun mencoba dekat dengan benda itu. Sangat menyilaukan mata benda di tangannya. Asa pun meraih benda itu dan perlahan mengangkatnya ke atas ke arah matahari yang kini tepat di ubun-ubunku. Sambil tersenyum Asa kepada lelaki itu. Senyum dengan tetesan air mata. Senyum dengan hati yang gembira dan haru bercampur jadi satu.&lt;br /&gt;            Benda itu berada di depan matahari, di depan pusat energi. Tak ada kata-kata lagi di antara mereka selain keduanya menatap benda yang mirip kaca mengingatkanku pada botol kaca Coca Cola yang tersohor itu. Branding yang kuat sehingga aku mampu mengingat merek itu. Korban iklan mungkin aku ini. Ya benar...itu kaca yang diambil dari dasar botol Coca Cola. Botol minuman berkarbonasi, bersoda. Tapi terlihat sangat halus pinggirnya, tidak kasar seperti kalau botol pecah, tapi halus bahkan sangat halus. Halus seperti tangan Asa yang memegangnya. Tak ada yang istimewa buatku.&lt;br /&gt;            “Tunggu spektrumnya, nanti akan keluar terlihat!”. Sepertinya telingaku dibawa dekat dengan mereka, entah bagaimana aku bisa mendengar pria itu berucap pada Asa. Kekuatan angin mungkin. Spektrum? Apa sih istimewanya?...masih saja pertanyaan itu mengendap dalam pikiranku.&lt;br /&gt;            Tak berapa lama, apa yang dimaksudkan lelaki itu mulai tampak. Spektrum warna yang indah yang bagiku sangat bagus. Spektrum seperti pelangi yang berputar. Asa semakin tersenyum lebar bersuara. Manja. Mungkin tak pernah ia menjumpai itu, kecuali pelangi yang datang tiap habis hujan.&lt;br /&gt;            “Ia akan menemani kamu selama aku tidak ada. Ia jugalah yang akan selalu menghampirimu di sini. Ia Rasavastha. Ia yang akan menemani kamu menikmati keindahan agar kamu menemui kebahagiaan murni. Aku sungguh ingin nyata bagimu, tapi tidak bisa.“ Lelaki itu berucap sambil menyeka Asa yang terus memandangi spektrum itu sambil meleleh air matanya.“Rasavastha akan menemanimu kini. Ia akan memancarkan spektrum bagimu. Keindahannya seperti kebahagiaan kita!“, lanjut lelaki yang kini mendekap penuh hangat Asa. Asa pun semakin tak kuasa menahan derai air matanya. Kenyataan yang didapatinya adalah bahwa tidak ada lagi bayangan semu lelaki itu yang setiap hari ditungguinya di bibir pantai ini.&lt;br /&gt;            Tidak akan ada lagi bayangan putih penuh kharisma yang tiap hari berperahu. Tidak akan ada lagi. Tapi tiap hari ia akan mengeluarkan spektrumnya. Spektrum yang sangat halus memberi cinta. Wujud semu lelaki itu perlahan menghilang dalam pelukan Asa dan Asa merasakannya.&lt;br /&gt;            Asa sendirian.&lt;br /&gt;            Asa bersama spektrum itu. Rasavastha.&lt;br /&gt;            Dan sampai kini pun aku belum tahu nama lelaki itu dan siapa dia. Tapi tak apalah. Ia juga memberi spektrum bagiku. Spektrum yang terus dipandangi Asa. Terus dipandangi. Masih dipandangi dan Asa yang masih menangis. Semakin dia menangis terasa olehku spektrumnya semakin panjang. Semakin panjang menuju ke arahku. Aku tak merasakan silau padahal kilaunya menyakitkan mata bagi orang yang tak tahan sinar. Semakin panjang dan terus mencolok mataku.&lt;br /&gt;            Kepalaku semakin pening, tapi mataku terus terbuka melihat spektrum indah itu. Aku seperti dibawa ke imajinasi tak henti. Imajinasi yang berputar-putar. Pening kepalaku berubah pusing dan aku tidak tahu lagi aku dimana...Rasavastha membawaku ke alam imajinasi lain, alamnya Salvador Dali yang persis di lukisan surealismenya. Tak terlihat lagi Asa. Kepalaku tambah pusing dan semakin gelap….aku ada di lukisannya Dali. Sungguh aku seperti di kanvas…&lt;br /&gt;            Terlihat di sana lelaki itu. Lelaki itu kini tersenyum ke arahku. Menyambutku. Tapi aku tetap tidak tahu namanya...dan....aku juga melihat Asa! Asa berdiri di sampingnya. Sangat cantik dia.&lt;br /&gt;            Dan aku tetap tidak tahu nama lelaki itu...dan PLAK!!!&lt;br /&gt;Dalam beberapa hitungan detik pengembaraanku telah mengikatku dalam bayangan hitam semu tak berbentuk dan tak berwarna. Berharap celah kecil di sudut ruangan itu dapat memancarkan cahaya dari luar…namun memang tak ada cahaya pada detik ini! Semakin kering tenggorokanku berharap ada keajaiban kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                               Surabaya, 6 Juni 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; “Art is the creation of form symbolic of human feelingy” (Susanne Langer).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112747699534051907?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112747699534051907/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112747699534051907&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112747699534051907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112747699534051907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/rasavastha.html' title='Rasavastha'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17037878.post-112747367442013271</id><published>2005-09-23T04:06:00.000-07:00</published><updated>2007-11-21T06:55:24.659-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book'/><title type='text'>Membuka Jendela</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Bila engkau sudah dibatas senja, bicaralah!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Bila tak terdengar lagi kicauan burung, katakanlah!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Bahkan bila engkau sudah tak tegak berdiri, teriak saja!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Agar aku bisa menemanimu dengan hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;dan aku pun mampu membuka mata...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17037878-112747367442013271?l=bergerilya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergerilya.blogspot.com/feeds/112747367442013271/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17037878&amp;postID=112747367442013271&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112747367442013271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17037878/posts/default/112747367442013271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergerilya.blogspot.com/2005/09/membuka-jendela.html' title='Membuka Jendela'/><author><name>:::..Obed..:::</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05581699521022175440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i8.photobucket.com/albums/a28/wicandra/gerilya.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
